==================================
ASOSIASI Provinsi (Asprov) PSSI Jawa Timur (Jatim) telah merilis 55 tim yang mendaftar Liga 3 Jatim musim ini. Tak ada nama Persikapro dalam daftar itu.
Ya, musim ini Persikapro dipastikan absen di Liga 3 Jatim. Sekretaris Askab PSSI Kabupaten Probolinggo Erfan Yulianto membenarkan pihaknya memang tak mendaftarkan Persikapro.
Keputusan itu diambil usai mempertimbangkan sejumlah faktor. Salah satunya, perubahan kembali format kompetisi musim ini.
Musim lalu, format kompetisi menerapkan sistem setengah kompetisi. Tak ada home and away. Semua laga penyisihan digelar di satu daerah, dengan satu tuan rumah. Maklum saja, saat itu pandemi sedang ganas-ganasnya. Semua laga digelar tanpa penonton.
Nah, saat ini pandemi mulai melandai. Kompetisi pun kembali digelar normal. Menerapkan sistem home and away. Hal itu disebut-sebut membuat cost pengeluaran tim jadi kian besar.
"Pada kongres tahunan asprov beberapa waktu yang lalu, telah ditetapkan sitem home-away. Nah, kami ada masalah di anggaran. Sebab, tahun ini sisa anggaran tidak lebih dari Rp 100 juta," aku Erfan.
Dijelaskan Erfan, sistem home and away membuat pengeluaran tim jauh lebih besar. Sebab, tim harus menyewa stadion, biaya wasit, dan lain sebagainya. Apalagi menurutnya, kondisi Stadion Gelora Merdeka Kraksaan juga kurang memenuhi syarat.
Erfan mencontohkan, pada 2018 lalu, saat juga menerapkan sistem home and away, Persikapro jadi tim musafir. Tak bisa berlaga di Stadion Gelora Merdeka Kraksaan karena kondisinya kurang representatif. Laskar Panjilaras –julukan Persikapro- terpaksa menyewa Stadion Bayuangga di Kota Probolinggo.
Kondisi itu pun membuat anggaran membengkak. Sehingga di tengah kompetisi, Persikapro kehabisan bensin. Tak bisa melanjutkan laga. Hingga berujung didiskualifikasi. Serta dicoret dari musim kompetisi 2019. Plus masih dijatuhi denda lagi, Rp 50 juta.
"Dibutuhkan anggaran besar jika memang harus home-away. Apalagi, kemarin Persikapro telat daftar untuk ikut. Pendaftaran kan ditutup 2 Agustus kemarin. Yang bertanggung jawab (mengurus pendaftaran), mengira batasan akhir pendaftaran masih 6 Agustus," beber Erfan.
Dengan absen di Liga 3 musim ini, Erfan menyebut, Askab PSSI Kabupaten Probolinggo alihkan fokus ke pembinaan pemain muda. Kompetisi Soeratin dan kelompok umur jadi perhatian utama. "Kami fokus ikut kompetisi Soeratin U-17, kompetisi internal U-13 dan U-15," bebernya.
Anggaran PSSI juga bakal dimanfaatkan untuk pembinaan klub internal. "Untuk pemain Liga 3 yang rencananya kami rekrut, kami rekomendasi ikut tim lain. Agar bisa menambah pengalaman. Sudah ada beberapa pemain yang diminati. Insyaallah akan kami rekomendasi untuk administrasinya," beber Erfan.
Sorotan Klub Internal
Absennya Persikapro pada Liga 3 musim ini jadi perhatian sejumlah klub internal. "Secara garis besar, ajang Liga 3 adalah sebuah kompetisi kasta yang harus diikuti oleh Persikapro. Selain sebagai tolok ukur pembinaan sepak bola, Juga menjadi tolok ukur kembali bahwa Persikapro sampai saat ini masih ada," kata pemilik klub Putra Perkasa Dringu, Nur Ali Husin.
Dengan absennya Persikapro, tentu akan menjadi tanda tanya. Apalagi, PSSI setempat disebutkan juga sudah vakum menggelar kompetisi internal hampir 5 tahunan. "Misal kendalanya dari segi dana, saya tidak akan begitu ngerecoki. Sebab, itu urusan internal. Tapi saran saya, mestinya Persikapro jangan tergantung pada APBD,” kritik Nur Ali.
“Pengurus (Persikapro) harus proaktif mencari solusi terkait itu (anggaran). Sebenarnya ada peluang besar. Kita bisa gaet sponsorship itu mengikuti Liga 3. Tapi, semua ya tergantung pengurusnya," beber Nur Ali. (mu/mie)
Rapor Merah Persikapro di Liga 3 Jatim
=============================
2018
-Persikapro dicoret dari kompetisi karena tak datang dalam 3 laga beruntun.
-Persikapro dijatuhi denda Rp 25 juta. Dua pengurus Persikapro, Bambang Rubianto dan Muhammad Mustadi masing-masing dijatuhi denda Rp 20 juta.
2019
Persikapro absen di kompetisi imbas hukuman tahun sebelumnya.
2022
Persikapro absen dari Liga 3 Jatim karena terganjal anggaran minim. Tak mampu mengarungi kompetisi yang kembali gunakan format home and away. Editor : Ronald Fernando