Bekas bangunannya masih ada sampai sekarang. Berarsitektur Belanda dan masih asli. Hanya saja mangkrak karena lama tak digunakan.
Panimun adalah salah satu saksi sejarah bangunan ini. Dia adalah pensiunan pegawai PT Kereta API yang tinggal di sekitar lokasi. Menurut pria 80 tahun yang tinggal di RT 2/RW 7, Kelurahan Jati ini, dahulu bengkel digunakan untuk tempat perbaikan ringan atau bengkel kereta api.
“Jadi untuk kereta api yang mengalami kerusakan ringan dilakukan perbaikan di sana,” katanya.
Panimun menerangkan, dia masuk dan bergabung sebagai karyawan PT KAI pada tahun 1966. Namun pria kelahiran Madiun itu ditempatkan di Stasiun Probolinggo. Kemudian pada tahun 1975 Panimun ditempatkan di Stasiun Jati.
“Mulai tahun 1975 saya sudah jaga stasiun ini. Namun kondisinya sudah mulai sepi. Banyak yang tidak melintas. Hanya saja untuk relnya masih banyak,” terangnya.
Sepinya Stasiun Jati diperkirakan mulai terjadi tahun 1978. Saat itu sudah tidak ada lagi kereta api penumpang yang diberangkatkan dari Stasiun Jati karena jaraknya yang terlalu dekat dengan Stasiun Probolinggo. Stasiun Jati kemudian diubah menjadi sepur simpang menuju dipo tersebut sampai akhirnya dinonaktifkan.
Lantaran sepi, stasiun jati resmi ditutup sekitar tahun 1989. Sementara Panimun yang mulanya bertugas di Stasiun Jati dipindahkan ke Stasiun Leces.
“Saya lupa tanggal tepatnya. Namun jika tidak salah Stasiun Jati ini tutup pada tahun 1989. Selanjutnya saya dipindah tugas ke Stasiun Leces dan pada tahun 1999 saya pensiun,” terang pria tiga anak itu.
Di lokasi bengkel kereta api juga terdapat bangunan lain. Sebab ada juga bangunan turn table, yang fungsinya untuk memutar lokomotif kereta.
Seperti yang diterangkan pemerhati sejarah Achmad Budiman Suharjono. Pria asal Kelurahan Gentong, Gadingrejo, Kota Pasuruan menerangkan jika, pada era Belanda, pemerintah membangun fasilitas turn table Stasiun Probolinggo. Fasilitasnya berada di kompleks stasiun karena memang untuk memutar lokomotif.
“Jadi jika dilihat pada foto udara pada tahun 1947, masih tampak lokasi kawasan atau kompleks stasiun,” terangnya.
Dengan turn table, sejumlah kereta domestik yang melintas serta hendak menuju stasiun Probolinggo akan mampir ke Stasiun Jati untuk memutar kepala lokomotifnya. Di menduga di sekitar bengkel kereta api di Kelurahan Jati, dulunya adalah kawasan pusat perekonomian.
Sekarang Jadi Permukiman
Walau lama tak difungsikan dan kondisi di sekitar padat akan permukiman, bangunan Stasiun Jati masih berdiri. Termasuk bengkel, kantor, gudang serta lokasi turn table. Semuanya masih tetap kokoh.
Bangunan model Belanda itu masih berdiri tegap di sekitar permukiman warga. Meski beberapa di antaranya mangkrak lantaran tak tersentuh.
Seperti lokasi area perkantoran yang berada di timur turn table. Bangunan di kanan dan kirinya sudah padat dengan rumah penduduk. Namun untuk bangunan tua peninggalan Belanda itu seolah dalamnya tidak pernah dimasuki seseorang. Tampak dari luar, jendelanya berbentuk bangunan model era Belanda. Terlihat jelas dari kerangka besi.
Sementara untuk area turn table, tak terkesan seram. Ini karena di sekeliling bangunan diapit bangunan rumah penduduk. Di beberapa bagian bangunan dimanfaatkan oleh warga. Baik untuk menyimban barang bekas dan lainnya.
Sementara untuk kondisi bekas stasiun tak jauh beda. Bangunan eks stasiun tertutup rapat hingga kini. Berbeda dengan gedung yang dulunya ditempati sebagai kantor.
“Sebab di Stasiun Jati itu kondisinya terbuka. Sehingga terang apalagi jika siang hari. Meskipun sama-sama sudah di area permukiman padat penduduk, lokasi bekas Stasiun Jati dan juga gedung turn table lebih terbuka dan terang. Berbeda dengan lokasi gedung perkantoran,” kata Panimun sembari menunjukkan area bekas bangunan yang dulu difungsikan sebagai gedung perkantoran petugas kereta api.
Panimun menerangkan, sampai saat ini bangunan kompleks stasiun di era Belanda tak ada yang berubah. Bedanya hanya beberapa ada yang sebagian dibangun, termasuk warga yang memanfaatkan lahan kereta api untuk mendirikan rumah.
“Jadi sistemnya tetap sewa ke PT KAI tanahnya. Untuk bangunannya biasanya bangun sendiri,” tandas mantan petugas stasiun Jati itu.
Bengkel-Turn Table Aktif Cuma Ada di Jember
Tidak semua bengkel kereta api di Indonesia bertahan. Begitu juga dengan turn table. Sekarang bengkel dan juga tempat memutar kepala lokomotif aktif yang ada di dilayah DAOP 9, hanya berada di Jember. Sementara untuk yang di Kota Probolinggo tepatnya yang ada di Jati, sudah lama tidak difungsikan.
Seperti yang diungkapkan manajer hukum dan humas KAI Daop 9, Azhar Zaki Assjari. Menurutnya, bangunan lama stasiun Jati dan juga bengkel serta turn table di Kelurahan Jati, sudah lama tidak aktif. Tapi dia tak tahu persis mulai kapan tidak aktif.
Walau kini sudah diapit dengan rumah-rumah penduduk, sebagian besar kompleks bangunan di stasiun Jati memang tak berubah. Ini juga diakui Soegito, 82, warga sekitar kompleks stasiun Jati. Saat masih menjadi stasiun, suasana sekitar ramai.
“Saya sudah lupa tahun berapa yang jelas ketika sudah mulai sepi dan kemudian dinyatakan untuk tidak dioperasionalkan. Belasan tahun setelahnya, lahan sekitar mulai dimanfaatkan oleh warga. Dengan sistem sewa lahan ke PT KAI,” kata Azhar.
Dia bilang, warga umumnya membuat rumah semipermanen. Banyak warga yang dulunya bekerja sebagai petugas stasiun yang tinggal di sekitar lokasi.
Dia memperkirakan, masuk tahun 90 an, lokasi ini mulai jadi area permukiman. Bahkan, juga ada gedung besar yakni Panin Bank yang lokasinya tepat berada di selatan eks stasiun atau di tepi Jalan Panglima Sudirman.
“Untuk Panin Bank ini sekitar tahun 2000-an. Terbilang masih baru. Jadi kawasan ini yang mulanya jadi kompleks stasiun puluhan tahun lalu, kini berubah jadi kawasan permukiman yang padat penduduk,” terangnya. (rpd/fun) Editor : Jawanto Arifin