------------------------------------------------------------------------------------------------------
RIZAL FAHMI SYATORI, Gempol, Radar Bromo
------------------------------------------------------------------------------------------------------
SEJAK 1996, Astono menjadi jupel Sumber Tetek atau Candi Belahan di Belahan Jowo, Desa Wonosunyo, Kecamatan Gempol, Kabupaten Pasuruan. Saat itu, jumlah jupel di Sumber Tetak ada empat orang. Termasuk dirinya.
Astono sendiri sebelum diterima menjadi jupel, baru saja menikah. Usianya masih 21 tahun saat itu. Warga Dusun Belahan Nongko, Desa Wonosunyo, Kecamatan Gempol, itu masih kerja serabutan. Namun, dia memang tertarik pada candi dan benda cagar budaya lainnya.
Tiba-tiba dia mendapat kabar bahwa Sumber Tetek butuh tambahan jupel. Dia pun mendaftar dan diterima. Lalu pada 2007, dia diangkat menjadi PNS.
Sebagai jupel saat itu, Astono harus berjaga di Sumber Tetek. Juga berjaga di Gapura 1 dan 2 di candi itu. Karena lokasinya berbeda, dia bersama tiga jupel yang lain berbagi tugas untuk berjaga di tiga lokasi itu.
“Tugasnya jupel itu merawat, melestarikan, menjaga, dan melindungi cagar budaya. Sepertinya sepele, tapi ini tidak mudah,” beber bapak dua anak itu.
Sejak 2022, Astono mendapat tugas tambahan dari BPK XI Jatim. Dia dipercaya menjadi koordinator jupel cagar budaya wilayah Kabupaten Pasuruan. Menggantikan Pawiji, koordinator jupel sebelumnya yang pensiun.
Dengan tambahan tugas itu, tanggung jawabnya otomatis bertambah berat. Sebab, sebagai koordinator, dia harus keliling untuk memonitor dan mengawasi situs-situs dan cagar budaya yang ada di wilayah kerjanya.
“Tiap hari saya stand by di Sumber Tetek karena ada tugas tambahan sebagai koordinator jupel. Dalam sebulan saya keliling ke semua cagar budaya. Antara dua sampai lima kali. Bisa lebih juga. Sambil keliling, saya juga koordinasi dengan semua jupel,” ungkapnya.
Cagar budaya yang masuk dalam pengawasannya ada 14. Antara lain, Candi Belahan, Gapura 1 dan 2 Candi Belahan, Candi Gunung Gangsir, Candi Jawi dan Keboireng. Kemudian, Situs Raos Pecinan, Watu Banteng, Banyu Biru, Candi Sepilar, dan Indrokilo.
“Total ada 14 cagar budaya masuk dalam monitoring saya sebagai koordinator jupel. Saya membawahi dan mengoordinasi 18 jupel. Ada yang PNS dan honorer,” jelasnya.
Pekerjaannya menjadi jupel dan koordinator terbilang lancar. Selain sudah menganggap sebuah panggilan dan pengabdian, keluarganya senantiasa mendukungnya.
Selama menjadi jupel maupun koordinator, Astono punya banyak pengalaman. Baik suka dan duka, baginya hal itu sudah biasa. “Sukanya ada banyak kenalan dan teman,” katanya.
Selain itu, dia sering keluar masuk ke lokasi cagar budaya yang ada di hutan. Baik dengan naik motor maupun jalan kaki. Jatuh, terpeleset, kehujanan, ban motor bocor, adalah salah satu yang sering dialaminya selama keluar masuk hutan.
Bahkan, pengalaman mistis sering dia jumpai selama di lokasi cagar budaya. Namun, hal itu tidak membuatnya takut. Baginya, lumrah saja.
“Namanya jaga cagar budaya yang notabene bangunan lama, tidak luput dari kejadian mistis,” katanya.
Sepintas bertemu dengan sosok yang menyerupai putri dan prajurit kerajaan sering dialaminya. Bertemu dengan sosok lain juga sering. Bahkan, dia juga pernah mendapat batu akik dan sejenisnya di lokasi cagar budaya.
Di usianya yang tidak muda lagi, Astono hanya berkeinginan menjalankan tugas dengan penuh tanggung jawab. Baginya, profesinya itu bukan hanya pekerjaan. Namun, juga panggilan jiwa dan sebuah pengabdian. (hn) Editor : Ronald Fernando