Solar Telat Datang, Antrean Drum dari Petani-Nelayan Mengular di SPBU Tongas Probolinggo

Inneke Agustin • Dipublikasikan Jumat, 9 Oktober 2026 | 19:49 WIB

MENGULAR: Sejumlah drum kosong milik petani dan nelayan mengantre solar di SPBU 54.672.08, Kecamatan Tongas, Kabupaten Probolinggo, Jumat (9/10) pagi. (M Vikry Romadhoni/ Radar Bromo)

MENGULAR: Sejumlah drum kosong milik petani dan nelayan mengantre solar di SPBU 54.672.08, Kecamatan Tongas, Kabupaten Probolinggo, Jumat (9/10) pagi. (M Vikry Romadhoni/ Radar Bromo)

 

TONGAS, Radar Bromo – Puluhan petani dan nelayan mengantre solar di SPBU 54.672.08, Kecamatan Tongas, Kabupaten Probolinggo, Jumat (9/10) pagi. Mereka membawa drum yang berjajar memanjang di area SPBU.

Salah satu petani, Lukman, 60, mengaku mengantre sejak subuh. Namun kebutuhan solar baru mulai dilayani sekitar pukul 10.00 setelah pasokan datang.

“Solarnya habis. Truknya baru datang pukul 10.00 dan akhirnya mulai dilayani. Sejak tadi subuh kami sudah meletakkan tong di sini untuk antre,” kata warga Desa Dungun, Kecamatan Tongas, tersebut.

Menurut Lukman, antrean tidak hanya diikuti petani, tetapi juga nelayan dan warga lain yang membutuhkan solar. Mereka berasal dari berbagai desa di wilayah Tongas.

Setiap orang dibatasi membeli 30 hingga 35 liter. Jumlah itu dinilai kurang bagi petani yang menggarap sawah luas.

“Kalau untuk petani yang sawahnya luas, sehari ya habis. Kalau ada tandonan enak. Kalau tidak punya dan habis sama sekali ya tidak bisa kerja,” tuturnya.

Meski harus mengantre, Lukman rela membeli solar di SPBU karena harganya lebih murah dibandingkan solar eceran. “Selisih Rp 15 ribu untuk 10 liternya. Kalau misal butuhnya 40 liter, ya selisihnya Rp 60 ribu,” terangnya.

Petani lainnya, Hadi, 44, warga Desa Bayeman, Sumberasih, antre solar sebenarnya sudah sering terjadi. Petani tidak bisa berpindah ke SPBU lain karena penyaluran solar subsidi harus sesuai lokasi yang tercantum dalam surat dari dinas. “Jadi harus sesuai,” katanya.

Hadi menambahkan, antrean biasanya terjadi ketika stok habis dan pengiriman terlambat. Petani juga terkadang tidak kebagian karena adanya pembatasan kuota harian.

Pengawas SPBU 54.672.08 Abdullah menyampaikan, bahwa antrean kemarin (9/10) pagi terjadi karena stok solar habis. Sementara distribusi dari Pertamina telat.

“Sering terlambat memang dari Pertamina. Kadang sampai telat dua hari,” ujar warga Kraksaan tersebut.

Soal pembatasan pembelian solar, Dul (panggilannya) tidak memberikan komentar.

Hanya menurutnya, jumlah pembelian disesuaikan dengan surat keterangan yang dibawa petani. “Ya memang dibatasi untuk tong tiap harinya. Tapi untuk kendaraan tidak,” ujarnya.

Manager Communication, Relations and CSR Pertamina Patra Niaga Jatimbalinus Ahad Rahedi menyebut, kejadian tersebut berkaitan dengan penyesuaian pola distribusi bahan bakar. “Ada penyesuaian pola distribusi. Saat ini rilisnya tengah kami siapkan,” jelasnya. (gus/hn)

Editor : Muhammad Fahmi
spbu tongas nelayan solar petani probolinggo