Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Mengenal Dandim 0819 Pasuruan yang Baru Letkol Arh Noor Iskak

Ronald Fernando • Kamis, 5 Januari 2023 | 18:30 WIB
Letkol Arh Noor Iskak foto di bawah patung untung soeropati di halaman Kodim 0819 Pasuruan. (Mukhamad Rosyidi/ Radar Bromo)
Letkol Arh Noor Iskak foto di bawah patung untung soeropati di halaman Kodim 0819 Pasuruan. (Mukhamad Rosyidi/ Radar Bromo)
Pucuk pimpinan Kodim 0819 Pasuruan berganti. Letkol Arh Noor Iskak memimpin di sana yang merupakan putra bungsu dari pensiunan guru di Jawa Tengah.

 -----------------------------------------------------------------------------------------------

MUKHAMAD ROSYIDI, Pasuruan, Radar Bromo

------------------------------------------------------------------------------------------------------

CUACA sedang cerah, Rabu (4/1) pagi itu. Beberapa tentara berdiri di pos depan rumah dinas Dandim 0819 di Jalan Veteran, Kota Pasuruan. Terlihat juga di parkiran beberapa tentara lain yang hendak dinas luar. Sementara di depan rumah dinas, Letkol Arh Noor Iskak sedang berbincang dengan anggotanya.

"Saya hampir 10 hari di sini (Pasuruan. Red). Jadi masih keliling untuk silaturahmi," kata pria yang akrab disapa Iskak itu memulai pembicaraan dengan Jawa Pos Radar Bromo.

Ramah, mudah tersenyum, dan berwiba. Demikian sekilas tentang ayah dua anak itu. Sebelum diberikan amanah untuk menduduki jabatan Dandim, ia bertugas di Arhanudse 8 Sidoarjo. Di sana, ia menjabat sebagai Komandan Bataliyon (Danyon).

Karirnya terhitung cemerlang. Jabatan-jabatan penting pernah dia emban. Mulai dari Danramil Longbujungan di Malino, Kalimantan Utara (Kalut); Danton di Arhanudse 13 Pekanbaru, hingga Kasi Opsdik di Pusdik dan Kabag Litbang Insani di Arhanud 8.

Dari semua tugas yang pernah dijalaninya, tugas awal adalah yang paling diingatnya. Tepatnya setelah lulus dari pendidikan Akademi Militer (Akmil) Semarang. Ia ditugaskan sebagai penjaga perbatasan, yaitu sebagai Danramil Longbujungan, Malino, Kalut.

Menurutnya, untuk mencapai lokasi dibutuhkan waktu dua hari satu malam dari pusat kota. Bukan melalui jalur udara atau darat. Tapi, dengan menyusuri sungai menggunakan perahu kayu yang disebut longboot.

"Dari pusat kota ke lokasi itu dua hari satu malam. Itu perjalanannya sangat menegangkan. Karena memang pedalaman ya. Perbatasan," kenang pria yang kini berusia 43 tahun itu.

Meskipun aksesnya ekstrem, itu dijalaninya selama satu tahun. Waktu itu, Koramil Longbujungan punya empat anggota.

"Saya masih bujang kala itu. Jadi ya terabas saja. Tugas di manapun oke. Sampai sekarang punya istri dan anak juga siap selalu ketika ditugaskan di manapun," tuturnya.

Iskak sendiri anak dari almarhum Marno dan Wiji Astuti yang berprofesi sebagai tenaga pendidik. Tak ada garis keturunan sebagai prajurit negara. Tapi, saat duduk di kelas 3 SMA, ia bertekad untuk menjadi prajurit.

"Waktu itu ada kakak kelas yang sudah lulus. Ia datang di acara sekolah dengan memakai baju dinas. Dari situ keinginan saya untuk jadi TNI semakin besar. Namun, memang saya ingin jadi TNI," katanya mengingat masa lalu.

Dari situ, lantas dengan mantap ia mendaftar ke Akmil setelah lulus SMA pada 1997. Sayang, meskipun sudah berlatih, ia tak berhasil masuk. Kegagalannya diyakini karena faktor kesehatan.

Namun, ia tidak menyerah. Sambil bekerja serabutan, Iskak menyiapkan diri mendaftar lagi tahun berikutnya.

"Saya beritahu orang tua. Katanya tidak apa-apa gagal. Tahun depan bisa coba lagi," tuturnya mengingat nasehat orang tuanya.

Kesempatan kedua ia yakin bakal lolos. Tapi, takdir berkata lain. Lagi-lagi Iskak gagal. Jika ditotal, ia sudah tiga kali gagal sampai tahun 1999.

Toh, Iskak setia dengan cita-citanya. Maka pada 2000 yang merupakan kesempatan terakhirnya, dia kembali mendaftar. Saat itu, dia berusia 21 tahun dan berdagang pakaian. Jika tak lolos, Iskak berniat terus bekerja berjualan pakaian.

"Alhamdulillah ternyata lolos. Dari situ kemudian saya lulus Akmil pada 2003," kata pria kelahiran Batang, Jawa Tengah, itu.

Ia sendiri tak menyangka bisa lolos. Tapi, perjuangannya memang benar-benar patut diacungi jempol. Sebab, selama gagal ia tak putus asa. Di sela-sela berkerja, ia terus melatih fisik. Pagi dan sore.

"Kalau anak sekarang nggak lolos sekali sudah nyerah. Kalau saya empat kali baru diterima," katanya tertawa.

Bagaimana kehidupan asmaranya? Iskak mengaku mendapat pesan khusus dari ibunya agar menikah dengan perempuan dari Jawa.

Bukan tanpa sebab. Ibunya ingin, Iskak bisa rutin pulang kampung ke Batang. Setidaknya bila beristri perempuan Jawa, pulang kampung pun tetap sama-sama ke Jawa walaupun Iskak bertugas di luar Jawa. Pesan ibunya itu membuatnya tak mencari pasangan dari luar Jawa, meskipun pernah bertugas di sana.

"Pesan ibu begitu. Meskipun pernah bertugas di luar Jawa, ya saya tetap pegang itu. Ternyata benar. Apalagi kami liburnya kan sebentar," ujarnya tersenyum.

Iskak akhirnya menikah saat bertugas di Pekanbaru. Istrinya asal Klaten, yang dikenalinya berkat coblang dari rekan sejawat.

"Istri saya Ayu Dede Krisnawati, usia kami terpaut delapan tahun. Saya dikenalkan teman dan saat itu istri saya masih kuliah," ungkapnya.

Kini mereka dikaruniai dua putri. Namira Mega Nareswari, 12, dan Naura Lintang Nareswari, 10. Setiap kali pindah tempat tugas, keluarganya selalu diajak. Konsekuensinya, kedua anaknya yang masih sekolah dasar memang harus pindah-pindah tempat.

"Nggak masalah. Pindah sekolah kan yang dikhawatirkan adalah kehilangan teman. Karena itu, saya tekankan tidak usah khawatir. Karena sekarang zamannya teknologi. Teman akan terus tersambung dan akan mendapatkan teman baru," tandasnya. (hn) Editor : Ronald Fernando
#kodim 0819