Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Suhaimi, Sosok di Balik Eksistensi Persekap; Sepak Bola Ibarat Cinta Pertama

Muhammad Fahmi • Sabtu, 12 Februari 2022 | 17:29 WIB
Suhaimi
Suhaimi
Menjadi pesepak bola merupakan mimpinya sejak kecil. Tiga kali ikut seleksi pemain Persebaya, tiga kali pula gagal. Impian menjadi pemain profesional akhirnya kandas. Kiprahnya lebih dominan di tepi lapangan. Baik di jajaran kepelatihan maupun manajemen. Sekarang dia dipercaya menjadi Ketua Askot PSSI Kota Pasuruan.

============================================

Bisa dibilang, karir Suhaimi sebagai pemain sepak bola sangat singkat. Dia mulai merintis sebagai pemain usia remaja dengan klub asal daerah kelahirannya, Persid Jember. Di posisi gelandang, dia memang punya gerakan yang cukup lincah mengecoh lawan. Suhaimi lantas mencoba peruntungannya untuk bergabung dengan Persebaya.

Kali pertama mengikuti seleksi pemain, dia gugur. Begitu pula dengan seleksi yang kedua dan ketiga. Suhaimi harus mengubur dalam-dalam harapan untuk menjadi pemain Persebaya. Dia pun mengakui kekurangannya saat itu. “Gugurnya karena kondisi fisik,” kata Suhaimi.

Maklum. Riono Asnan yang menjadi arsitek Persebaya saat itu, memang dikenal sebagai pelatih yang mengutamakan fisik pemain. Gagal bergabung dengan tim berjuluk Bajol Ijo, Suhiemi lalu fokus menuntaskan kuliahnya di Universitas Putra Bangsa (UPB) Surabaya. “Waktu itu saya hanya fokus kuliah, nggak mikir jadi pemain lagi,” kelakarnya.

Tetapi, bagi Suhaimi, gagal menjadi pemain profesional bukan berarti berhenti bermain bola. Sepak bola ibarat cinta pertamanya. Sulit ditinggalkan. Bahkan, ketika sedang mengikuti kuliah kerja nyata (KKN) di Desa Ngempit, Kecamatan Kraton, Kabupaten Pasuruan, salah satu programnya juga membina tim tarkam di desa itu. Yaitu, Singo Barong FC.

Sampai sekarang pun, Suhaimi tetap aktif membina tim tersebut. Sebab, di desa itu, dia tidak hanya menggelorakan sepak bola sebagai cinta pertama. Melainkan juga menemukan cinta sejatinya yakni Sri Mulyaningtias yang dinikahi pada 1995 silam. Setahun kemudian, Suhaimi sempat ditarik Persiku Kudus. Tetapi namanya belum tercatat sebagai pemain inti. “Dulu itu sekadar ikut latihan. Belum masuk line up,” ungkap pria kelahiran 2 April 1968 itu.

Selepas itu, dia makin aktif dalam sepak bola Pasuruan. Bahkan, Suhaimi juga sempat mendatangkan beberapa pemain Persebaya untuk main di Pasuruan. Antara lain Mursyid Effendi dan Yusuf Ekodono. Semakin lama semakin banyak tim-tim lokal yang dijajal. Termasuk PS Angkota, salah satu tim lokal di Pasuruan yang cukup kuat, meski pemainnya ialah sopir angkutan kota.

Suhaimi lalu mengikuti kursus kepelatihan lisensi D pada 2000 silam. Di antara semua peserta, dia menempati peringkat ketujuh nasional. Suhaimi kemudian dilirik tim Persekap yang saat itu ditukangi Jamrawi. “Di Persekap, memang cukup lama saya menjadi asisten pelatih,” kata pemegang lisensi B tersebut.

Ia hanya dua kali menjadi pelatih kepala. Pertama, saat menangani Persekap Jr pada musim kompetisi 2003. Kemudian pada 2008, saat Persekap mentas dari Divisi III ke Divisi II Nasional. Beberapa pemain jebolan Persekap, kini juga banyak yang memperkuat klub-klub di Liga 1. Sebut saja Dave Mustaine di PSS Sleman, Samsul Arifin di Persik Kediri, hingga Bayu Gatra yang bergabung dengan Madura United.

“Itu yang selalu membuat saya bersyukur bisa mengawal anak-anak sampai jadi pemain nasional,” katanya.

