BANGIL, Radar Bromo–Pekan olahraga provinsi (Porprov) IX Jatim tahun 2025 sudah tuntas digelar.
Kini masing-masing daerah melakukan evaluasi. Begitu juga dengan reward terhadap atlet yang sudah dijanjikan bagi mereka yang meraih medali.
Tiap-tiap daerah juga berbeda menerapkan besaran reward. Apresiasi ini diberikan untuk menyemangati atlet. Ada yang bakal mencairkan di tahun ini, ada pula di tahun depan.
Di Kabupaten Pasuruan, atlet peraih medali tak hanya diberi uang pembinaan. Ada pula beasiswa untuk atlet peraih emas.
Namun janji Bupati Pasuruan Rusdi Sutejo untuk mengucurkan beasiswa pendidikan senilai Rp 40 juta bagi setiap atlet peraih medali emas di ajang Porprov Jatim 2025 ternyata tak bisa langsung direalisasikan.
Meski Pasuruan sudah mengoleksi 30 medali emas, pemkab kini masih sibuk menghitung kebutuhan anggaran dan menyiapkan regulasi.
Kepala Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) Kabupaten Pasuruan, Mujiono, menjelaskan bahwa beasiswa untuk peraih medali emas ini masih perlu diformulasikan secara matang.
”Kami masih perlu koordinasi dengan bagian hukum untuk siapkan regulasi seperti Perbup,” ungkap Mujiono.
Artinya, tak cuma uang. Payung hukumnya juga harus jelas dulu. Selain soal regulasi, Dispora juga tengah gencar melakukan inventarisasi atlet-atlet peraih medali emas. Koordinasi intens dengan KONI Kabupaten Pasuruan pun jadi agenda utama.
”Disamping itu juga kami perlu koordinasi dengan KONI untuk menginventarisasi atlet-atlet yang dapat emas kemarin,” kata Mujiono.
Data para atlet, terutama dari cabang olahraga beregu yang menyumbang emas, harus didata secara rinci. Mujiono menekankan pentingnya mendata berapa atlet yang masih berstatus pelajar atau mahasiswa, dan berapa yang sudah tidak melanjutkan pendidikan tinggi.
Semua ini demi memastikan tidak ada satu pun atlet yang kehilangan haknya dari pemerintah daerah.
”Atlet yang sudah semester dua misalnya, itu biaya pendidikan selanjutnya akan jadi tanggungan pemerintah. Begitu juga yang tidak kuliah, nanti diarahkan untuk mengikuti pelatihan dan untuk itu kami koordinasi dengan Disnaker sampai yang bersangkutan punya keahlian dan mendapat pekerjaan,” jelas Mujiono.
Tak hanya beasiswa, Pemkab juga menyiapkan reward. Nilainya masih dalam perhitungan, dengan mempertimbangkan ketersediaan anggaran. Namun, gambaran awal menunjukkan peraih emas perorangan bisa mendapatkan Rp 40 juta.
Angka itu juga dinaikkan dari reward pada ajang serupa sebelumnya di angka Rp 30 juta.
”Tentu kalau cabor beregu di atasnya sedikit. Dan peraih medali perak serta perunggu menyesuaikan,” beber Mujiono.
Di sisi lain, Ketua Koni Mamat Aryo Setiawan, evaluasi cabor menjadi fokus utama setelah porprov. Tak terkecuali dengan turunnya peringkat Kabupaten Pasuruan, dari posisi 6 menjadi delapan.
Menurut Mamat, ada beberapa poin yang dicatat KONI atas raihan Porprov IX. “Secara poin, kami memang melorot. Tapi ada hal-hal yang menjadi faktor mengapa peringkat kami bisa turun,” beber Mamat.
Dia merinci, mulai dari jumlah kontingen yang diberangkatkan ke Malang Raya. Kata Mamat, Kabupaten Pasuruan dari segi jumlah kontingen masih kurang dibanding kota dan kabupaten yang menghuni peringkat 8 besar yang lain.
Dia mengambil contoh seperti Kota Surabaya yang memberangkatkan 1.537; Kota Malang 13.72; Kabupaten Sidoarjo 1.267; Kabupaten Malang 1.006; Kota Batu 724; Kabupaten Gresik 716. Sementara Kabupaten Pasuruan 590.
“Semakin tinggi jumlah kontingen maka peluang perolehan medali semakin besar,” beber Mamat.
Begitu juga dengan jumlah cabor yang diikuti. Daerah seperti Kabupaten Sidoarjo, Kabupaten-Kota Malang, Kota Surabaya, Kabupaten Gresik, mengirimkan cabor lebih dari 50. “Sementara Kabupaten Pasuruan hanya 40,” beber Mamat.
