KEPUTUSAN Aris Budi itu bukanlah suatu kebetulan. Tapi dia tak kuasa menolak saat Sulidain, anggota DPRD Provinsi Jatim, meminta bantuannya. Aris Budi yang satu partai dengan Sulidain, akhirnya mengiyakan permintaan itu.
“Karena nggak enak juga kan. Beliau (Sulidain) adalah pengurus di tempat partai saya bernaung,” beber Aris Budi.
Singkatnya, pada Desember lalu, Aris Budi resmi didapuk menjadi head coach PSHW. Saat itu PSHW tergabung di grup P bersama Persepon Ponorogo, Persinga Ngawi, Perspa Pacitan. Semua pertandingan digelar di Stadion Batoro Katong, Ponorogo.
Yang ikin berat, kata Aris Budi, saat itu PSHW tidak banyak memiliki finansial. Bahkan Aris Budi mengaku, dia tidak meminta gaji sekalipun. Ini juga menjadi tantangan baginya untuk rekrutmen pemain.
Semestinya PSHW markasnya di Ponorogo. Tapi karena merasa punya tanggung jawab sebagai wakil rakyat di Kota Pasuruan, Aris Budi meminta syarat.
“Saya meminta agar pemusatan Latihan digelar di Kota Pasuruan. Untuk memudahkan saya. Apalagi di Kota Pasuruan, saya juga punya akademi,” kata pria yang belum lama ini menikahkan putri sulungnya itu.
Aris Budi lalu mengawali seleksi di Aris Budi School Academy (ABSA) miliknya. Puluhan pemain berhasil dia jaring.
Mayoritas atau 80 persen adalah pemain asal Pasuruan. Semuanya menginap di mess ABSA dan berlatih dengan berpindah-pindah lokasi di Pasuruan.
Hingga saat pelatihan dan pendaftaran pemain, Aris Budi merasa, PSHW belum memiliki leader di lapangan.
Memang ada tujuh pemain kategori senior yang dia rekrut. Tapi dia merasa, harus ada pemain yang bisa menjadi pemimpin.
Singkatnya, Aris Budi memutuskan agar Namanya ikut didaftarkan sebagai pemain. Itu tidak menjadi soal karena regulasi di Liga 4 tak melarang.
Asalkan dari tujuh pemain senior yang ada di daftar susunan pemain, hanya lima yang boleh bermain.
“Ini yang menjadi pekerjaan rumah di pesepakbolaan di Indonesia sekarang. Anak-anak yang masih mud aitu kebanyakan hanya Latihan jika ada jadwal. Tapi enggan untuk menambah porsi latihan sendiri,” terang Aris Budi.
Kebanyakan, katanya, pemain saat ini lebih memilih bermain gadget atau tidur saat tidak ada latihan.
Di kompetisi resmi pun begitu. Masih banyak pemain yang justru begadang, walau besok ada jadwal latihan maupun pertandingan.
“Padahal jika mau berkembang hingga level terus naik, latihan itu jangan hanya saat ada jadwal saja,” beber pria yang sekarang memiliki lisensi kepelatihan B AFC itu.
Aris Budi juga yakin dia masih bisa bermain. Sebab meski tidak menjadi pemain profesional dan sudah pension 15 tahun silam, dia masih giat berolahraga. Minimal dia jogging 5 kilometer setiap hari. Berlatih futsal pun rutin.
Bahkan dia melakukan diet ketat sehingga badannya masih proporsional meski usianya kini hampir separo abad.
“Sebelum memegang PSHW, berat badan saya 89 kilogram, namun kini sudah turun 12 kilogram. Makanya saya percaya diri masih bisa ikut bermain,” terang pemilik tinggi 184 sentimeter itu.
Bersama dengan Sugeng, asistennya, Aris Budi lalu melatih PSHW. Setiap pagi dan sore, PSHW berlatih dan dia tak pernah absen mendampingi. Tapi dia juga tak pernah melupakan tugasnya sebagai anggota dewan.
“Tugas di DPRD itu kan biasanya siang atau malam hari. Kebetulan juga sewaktu melatih, tidak ada jadwal yang krusial. Sekalipun kalau memang ada, saya kan punya asisten pelatih. Bahkan di pekan pertama, anak-anak itu berlatih mandiri, namun sesuai dengan program yang saya berikan,” beber Aris Budi.
Hingga saat PSHW Ponorogo menghadapi laga perdananya yang saat itu melawan Perspa Pacitan, Aris Budi awalnya hanya berdiri di tepi lapangan sembari memberi instruksi. Hingga di menit ke 66, Aris Budi masuk sebagai pemain pengganti. Di laga itu, skor berakhir 0-0.
Selang dua hari kemudian, PSHW Kembali berlaga melawan Persinga Ngawi. Aris Budi Kembali masuk sebagai pemain pengganti di menit ke 78. Saat itu PSHW sudah tertinggal 1-0. Tapi di sisa menit pertandingan, Aris Budi yang bermain di posisi bek, sukses melakukan tugasnya karena gawang PSHW tak kebobolan.
Sayang di laga terakhir PSHW melawan Persepon Ponorogo, Aris Budi tak bisa ikut karena berbarengan dengan tugasnya.
“Ada agenda kunjungan kerja ke Semarang dan tak bisa ditinggalkan,” terang Aris Budi. Hasilnya, saat itu PSHW takluk 1-0.
PSHW akhirnya tak bisa melanjutkan kompetisi ke 32 besar. PSHW menghuni posisi paling buncit, dengan Raihan 1 poin. Dari tiga laga, sekali seri dan dua kali kalah. Selepas itu, Aris Budi kini berkegiatan normal di parlemen.
Sebagai eks pemain yang kerap membela banyak klub di masa mudanya, Aris Budi mengaku, tak bisa meninggalkan lapangan hijau.
Sampai kini dia juga konsisten mencari dan membesarkan bibit pemain lewat akademi sepakbolanya.
Lalu mengapa tak melatih klub lokal Pasuruan saja? “Lha saya tidak ditunjuk? Kalaupun ditunjuk, saya tentu punya pertimbangan. Karena saya ingin sepakbola di Pasuruan ini maju dan banyak pemain profesional tercipta,” beber pria yang pernah menjadi pelatih Persekap Kota Pasuruan di tim junior dan senior itu. (fun)
Editor : Abdul Wahid