Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Jejak Sejarah Rumah Dinas Bupati Probolinggo yang Diyakini Sudah Jadi Pusat Kegiatan sejak Zaman VOC

Achmad Arianto • Minggu, 10 Desember 2023 | 16:35 WIB
CAGAR BUDAYA: Area pendapa dan Rumah Dinas Bupati Probolinggo. Nampak dua Meriam peninggalan VOC.
CAGAR BUDAYA: Area pendapa dan Rumah Dinas Bupati Probolinggo. Nampak dua Meriam peninggalan VOC.

KABUPATEN Probolinggo merupakan salah satu wilayah penting pada zaman Hindia Belanda. Tak heran jika masih banyak tersisa bangunan peninggalan zaman kolonial tersebut. Salah satunya, kompleks rumah dinas Bupati Probolinggo dan pendapa.

Pendirian rumah dinas Bupati Probolinggo tidak bisa lepas dari sejarah panjang Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC). Bermula dari perjanjian tahun 1705 pada masa VOC dan penguasaan Belanda atas wilayah Probolinggo.

Perjanjian tersebut memiliki tujuan tidak lain untuk menumpas perlawanan Untung Suropati. Pakubuwono I kemudian meminta bantuan kepada VOC. Dalam Perang Suksesi Jawa I itu, VOC mendapat daerah Cirebon, Priangan, dan separo bagian Timur Pulau Madura.

Selanjutnya setelah Perang Cina berakhir pada tahun 1743, seluruh daerah pantai Utara Jawa yang di dalamnya termasuk Probolinggo dan seluruh Pulau Madura jatuh ke tangan Kompeni.

MASIH DIMANFAATKAN: Pendapa di depan rumah dinas Bupati Probolinggo.
MASIH DIMANFAATKAN: Pendapa di depan rumah dinas Bupati Probolinggo.

Lantas, kemudian Ngabehi Djojolelono diangkat sebagai bupati pertama Probolinggo yang memerintah atas nama kompeni pada tahun 1746-1768. Pada masa inilah segala fasilitas yang diperlukan selama berada di Probolinggo dipenuhi.

Termasuk rumah yang digunakan untuk hunian sekaligus mengatur pemerintahan. “Dari catatan sejarah yang ada. Rumah dinas yang ada memang menjadi tempat penting sejak bupati pertama. Kegiatan yang ada dipusatkan pada rumah tersebut. Termasuk menerima tamu penting,” ujar Kabid Kebudayaan pada Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Probolinggo Sulaiman.

Seiring dengan berjalannya waktu, dinamika politik dan pemerintahan terjadi. Hingga akhirnya masa jabatan bupati pertama selesai. Kemudian dilanjutkan oleh Raden Tumenggung Djojonegoro.

 

Di bawah kepemimpinannya, Probolinggo mampu memperluas wilayah dengan bantuan penduduk Madura. Bertambahnya luas wilayah, tentunya tanah yang ditanami rempah menjadi lebih luas.

Diikuti pula oleh peningkatan hasil sawahnya. Hal ini kemudian membuat kontingent dan cukai yang mengalir ke Kompeni lebih banyak. Sehingga berdampak pada kemakmuran masyarakat setempat.

Raden Tumenggung Djojonegoro atau disebut Kyai Sepuh yang berasal dari Surabaya memerintah Kabupaten Probolinggo selama 37 tahun (1768-1805).

Selama memerintah, ia mampu menciptakan kondisi tenang dan masyarakat menjadi lebih makmur. Bupati ini sangat dekat dengan rakyat kemudian menyebutnya dengan nama Kanjeng Jimat.

“Pada saat berganti bupati, rumah dinas tetap dijadikan pusat pemerintahan dan kegiatan. Bupati Djojonegoro juga dikenal berwibawa dan merakyat,” tutur Sulaiman.

Sulaiman menjelaskan, dalam kajian Cagar Budaya pembangunannya, diyakini bersamaan dengan tahun pengangkatan Bupati pertama antara tahun 1746-1750. Hal itu dari analisa dan penelitian yang pernah dilakukan.

