Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Hanya Kabupaten Pasuruan yang Klaim Siap Gelar Liga 4, Tiga Daerah Pastikan Tak Menggelar karena Alasan Ini

Agus Faiz Musleh • Sabtu, 18 Oktober 2025 | 15:00 WIB
ILUSTRASI
ILUSTRASI

BANGIL, Radar Bromo - Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia (PSSI) kini sedang menyiapkan kompetisi Liga 4 musim 2025-2026.

Dengan konsep baru, PSSI menginginkan kompetisi ini bertujuan agar lebih banyak referensi pemain potensial untuk kebutuhan Timnas di masa depan.

Tapi tidak mudah menggelar kompetisi yang levelnya masih amatir ini. Selain anggaran yang tentu tidak sedikit, regulasi awal yang dikeluarkan juga cukup berat.

Sebab tim-tim yang hendak ikut atau Askot/Askab yang mau menggelar, harus mengikuti aturan main. Salah satunya soal klub yang harus berbadan hukum.

Dari empat daerah di wilayah edar Jawa Pos Radar Bromo, baru Askab PSSI Pasuruan yang memberikan sinyal kuat untuk menggelar kompetisi ini.

Askab PSSI Pasuruan berencana menggelar Liga 4 walau belum ada kepastian soal dukungan anggaran dari pemerintah daerah.

Turnamen antarklub lokal itu akan dijalankan dengan konsep yang lebih terarah.

Ketua Askab PSSI Pasuruan Udik Djanuantoro mengatakan, hasil rapat komite eksekutif (exco) telah memutuskan dua konsep pelaksanaan kompetisi.

Jajaran Askab PSSI Pasuruan saat rapat mendiskusikan pelaksanaan Liga 4.
Jajaran Askab PSSI Pasuruan saat rapat mendiskusikan pelaksanaan Liga 4.

Pertama, menawarkan seluruh 50 klub binaan Askab untuk ikut serta. Kedua, menggelar kompetisi khusus kelas utama bagi klub yang aktif dalam pembinaan pemain muda.

“Konsep kelas utama ini kami nilai paling efektif. Ada 14 klub yang sudah siap,” ujar Udik.

Rencana pelaksanaan Liga 4 juga merupakan tindak lanjut dari koordinasi dengan Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) Kabupaten Pasuruan, setelah sebelumnya Askab menerima undangan dari Dispora Jatim.

Pertemuan itu membahas penyelarasan antara Askab, Askot, dan pemerintah daerah se-Jawa Timur mengenai format Liga 4.

“Koordinasi dengan Dispora sudah kami lakukan. Prinsipnya, Liga 4 ini menjadi ajang pembinaan berjenjang yang bisa mengantarkan klub ke Liga 3, atau sebaliknya, jika performa menurun bisa turun peringkat,” jelasnya.

Udik menegaskan, kompetisi akan tetap berjalan meski tanpa suntikan dana dari pemerintah daerah. “Ada atau tidak anggaran dari pemerintah, yang penting kami sudah koordinasi. Dan saya upayakan Liga 4 tetap terselenggara,” tegasnya.

Sesuai regulasi, Liga 4 akan digelar dengan format Piala Bupati dan diikuti klub-klub anggota resmi Askab PSSI Pasuruan. Setiap tim diperbolehkan menurunkan maksimal tujuh pemain senior, dengan hanya lima di antaranya yang boleh bermain bersamaan di lapangan. Sisanya wajib pemain berusia di bawah 23 tahun.

“Dalam waktu dekat kami kumpulkan semua klub binaan untuk finalisasi jadwal dan teknis kompetisi,” pungkas Udik.

Putaran Liga 4 di Kabupaten Pasuruan ditarget bergulir paling lambat pada pekan ketiga November 2025.

Namun, sebelum peluit kick-off dibunyikan, klub peserta harus memenuhi sejumlah persyaratan penting yang salah satunya wajib memiliki status badan hukum.

