Cabang SH Terate Kota Probolinggo melakukan prosesi pengambilan tanah dan air di tempat yang sama. Yaitu di Masjid Tiban Babussalam Kota Probolinggo. Sebuah masjid yang tidak hanya diyakini sebagai masjid tertua di Probolinggo. Namun, juga masjid yang dibangun oleh Syekh Maulana Ishak, ayahanda Sunan Giri.
Pengambilan tanah dan air ini dilakukan tim yang diketuai anggota dewan cabang, Mas Budi Agus Purbo Sugiharto. Prosesi diawali dengan doa bersama. Dilanjutkan dengan pengambilan tanah dan air secara bergantian.
Tanah dan air kemudian disimpan oleh Ketua Cabang SH Terate Kota Probolinggo Mas Hery Susilo. Selanjutnya tanah dan air akan diserahkan pada tim kirab budaya peringatan satu abad SH Terate pada 15 Agustus. Hari itu, tim kirab budaya yang berangkat dari Pulau Rote di Papua diperkirakan sampai ke Probolinggo.
Selanjutnya semua tanah dan air dari 351 cabang se Indonesia akan dijadikan satu di bawah monumen peringatan satu abad SH Terate. Tepatnya di depan gedung Graha Krida Budaya, Jalan Merak 17 Madiun.
Ketua Dewan Cabang SH Terate Kota Probolinggo KRA. Tjatur Njoto Ryanto Proboningrat mengatakan, pengambilan tanah dan air dari semua cabang se Indonesia mempunyai maksud tersendiri. “Prosesi ini menggambarkan rasa nasionalisme dan persatuan yang tinggi dari seluruh cabang se Indonesia,” terangnya.
Harapannya, seluruh cabang SH Terate se Indonesia tetap solid, militansi lebih tinggi, soliditas lebih menguat. Sehingga, rasa persaudaraan antarwarga di tiap cabang makin baik.
Di Probolinggo sendiri, Masjid Tiban Babussalam dipilih sebagai tempat untuk mengambil tanah dan air karena aura religiusitasnya yang tinggi. Tanah di Masjid Tiban bersih, karena ada di sekitar tempat ibadah.
Lalu, air di Masjid Tiban merupakan sumber asli yang relatif dekat dengan pantai. Namun, rasanya tawar.
“Hal itu merupakan fenomena alam yang menakjubkan. Sehingga, diharapkan air dan tanah dari Probolinggo ini memiliki aura spiritual yang sangat tinggi,” lanjutnya. (hn)
Editor : Muhammad Fahmi