Terdapat dua meriam depan Pendopo Kabupaten (sisi sebelah utara, Red). Meriam sisi sebelah barat bertuliskan tahun 1768 dengan label VOC. Berukuran panjang 120 cm dengan diameter belakang 20 cm dan moncong diameter 10 cm. Angka tahun tersebut sebagai penanda tahun pemerintahan Djojonegoro sebagai Bupati kedua yang diangkat VOC.

Meriam kedua yang berada pada sebelah timur bertuliskan tahun 1766. Memiliki ukuran sama. Tahun yang terdapat pada meriam ini sebagai penanda tahun pemerintahan Djojolelono sebagai Bupati pertama yang diangkat VOC.

Kedua meriam tersebut diberikan atas jasa bupati membantu VOC dalam meningkatkan hasil bumi dan pemasukan pajak. Juga berjasa dalam penyerangan Surapati di Malang.

“Untuk memastikan sejarah yang ada memang perlu ada kajian yang cukup mendalam. Tidak menutup kemungkinan akan ada penambahan sejarah yang ada. Melengkapi data sejarah yang diperoleh sebelumnya,” bebernya.

DIYAKINI ORISINAL: Area pendapa yang kayu-kayunya disebut-sebut masih orisinal.
DIYAKINI ORISINAL: Area pendapa yang kayu-kayunya disebut-sebut masih orisinal.

Sebagian Besar Masih Orisinal

Kompleks rumah dinas Bupati Probolinggo sampai saat ini masih terjaga dengan baik. Memiliki nilai histori yang cukup tinggi. Konstruksinya masih kokoh sehingga tetap difungsikan.

Namun demikian, terdapat beberapa penyempurnaan bangunan. Menyesuaikan dengan perkembangan pemerintahan dan kebutuhan pengguna bangunan.

Koordinator Rumah Tangga pada Bagian Umum Setda Kabupaten Probolinggo Andik Kurniawan mengatakan, ada dua bangunan yang masih asli. Yakni pendopo dan rumah Dinas Bupati.  Pendopo memiliki konstruksi mayoritas berupa kayu. Saat ini difungsikan sebagai tempat untuk pertemuan. Mulai dari pelantikan hingga sosialisasi yang mengundang banyak orang.

“Pilar yang ada ditengah pendopo itu masih asli. Dari kayu jati belum pernah diganti sejak dulu. Saat ini kondisinya masih kokoh,” katanya.

Kemudian rumah dinas yang berada persis di sisi sebelah selatan bangunan intinya masih asli tidak ada perubahan. Bangunan ini memiliki 6 ruangan. Diantaranya ruang peringgitan luar dan dalam. Kemudian ruang makan VIP. Ruang peringgitan dan ruang makan VIP. Sering digunakan untuk menerima dan mejamu tamu penting.

Serta, terdapat 3 kamar yang digunakan sebagai tempat beristirahat. Sementara itu sisi samping rumah dinas sudah terdapat penyesuaian ruangan. Kantor rumah tangga sisi sebelah timur dan barat ruang ajudan.

“Selain bangunan, ada juga benda yang masih orisinal. Yakni meriam yang ada depan pendopo,” ucapnya.

Andik menjelaskan jika bangunan yang ada tersebut sepenuhnya masih orisinal. Tidak ada perubahan. Sehingga perlu ada perawatan berkala agar struktur bangunan tetap kokoh.      Mulai dari pembersihan bangunan skala kecil. Seperti membersihkan tembok dan mengepel lantai. Sementara untuk perawatan secara menyeluruh dilakukan saat ada kerusakan.

Saat itulah mulai dilakukan pengecekan kondisi bangunan dan sudut-sudut bangunan lain yang mudah rusak. Jika semua kondisinya sudah baik pengecatan pada bangunan dilakukan agar terlihat lebih terawat.

“Kalau perawatan khusus tidak ada. Mungkin hanya disapu dan dibersihkan setiap hari. Pemeliharaan dilakukan saat sudah ada bagian yang rusak. Saat itulah pengecatan bangunan juga turut dilakukan,” imbuhnya. (ar/mie)

Editor : Jawanto Arifin
#bupati probolinggo #rumah dinas bupati