Udik Djanuantoro mengatakan, sesuai jadwal, liga tingkat kabupaten sebenarnya sudah bisa digelar sejak Oktober. Namun karena sejumlah klub belum memenuhi syarat administratif, jadwal pelaksanaan terpaksa dimundurkan sedikit.

“Targetnya maksimal pekan ketiga November sudah harus jalan, karena putaran provinsi akan kick-off awal Desember,” ujarnya, kemarin (17/10).

Udik menjelaskan, minimal ada delapan tim peserta yang akan bertanding dengan sistem grup setengah kompetisi. Tim terbaik akan melaju mewakili Kabupaten Pasuruan ke tingkat provinsi.

“Sementara ini sudah ada sembilan klub yang menyatakan siap ikut. Kami masih menunggu kepastian klub lainnya sampai besok,” katanya.

Namun, lanjut Udik, tantangan terbesar saat ini justru datang dari sisi legalitas. Sebab, hanya klub yang sudah berbadan hukum yang bisa ikut ambil bagian dalam kompetisi resmi PSSI tersebut.

Sementara, dari total klub anggota Askab Pasuruan, baru sebagian kecil yang telah memiliki legalitas tersebut.

“Sepertinya tidak lebih dari tiga klub yang sudah berbadan hukum, sisanya masih sebatas akta pendirian di notaris,” ungkapnya.

Karena itu, Askab PSSI berencana mendorong percepatan pengurusan badan hukum bagi klub-klub anggota. Langkah ini penting, tidak hanya untuk memenuhi syarat kompetisi, tetapi juga sebagai upaya memperkuat tata kelola klub secara profesional.

“Kami terus berkoordinasi dengan pengurus klub agar proses ini bisa selesai secepatnya. Kalau semua berjalan lancar, Liga 4 bisa kami selenggarakan sesuai jadwal,” tegas Udik.

 

Kota Pasuruan serta Kota-Kabupaten Pasuruan Tak Gelar karena Persoalan Anggaran

Sementara itu, tiga daerah memastikan, belum bisa menggelar kompetisi Liga 4. Alasannya, apalagi jika bukan soal anggaran. Tiga daerah itu adalah Kota Pasuruan serta Kota dan Kabupaten Probolinggo.

Ketua Askot PSSI Pasuruan Suhaimi mengatakan, kompetisi Liga 4 belum dimungkinkan untuk digelar di Kota Pasuruan. Ketiadaan anggaran memang menjadi persoalan utamanya. Kata Suhaimi, butuh biaya yang tak sedikit untuk menggelar Liga 4. “Paling banyak untuk teknis pertandingan seperti wasit dan lainnya,” beber Suhaimi.

Belum lagi, di Kota Pasuruan hanya ada dua klub yang sudah berbadan hukum. Sementara syarat Liga 4 adalah klub yang ikut wajib memiliki badan hukum.

“Dan ini (menjadikan klub berbadan hukum, red) tidak bisa dalam waktu singkat. Ada proses yang harus dilalui,” beber Suhaimi.

Walau begitu, di musim ini, dua klub di Kota Pasuruan dipastikan tetap mengikuti kompetisi Liga 4 dari jalur klub amatir terbuka. Dua klub itu adalah Persekap dan PSPK. “Saat ini Persekap masih berunding untuk menentukan jajaran pengurus, sedangkan PSPK kemungkinan tetap menjadi tim musafir lagi,” beber Suhaimi.

Beralih ke Probolinggo. Askot dan Askab PSSI Probolinggo kompak menyebut belum bisa menggelar kompetisi Liga 4 di musim ini.

Kabar tersebut disampaikan langsung Ketua Askot PSSI Probolinggo, Eko Purwanto. Keterbatasan anggaran menjadi alasannya.

“Untuk anggaran Askot PSSI tahun ini memang tidak tersedia untuk bisa mengikuti Liga 4,” ujar Eko.

