PROBOLINGGO, Radar Bromo - Gaspol sejak awal musim! Usai jeda Lebaran, pebalap muda asal Kota Probolinggo, Hafidz Fahril Rasyadan, langsung tancap gas di ajang balap bergengsi Superchallenge Super Prix 2026.
Turun di seri pembuka yang digelar di Tasikmalaya, Jumat–Sabtu (10–11/4), Rasya—sapaan akrabnya—langsung unjuk gigi dengan torehan podium di tengah persaingan ketat lintasan.
Didampingi sang ayah, Imron Hamzah, Rasya tampil all-out di empat kelas sekaligus. Mulai dari 150cc 4 tak novice, 130cc 4 tak novice, 116cc 2 tak novice, hingga 125cc 2 tak novice.
Strategi turun di banyak kelas ini terbukti ampuh mengamankan poin penting sejak seri perdana.
Hasilnya tak main-main. Di kelas 125cc 2 tak novice dan 130cc 4 tak novice, Rasya sukses mengamankan posisi runner-up.
Aksi agresifnya sempat membuka peluang juara, namun harus tertahan setelah mendapat blocking ketat dari rival di lap-lap krusial.
“Di dua kelas itu Rasya finis kedua. Race linenya sempat diblok lawan juga,” ujar Imron.
Sementara di kelas 116cc 2 tak novice, Rasya tetap naik podium dengan finis di posisi ketiga. Balapan yang diguyur hujan deras membuat kondisi trek licin dan berisiko tinggi.
Race pun tak berjalan optimal dan penentuan hasil akhirnya mengacu pada catatan waktu kualifikasi (QTT).
“Karena hujan deras, penilaian diambil dari QTT. Rasya di posisi tiga,” jelasnya.
Di kelas paling bergengsi, 150cc 4 tak novice, Rasya harus puas finis di posisi keempat. Kendala teknis menjadi batu sandungan. Ban motornya tiba-tiba kempes di tengah race, memaksa performanya turun drastis.
“Di kelas utama sebenarnya bisa bersaing, tapi ban kempes. Jadi finis keempat,” tambah Imron.
Meski belum menyapu podium tertinggi, peluang Rasya masih terbuka lebar. Ajang Superchallenge Super Prix 2026 sendiri terdiri dari lima seri, dengan sistem penilaian akumulasi poin. Seri kedua dijadwalkan berlangsung di Boyolali pada 22–23 Mei 2026.
“Nanti kami kejar lagi di seri berikutnya. Semua masih mungkin karena dihitung dari total poin,” tegasnya.
Di balik performa kompetitif itu, Rasya tetap menjaga ritme latihan. Ia rutin mengasah fisik dan teknik di GOR Mastrip setiap Jumat dan Minggu. Tak hanya soal skill di atas motor, kekuatan mental juga jadi fokus utama tim.
Pasalnya, atmosfer kompetisi musim ini dipastikan jauh lebih panas. Jika tahun lalu hanya diikuti sekitar delapan pebalap, kini jumlahnya melonjak drastis hingga sekitar 24 starter. “Persaingan makin ketat. Peminatnya naik signifikan,” ungkap Imron.
Tak hanya dari Pulau Jawa, para rider juga datang dari berbagai daerah seperti Kalimantan hingga Sulawesi. Namun, kekuatan utama diprediksi tetap datang dari Jawa Tengah dan Yogyakarta—dua wilayah yang dikenal punya ekosistem balap solid dan sekolah balap berkualitas.
“Pembinaan di sana sudah sangat bagus. Jadi pasti jadi lawan berat,” pungkasnya. (gus/fun)
Editor : Abdul Wahid