BANGIL, Radar Bromo— Persaingan 24 tim dalam Pasuruan Super League (PSL) Piala Bupati 2026 mulai mengerucut. Hasil drawing menempatkan seluruh tim ke dalam empat grup dengan venue pertandingan yang berbeda.
Drawing dilakukan di Auditorium Mpu Sindok, Kantor Bupati Pasuruan, Senin (24/8). Para manajer tim yang merupakan camat dari masing-masing wilayah hadir bersama jajaran pelatih.
Grup A akan bermarkas di Lapangan Kebotohan, Kraton. Grup ini dihuni Nguling FC, Kraton FC, Prigen FC, Bangil FC, Tutur FC, dan Pohjentrek FC.
Grup B dimainkan di Lapangan Ngadimulyo, Sukorejo. Enam tim yang bersaing adalah Gempol FC, Sukorejo United, Beji United, SS Purwodadi, Pasrepan Putra FC, dan Wonorejo FC.
Sementara itu, Grup C berlangsung di Lapangan Mojoparon, Rembang. Pesertanya terdiri atas Lekok United, Rembang United, Lumbang Raya FC, Purwosari FC, Dikdaya Grati, dan Winongan.
Grup D akan bertanding di Lapangan Plumbon, Pandaan. Pandaan FC, Gondangwetan FC, Rejoso FC, Tosari FC, Kejayan FC, dan Puspo FC menjadi penghuni grup tersebut.
Kepala Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) Kabupaten Pasuruan Agus Masjhady mengatakan, Bupati Cup tidak sekadar menjadi kompetisi antarkecamatan. Turnamen tersebut diarahkan untuk mengasah kemampuan pemain sekaligus mencari talenta sepak bola baru dari daerah.
“Turnamen ini untuk mengasah kemampuan talenta sepak bola sekaligus menumbuhkan bibit-bibit pemain dari Kabupaten Pasuruan,” kata Agus.
Kompetisi dijadwalkan dibuka 1 September di Lapangan Plumbon, Pandaan. Sementara partai final digelar di Lapangan Desa Ngadimulyo, Sukorejo.
Sebelum laga puncak, panitia juga menyiapkan pertandingan ekshibisi perang bintang. Pemain terbaik dari wilayah timur dan barat akan dipertemukan.
Agus meminta para manajer dan talent scouting mulai mencermati pemain yang berpotensi masuk skuad perang bintang tersebut.
Bupati Pasuruan HM Rusdi Sutejo meminta penyelenggaraan tahun ini lebih baik dibandingkan edisi sebelumnya.
Regulasi pemain juga dibuat lebih berjenjang. Komposisi pemain mencakup pemain usia 16 tahun, lima pemain berusia 16–20 tahun, serta pemain senior usia 21–35 tahun.
Rusdi juga mengingatkan para manajer tidak menganggap PSL sebagai pertandingan biasa. Menurut dia, kompetisi tersebut sekaligus menjadi ruang belajar mengelola tim.
“Jangan dianggap bal-balan biasa. Mengelola tim sepak bola juga bagian dari belajar manajerial. Prinsipnya tidak jauh berbeda dengan bagaimana mengelola kecamatan,” ujarnya.
Salah satu aturan yang ditekankan adalah larangan menggunakan pemain bon-bonan, terutama pemain dari luar daerah. Pemkab ingin kompetisi benar-benar menjadi ruang bagi talenta lokal.
Rusdi meminta perangkat pertandingan menjaga integritas kompetisi. Komisi wasit, pengawas pertandingan, dan panitia harus memastikan seluruh laga berlangsung fairplay. “Jangan ada tendensi apa pun. Semua harus berjalan fair,” tegasnya.
Bahkan, Rusdi secara khusus menyinggung Bangil FC. Bangil merupakan wilayah asalnya. Namun, dia meminta faktor tersebut tidak memengaruhi jalannya pertandingan.
“Bangil itu daerah saya. Tapi jangan dilihat begitu. Kalau memang kalah, ya biarkan kalah,” tegas Rusdi.
Pesan tersebut menjadi penegasan bahwa PSL 2026 tidak hanya mengejar tontonan. Kompetisi ini juga diuji dari sisi sportivitas, kualitas pemain, hingga kemampuan pengelolaan tim di tingkat kecamatan. (tom/fun)
Editor : Fandi Armanto