INDROKILO selama ini lebih dikenal sebagai tempat pertapaan. Tidak heran, tempat ini jadi jujukan warga yang ingin tirakat.
Lokasinya di lahan Perhutani. Berada di lereng Gunung Ringgit dengan ketinggian 1.424 meter di atas permukaan air laut (dpl). Masuk Dusun Talungnongko, Desa Dayurejo, Kecamatan Prigen.
Dengan lokasi itu, hawa di Indrokilo selalu sejuk. Pagi dan siang hari suhunya sekitar 21-25 derajat Celsius. Sementara malam hari lebih dingin lagi, 17-19 derajat Celsius.
Tidak sekadar tempat pertapaan. Sejumlah candi bisa ditemui di Indrokilo. Ada Candi Satrio Panggung, Mintorogo, Celeng Srenggi, Mundi Sari, Panji Saputra, dan Dewi Suprobowati.
Juga terdapat banyak arca di sana. Termasuk petilasan Batu Kursi yang konon merupakan tempat Presiden RI Pertama Soekarno bertapa.
“Kami dan warga sekitar menyebutnya Pertapaan Indrokilo. Satu kawasan di dalamnya banyak terdapat candi, petilasan dan juga arca,” ungkap Rasid, juru pelihara sekaligus ketua Pokdarwis Panji Laras Dayurejo.
Indrokilo sendiri dipercaya tempat para dewa dan punggawa-punggawanya untuk bertapa. Mengheningkan cipta, menghadap Ilahi.
“Tidak bisa dibilang dari kerajaan mana. Cerita dari nenek moyang kami Indrokilo ini tempat pertapaan Betara Indra,” tuturnya.
Karena tempatnya sakral, masyarakat umum menjadikan tempat ini sebagai jujukan bertapa. Juga melakukan ritual, sekaligus ngalap berkah.
“Orang yang datang ke sini kebanyakan karena musibah. Ada juga yang karena ingin mencapai keinginan tertentu. Seperti untuk karir, keluarga, dan yang lain,” jelasnya.
Pengunjung yang datang berasal dari berbagai daerah, bahkan sampai luar Jawa. Umumnya mereka datang di hari Sabtu malam Minggu. Tempat ini makin ramai di hari Kamis Kliwon malam Jumat Legi, dan malam Satu Suro. Bahkan, seringkali pejabat berdatangan ke lokasi itu.
“Paling sering pengunjungnya dari sekitaran Pasuruan, Malang, dan Jogjakarta. Paling banyak dari Bali. Pengunjung semuanya yang datang rata-rata menginap, paling lama tiga hari. Di sini mereka bertapa dan ngalap berkah,” imbuhnya.
Perjalanan ke Indrokilo, dari perkampungan warga di Dusun Talungnongko sekitar 3,8 kilometer. Satu kilometer melewati jalan setapak dengan permukaan plester atau cor. sisanya 2,8 kilometer makadam atau masih berupa tanah padat.
“Pegunjung ke Indrokilo diwajibkan membawa bekal air minum sendiri. Sebab, di atas tidak ada sumber mata air,” ucap Rasid.
Umumnya, pengunjung ke Indrokilo jalan kaki. Ada juga yang naik ojek atau naik kuda tunggang. Namun, jasa yang harus dibayar cukup mahal. Sekitar Rp 350 ribu sekali jalan.
Di Indrokilo, pengunjung bermalam di pondokan sederhana berupa bangunan semipermanen. Sekaligus juga sebagai tempat berteduh.
“Ada pantangan perjalanan ke Indrokilo, di antaranya tidak boleh mengeluh capek, dilarang bicara kotor, dilarang meminta yang bertujuan buruk. Makhluk astralnya banyak sekali,” ujarnya.
Mulai 2017, pertapaan Indrokilo dikelola Pokdarwis Panji Laras, Desa Dayurejo. Namun, dalam pengelolaannya, tetap di bawah naungan BPCB Jatim.
Pemerhati Sejarah dan Budaya Teguh Hariawan asal Prigen mengatakan, Indrokilo merupakan kawasan cagar budaya peninggalan era Kerajaan Majapahit akhir. Tempat ini dulu juga jadi tempat Bung Karno atau Soerkano, presiden pertama RI untuk mencari inspirasi.
Seluruh candi dan arca di Indrokilo juga termasuk cagar budaya. Candi di Indrokilo termasuk bertipe punden berundak.
“Candi model demikian ini muncul di masa Majapahit akhir. Sebagai salah satu cara pemujaan kepada roh leluhur yang diyakini bersemayam di puncak-puncak gunung,” jelasnya. (rizal f. Syatori/hn) Editor : Ronald Fernando