Sementara itu, Ketua KONI Kota Probolinggo, Zulfikar Imawan menyampaikan bahwa tahun ini memang ada efisiensi anggaran. Termasuk anggaran untuk cabor PSSI yang semula senilai Rp 353 juta, kini terpangkas sebesar 20 persen menjadi Rp 282 juta.

“Tapi bila ada kebutuhan tambahan untuk event, tiap cabor bisa mengajukan proposal pada kami. Namun tentunya akan kami sesuaikan dengan kemampuan kami juga,” terang Zulfikar.

Dari sisi teknis, Executive Committee (Exco) PSSI Kota Probolinggo, Tri Oktavian menuturkan bahwa PSSI Kota Probolinggo memang sempat menerima undangan workshop DARI Asprov PSSI Jatim soal pelaksanaan Liga 4.

“Tapi kemungkinan besar kami tidak bisa karena kendala dana. Sementara batas akhir pengumpulan form pendaftaran adalah 30 Oktober,” ujar Tri.

Hal senada juga dilakukan Askab PSSI Probolinggo yang memastikan tidak menggelar kompetisi Liga 4. Sejumlah kendala teknis dan administratif membuat pelaksanaan ajang tersebut belum memungkinkan untuk digelar.

Sekretaris Askab PSSI Probolinggo, Erfan Yulianto, menjelaskan bahwa keputusan ini didasari pada beberapa pertimbangan penting.

“Pertama, dari provinsi memang tidak ada kewajiban untuk menyelenggarakan Liga 4. Jadi sifatnya bukan keharusan,” ujar Erfan ketika ditemui usai rapat koordinasi dengan pengurus Askab, Jumat (17/10).

Selain itu, waktu persiapan yang sangat sempit juga menjadi faktor utama. “Dari sosialisasi kemarin, kami hanya diberi waktu dua minggu. Jelas itu terlalu mepet untuk melakukan persiapan yang matang,” tegasnya.

Erfan menambahkan, keterbatasan klub peserta di level Liga 4 juga menjadi kendala tersendiri.

“Untuk sementara, klub anggota kami saat ini baru aktif di kelompok umur U-13 dan U-15. Nah, Liga 4 ini kan regulasi baru, jadi butuh proses sosialisasi dulu,” paparnya.

Ia juga menjelaskan bahwa secara struktural, Askab PSSI Probolinggo masih menunggu hasil kongres dari tingkat provinsi (Asprov) sebelum bisa menggelar agenda besar seperti kompetisi Liga 4.  

“Kami belum bisa melaksanakan raker atau kongres 2025 sebelum Asprov menggelar kongresnya. Jadi kami masih menunggu proses di atas,” jelas Erfan.

Tak hanya soal teknis dan regulasi, masalah anggaran juga menjadi pertimbangan serius.

“Dana kami banyak terserap untuk keikutsertaan di kompetisi Piala Suratin U-17, termasuk juga pelaksanaan kegiatan lokal. Jadi kami harus realistis dengan kondisi keuangan yang ada,” ujarnya.

Meski demikian, Erfan menegaskan bahwa Askab PSSI Probolinggo tetap berkomitmen untuk mengembangkan sepak bola di tingkat daerah.

“Kami tidak berhenti di sini. Tahun depan, setelah kongres dan regulasi jelas, kami akan berusaha menggelar kompetisi berjenjang yang lebih tertata,” tandasnya.

Dengan berbagai pertimbangan tersebut, masyarakat sepak bola Probolinggo diimbau untuk tetap sabar dan terus mendukung pembinaan usia dini yang kini menjadi fokus utama Askab.

“Kami mohon pengertian semua pihak. Ini bukan langkah mundur, tapi bagian dari penataan yang lebih baik ke depan,” pungkas Erfan dengan nada optimistis. (gus/mu/fun)

Editor : Abdul Wahid
#liga amatir #askab pssi pasuruan #askab pssi probolinggo #askot pssi pasuruan #askot pssi probolinggo #liga 4 #pssi