Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Desa Binor, Tempat Istirahat Damar Wulan sebelum ke Blambangan

Jawanto Arifin • Sabtu, 11 Desember 2021 | 16:45 WIB
DULU PELABUHAN ALTERNATIF: Pesisir pantai binor yang dahulu dikenal sebagai tempat kalangan saudagar bertemu. (Foto: Agus Faiz Musleh/Jawa Pos Radar Bromo)
DULU PELABUHAN ALTERNATIF: Pesisir pantai binor yang dahulu dikenal sebagai tempat kalangan saudagar bertemu. (Foto: Agus Faiz Musleh/Jawa Pos Radar Bromo)
BANYAK cerita tentang asal usul nama sebuah tempat yang dipercaya berasal dari kondisi wilayah atau atas dasar sebuah kejadian. Seperti Desa Binor di Kecamatan Paiton yang dipercaya sebagai persinggahan Damar Wulan.

Damar Wulan adalah seorang pemuda yang mengabdi kepada Patih Loh Gender. Dia hidup pada masa pemerintahan Prabu Sri Suhita atau Ratu Ayu Kencana Wungu tahun 1427-1447 Masehi.

Di kemudian hari, dia mengikuti sayembara yang digelar Ratu Ayu Kencana Wungu untuk mengalahkan Adipati Blambangan (Banyuwangi) Minak Jinggo yang melakukan pemberontakan terhadap Majapahit. Pada akhirnya, Damar Wulan tidak hanya berhasil mengalahkan Minak Jinggo. Namun, juga berhasil membunuhnya.

Dalam perjalanan menuju Blambangan itulah, Damar Wulan singgah untuk istrirahat di Desa Binor saat ini. Lokasinya di Kecamatan Paiton, Kabupaten Probolinggo. Nama Binor ini diyakini berasal dari kisah Damar Wulan saat singgah di desa ini.

Zainal, 40, pembina Karang Taruna Desa Binor (Katabi) mengatakan, warga desanya sudah mahfum dengan cerita tentang asal usul Desa Binor. “Semua warga Binor tahu cerita itu. Sebab, itu turun temurun disampaikan sesepuh desa,” ujarnya.

Menurutnya, suatu malam Damar Wulan sampai di Desa Binor. Saat itu, dia sedang dalam perjalanan ke Blambangan.

“Karena sudah malam di sini (Binor), dia pun istirahat dan tertidur di sini,” katanya.



Esok harinya, Damar Wulan terbangun karena sinar matahari di timur mengenai kulitnya. Saat terbangun dari melihat matahari, kata pertama yang keluar dari Damar Wulan yaitu “Binar”.

“Damar Wulan terbangun saat matahari mulai terbit. Kemudian mengucapkan kata “binar”. Nah, dari kata binar ini kemudian menjadi Binor,” ujarnya.

Binar sendiri, menurutnya, berasal dari kata Madura yang artinya terang. Maksudnya yaitu matahari terang atau sudah siang.

“Kalau bahasa Madura, Binar artinya terang. Kalau bahasa Arab, Nar artinya neraka. Sementara Nur artinya cahaya. Jadi, asumsinya tidak jauh beda. Menjadi terang atau matahari sudah muncul,“ ujarnya.

Sejak saat itu, desa yang disinggahi Damar Wulan disebut Desa Binor. Terlepas dari asal usul nama Desa Binor, warga setempat percaya bahwa Desa Binor merupakan tempat turunnya para saudagar dari sejumlah negara.

Hal itu dikuatkan dengan sejumlah bujuk atau pembabat desa yang memiliki nama dari salah satu barang. Seperti Bujuk Genteng di Dusun Krajan; Bujuk Talang di Dusun Krajan; dan Bujuk Penai di Dusun Pesisir.

“Sejumlah Bujuk atau orang yang membabat desa ini dinamai sesuai dengan profesinya. Misalnya Genteng, Penai, dan Talang itu kan nama profesinya,” katanya.



Bahkan, dulu di Dusun Pesisir, Desa Binor, ada sungai yang berhilir ke laut. Sungai ini sering banjir. Dan seiringnya berjalan waktu, aliran sungai melebar sehingga lurus melewati desa tetangga.

“Sungai itu menjadi pembatas desa, dulu melewati Dusun Pesisir. Namun saat ini kondisinya sudah melintas di Desa Sumberrejo,” katanya.

Di sungai yang berhilir ke laut itu, banyak kapal saudagar yang berlabuh. Berjejer di sungai. Intinya, saat itu sungai tersebut menjadi pelabuhan alternatif bagi para saudagar. Saat ini, pesisir pantai Binor masih mejadi tempat kapal nelayan bersandar.

Cerita bahwa sungai di Dusun Pesisir itu merupakan tempat para saudagar bersandar juga dibuktikan dengan adanya Bujuk Ongkolan. Bujuk Ongkolan adalah salah satu bujuk yang keramat.

“Ceritanya Bujuk Ongkolan ini dari Persia. Jika memang benar, maka bisa jadi Dusun Pesisir ini dulunya adalah pelabuhan alternatif,“ ujarnya.

Bujuk ongkolan sendiri dipercaya masyarakat sebagai bujuk keramat. Pada tahun 1990-an, bujuk tersebut akan diratakan dengan sejumlah alat berat. Namun, selalu gagal. Malah alat berat yang digunakan akhirnya rusak.

“Ada saja yang rusak. Sehingga disebut Bujuk Ongkolan atau tidak boleh sembarangan di lokasi makam tersebut,” tuturnya.



Zainal mengatakan, total ada 41 bujuk di Binor. Saat diadakan selamatan desa, keseluruhan bujuk disebut namanya untuk didoakan.

“Semuanya disebut saat selamatan desa. Jadi, sangat banyak. Yang paling keramat memang Bujuk Ongkolan yang ada di Dusun Pesisir itu,” ujarnya. (agus faiz musleh/hn) Editor : Jawanto Arifin
#pantai binor #asal usul #desa binor