Menjadi pelatih, kata Suhaimi, memang perlu telaten dan sabar. Seorang pelatih tidak sekadar jago mengasah teknik pemain. Tetapi, juga mesti bisa ngemong. Sekaligus mau membuka kesempatan bagi putra daerah. Karena itu, sampai sekarang pun seleksi pemain Persekap diutamakan untuk putra daerah.

“Kalau memang pemain putra daerah sudah cukup, baru kami ambil dari luar. Yang jelas selama ini putra daerah selalu diberi kesempatan lebih besar,” katanya.

Seleksi pemain dengan pola semacam itu, diyakini bisa membuat pembinaan sepak bola terus berjalan. “Jadi supaya terus melahirkan generasi-generasi pemain secara kontinyu,” bebernya. Terlebih, Suhaimi punya angan-angan Persekap suatu saat bertengger di Liga 1. Betapa bangganya jika skuadnya nanti diisi oleh arek-arek Pasuruan sendiri.



 

Photo
Photo
ANGGARAN BELUM CAIR: Penggawa Persekap saat berlaga di Liga 3 tahun lalu. Anggaran KONI untuk tahun ini, sejauh ini belum cair. (Dok. Radar Bromo)

Beri Keleluasan Anak

Sebelum dikenal sebagai Ketua Askot PSSI Kota Pasuruan, kehidupan pribadi Suhaimi juga cukup berliku. Di luar aktivitasnya sebagai pelatih, dia juga punya pekerjaan lain. Seperti berdagang buah-buahan yang dibawa dari Jember untuk dijual di Pasuruan. Bahkan juga nyopir angkutan jurusan Bangil-Wonorejo.

Penggemar klub Barcelona tersebut termasuk orang yang memegang kredo bahwa hidup adalah perjuangan. Karena itu, dia tak pernah risau dengan pekerjaan yang dijalani. “Mungkin karena saya orangnya nggak mau diam. Jadi selalu cari kesibukan,” cerita Suhaimi.

Sambil lalu, Suhaimi juga meng-upgrade skill-nya hingga kini memegang lisensi kepelatihan B. Kegilaannya dengan sepak bola, sebenarnya juga menurun ke putri tunggalnya, Cyntia Amalia Kinasih. Tapi, seiring waktu, Cyntia lebih memilih olahraga underwater hockey. Suhaimi memang memberi keleluasaan bagi anaknya untuk berkiprah di dunia olahraga.

Bahkan sejak usia 6 tahun, Cyntia sudah dikenalkan dengan berbagai jenis olahraga. Basket, tenis, dan terakhir, dia sempat tertarik dengan bulu tangkis. “Sempat saya belikan raket. Tapi hanya bertahan dua hari. Dan lebih minat dengan renang sampai sekarang di underwater hockey,” katanya.

Bagi Suhaimi, istrinya paling berjasa dalam perjalanan karir Cyntia di olahraga prestasi. Hampir setiap latihan, Cyntia selalu didampingi ibunya. “Sedangkan saya lebih sering ngemong anak orang (pemain),” kata Suhaimi berseloroh.

Di samping itu, entah kenapa Cyntia memang selalu grogi jika bertanding di hadapan ayahnya. Tak terkecuali saat membela negara di SEA Games 2019. Padahal Suhaimi sudah dapat tiket untuk datang ke Filipina. Kebetulan, tim sepak bola Indonesia saat itu masuk partai final.

“Jadi PSSI sudah sediakan tiket VIP untuk berangkat. Sekalian nonton final sepak bola di sana. Tapi anak melarang, grogi katanya. Ya, tentu saya lebih eman anaklah, rela nggak jadi berangkat supaya dia bisa fokus bertanding,” kenangnya. (tom/mie)

 

Profil Suhaimi

  1. Asisten Pelatih Persekap 1999

  2. Pelatih Kepala Persekap Jr 2003

  3. Pelatih Kepala Persekap 2008

  4. Asisten Manajer Persekap 2008-sekarang

  5. Komite Sepak Bola Asprov PSSI Jawa Timur

  6. Ketua Askot PSSI Kota Pasuruan


Lahir: Jember, 2 April 1968

Istri: Sri Mulyaningtias

Anak: Cyntia Amilia Kinasih

Klub Favorit: Timnas Indonesia, Barcelona

Pemain Idola: Jessie Mustamu (Indonesia), Frank Rijkaard (Belanda)

Pelatih Idola: Pep Guardiola Editor : Muhammad Fahmi
#liga 3 jatim #persekap kota pasuruan