Walau begitu, Mamat akui bahwa efektifitas cabor dalam mengirimkan atlet dan pelatih, memang harus diperhitungkan.
Dia mengambil contoh seperti Kota Kediri, yang dari segi jumlah kontingen dan cabor, jumlahnya lebih sedikit dari Kabupaten Pasuruan. Namun peringkatnya justru bisa di posisi lima.
“Tingginya prestasi Kota Kediri yang dapat menorehkan prestasi yang sangat tinggi dikarenakan memiliki cabor unggulan. Sehingga mendongkrak perolehan medali banyak,” beber Mamat.
Berdasarkan data yang ada, cabor peraih poin tertinggi di Kota Kediri jumlah poinnya berkisar 3 kali lipat dibanding Kabupaten Pasuruan.
Sementara ada penurunan poin dari cabor tertinggi Kabupaten Pasuruan yang potensial seperti selam, yang selama empat edisi berhasil menjadi juara umum.
Cabor selam di tahun 2023 meraih 12 Emas, 2 Perak, 7 Perunggu (total 59 poin). Di tahun 2022 dengan perolehan 14 Emas, 8 Perak, 4 Perunggu (total 76 poin). “Ini juga menjadi pembelajaran bagi Kabupaten Pasuruan karena tidak dapat terus-menerus bergantung pada cabor selam.
Cabor lain harus memberikan kontribusi yang signifikan guna menaikan jumlah poin Kabupaten Pasuruan,” terang Mamat.
Selain itu Kabupaten Pasuruan kurang memaksimalkan cabor dengan potensi yang banyak. Contohnya atletik dan angkat besi. Cabor angkat besi tidak mengirimkan atlet dan pelatih, padahal ada peluang poin sejumlah 588 untuk diperebutkan, Begitu juga dengan cabor atletik, Kabupaten Pasuruan hanya mengirim 6 atlet dan 2 pelatih dan memperoleh poin 0. Padahal terdapat peluang poin 308 yang tersedia.
“Cabor atletik tidak dapat memperoleh prestasi karena memang tidak adanya lintasan lari, arena lempar. Sehingga tidak mungkin muncul prestasi tanpa adanya sarana untuk melakukan olahraga tersebut,” beber Mamat.
Di Kota Pasuruan, atlet yang meraih prestasi, harus bersabar menunggu pencairan bonus. Sebab bonus tidak bisa diberikan tahun ini. KONI akan mengusulkan pemberian bonus porprov tahun depan.
Ketua KONI Kota Pasuruan, Gangsar Sulistyarso mengungkapkan, bonus porprov akan diberikan tahun depan. Mekanismenya sama seperti pada porprov 2023 lalu. Usulan pemberian bonus di lakukan di tahun berikutnya. Sehingga anggaran yang diberikan tepat sasaran sesuai by name by address.
Usulan dilakukan oleh KONI pada Pemkot untuk APBD 2026. Mereka yang mendapat bonus adalah yang meraih medali, baik emas, perak atau perunggu.
"Pada porprov 2023 lalu, pemberian bonus dilakukan pada 2024. Bonus porprov tahun ini diusulkan tahun depan. Jadi by name by address," katanya.
Gangsar menjelaskan total ada 36 atlet yang diusulkan menerima bonus porprov. Rinciannya, enam atlet yang meraih emas, tujuh atlet peraih perak dan sisanya 23 atlet yang meraih perunggu. Besaran bonus juga belum diketahui. Tapi pihaknya berharap minimal bisa menyamai tahun lalu.
Pada porprov 2023 lalu, atlet peraih emas menerima bonus Rp 30 juta, sedangkan perak Rp 17,5 juta dan perunggu mendapatkan Rp 10 juta.
Tentu usulan disesuikan juga dengan kemampuan anggaran pemkot. Mengingat tahun ini ada kebijakan efisiensi anggaran oleh pusat yang berimbas di semua bidang.
"Idealnya memang dinaikkan. Namun minimal diusulkan sama seperti tahun lalu untuk peraih medali," jelas Gangsar.
Sebelumnya, Wali Kota Pasuruan, Adi Wibowo menuturkan pihaknya akan memberikan reward bagi atlet yang meraih medali. Ini sebagai apresiasi daerah karena membawa nama baik kota Pasuruan.
Besaran bonus yang diberikan tentunya ada formulasinya. Dengan disesuaikan kemampuan anggaran.
"Tentu ada reward yang diberikan bagi atlet berprestasi. Besarannya ada formulasinya masing masing," tutur Mas Adi. (tom/riz/fun)
Editor : Abdul Wahid