Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Bedah Formasi Santri Mbeling Hasil Racikan Legenda Persekabpas di Liga 3

Iwan Andrik • Sabtu, 2 Desember 2023 | 23:35 WIB
MANTAN PEMAIN TIMNAS: Irfan Junaidi.
MANTAN PEMAIN TIMNAS: Irfan Junaidi.

BANGIL, Radar Bromo - Sosok Irfan Junaidi, tak lepas dari sepak bola. Sebelum melatih Pasuruan United yang punya julukan Santri Mbeling, ia sudah lama berkecimpung di dunia sepak bola. Termasuk melatih PSPK.

Sebelum menekuni karir kepelatihan, lelaki kelahiran Pasuruan, 29 Mei 1983 merupakan pemain kawakan. Ia tercatat pernah membela timnas.

Irfan memiliki karir sebagai pemain yang cukup gemilang. Ia bahkan sempat menjadi andalan timnas U-21 untuk berbagai ajang kejuaraan.

Termasuk ketika timnya, memenangi laga melawan Thailand dalam ajang Hassanal Bolkiah Trophy di Brunai Darussalam.

Karirnya dimulai saat usianya masih menginjak 10 tahun. Ia bergabung dengan SSB Arema, karena di Pasuruan nyaris tidak ada SSB kala itu.

Hingga muncullah SSB Assyabaab Bangil. Ia bergabung dengan Assyabaab Bangil. Sederet kompetisi kelompok usia diikutinya. Termasuk piala Jawa Pos. Bahkan, dibawah kepelatihan Mutholib waktu itu, ia juga sempat menyabet pemain terbaik.

Dari seabrek prestasinya itu, menjadi modalnya untuk mengikuti seleksi timnas. Seleksi awal, dilakukan di wilayah Jatim. Ada ratusan peserta. Ia berhasil menyisihkan dan hanya menyisakan sebelas pemain untuk mewakili Jatim ke Jakarta.

Di sana, juga diseleksi kembali. Sekitar 500 anak. Sampai akhirnya terpilih 25 pemain. Termasuk dirinya yang berperan sebagai gelandang.

Ia mengingat, seleksi itu dilakukan, untuk menghadapi kejuaraan piala asia U-17 di Nagoya, Jepang. Kejuaraan itu sendiri dilangsungkan sekitar tahun 2000 yang lalu. Beberapa negara Asia berpartisipasi.

Tidak hanya Jepang, ada pula Filipina, Singapura dan beberapa negara lain, termasuk Indonesia.

Hasilnya, memang membanggakan. Tapi tidak cukup memuaskan. Ia dan teman-temannya, meraih runner up setelah tumbang dengan tuan rumah Jepang.

Usai ke Jepang, ada piala AFF U-20 yang harus diikutinya. Namun, ia dan rekan-rekannya tak mampu berbuat banyak. Mereka tumbang duluan.

Usai mengikuti AFF, mereka bertolak ke Brunai Darussalam. Untuk mengikuti kompetisi Hassanal Bolkiah di negeri sultan tersebut. Beberapa negara Asia Tenggara berpartisipasi. Termasuk tim berat, Thailand.

Perjuangan tak mudah dilalui. Hingga satu persatu lawan berhasil dikalahkan. Mereka pun masuk final. Bertemu lawan berat, Thailand. Melawan tim gajah putih itu, benar-benar berkesan baginya. Karena, ia dan rekan-rekannya berhasil menang. 2-0 sekaligus menjuarai kompetisi tersebut.

Keterlibatannya dalam skuad timnas, berakhir ketika ia mengikuti Pra Olimpiade di Lebanon. Timnya gagal lolos. Dan hanya menyisakan tuan rumah, Lebanon untuk ikut olimpiade waktu itu.

Usai tak lagi berseragam timnas, ia kemudian digaet oleh Persebaya Surabaya. Ia bergabung ke tim impiannya itu, sejak tahun 2002. Tak lama. Hanya sampai 2003. Cedera yang membekapnya saat bermain di Tambaksari, Persiraja Banda Aceh, memaksanya tak bisa bertahan lama di Persebaya.

Sejak itupula, karirnya sebagai pemain profesional nyaris pupus. Ia harus istirahat dari dunia sepak bola setahun lamanya. Untungnya, cidera ligament yang dialaminya bisa sembuh. Hingga pada 2004 ia bergabung dengan tim Divisi Utama, Gianyar Bali.

Tapi hanya setahun. Karena tahun berikutnya, hijrah ke Rembang, dan bergabung dengan PSIR Rembang. Baru tahun 2006 kemudian, ia berkostum Persekabpas Pasuruan. Saat itu, Persekabpas Pasuruan sedang jaya.

Ia kemudian memilih untuk gantung sepatu di tahun berikutnya. Usia yang tak lagi muda, menjadi alasannya. Tapi, ia tak ingin berpisah dengan sepak bola. Karena itu, ia memilih untuk mencari lisensi pelatih.

 

Karir Kepelatihan

Usai mendapat lisensi, Irfan mulanya mengabdikan diri ke SSB Assyabab Bangil. Dua tahun lamanya di Assyabab. Ia kemudian direktur Persekabpas Pasuruan, untuk menjadi asisten pelatih pada 2017 hingga 2019.

Pandemi Covid-19 di tahun 2020 membuat perhelatan sepak bola dihentikan. Ia pun pindah ke Sidoarjo dan mendedikasikan kemampuannya di SSB Pendowo. Sambil melatih di SSB tersebut, ia juga membuka privat, Irjun Privat Soccer.

Dan baru di pertengahan tahun 2021 ini, tawaran dari PSPK Pasuruan menghampiri.

Usai melatih PSPK Pasuruan, ia kemudian direkrut Pasuruan United. Sekarang, ia konsen untuk melatih Pasuruan United tersebut.

Menyerang. Begitulah filosofi permainan yang diemban. Dengan menyerang, peluang untuk menang bisa didapatkan.

Karena itulah, formasi 4-3-3 diterapkannya. Dengan formasi tersebut, strategi menyerang bisa diterapkannya. "Dalam permainan normal, kami menerapkan formasi 4-3-3," tandasnya.

Perubahan formasi bisa dilakukan. Kalau formasi 4-3-3 itu tak bisa diterapkan dengan baik. Ketika buntu, ia pun menerapkan planning B. Yakni dengan memperkuat pemain tengah.

Formasi 5-4-1 dijalankannya. Dengan formasi itu, serangan balik akan menjadi andalan dalam skema permainannya. "Ini kami terapkan, ketika mendapati tim yang berada setingkat lebih tinggi," sambung dia.

Sejauh ini, pemainnya sudah bisa menjalankan skema yang ada. Meski evaluasi tetap perlu dilakukannya.

"Dalam setiap pertandingan, skema permainan tersebut, bisa berubah-ubah. Kami sesuaikan kondisi di lapangan," jelasnya. (one/mie)

Editor : Jawanto Arifin
#liga 3 #Pasuruan United