Serapan Pupuk Subsidi di Kabupaten Probolinggo Belum Merata

Agus Faiz Musleh • Dipublikasikan Kamis, 17 September 2026 | 08:51 WIB
TANAM PADI: Sejumlah lahan pertanian di Desa Ranon, Kecamatan Pakuniran, ditanami padi. (FAHREZA NURAGA/JAWA POS RADAR BROMO)
TANAM PADI: Sejumlah lahan pertanian di Desa Ranon, Kecamatan Pakuniran, ditanami padi. (FAHREZA NURAGA/JAWA POS RADAR BROMO)

KRAKSAAN, Radar Bromo – Serapan pupuk subsidi di Kabupaten Probolinggo hingga Juli 2026 belum merata. Realisasi penyaluran pupuk jenis Urea baru mencapai 68 persen dari alokasi yang disetujui Pemerintah Pusat.

Dari total alokasi urea sebesar 31.494.000 kilogram, realisasi penyaluran tercatat 21.480.066 kilogram atau 68 persen. Angka ini merupakan akumulasi penyaluran pada Januari-Juli 2026.

“Data sampai Juli menunjukkan serapan urea mencapai 68 persen dari alokasi. Artinya, masih ada alokasi yang belum terserap dan perlu menjadi perhatian agar pupuk tersedia sesuai kebutuhan petani," ujar Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Probolinggo Arief Kurniadi.

Jika dilihat per kecamatan, tingkat serapan Urea menunjukkan perbedaan cukup lebar. Kecamatan Krejengan menjadi salah satu wilayah dengan serapan tertinggi, mencapai 98 persen dari alokasi. Disusul Kecamatan Besuk sebesar 92 persen dan Kecamatan Pajarakan 85 persen.

Sejumlah wilayah masih mencatat serapan di bawah 60 persen. Sepeti Kecamatan Leces, baru mencapai 49 persen. Kecamatan Tegalsiwalan, 50 persen; Kecamatan Tiris, 51 persen; dan Kecamatan Sumber, 55 persen.

Kondisi ini menunjukkan bahwa penyerapan pupuk subsidi tidak hanya berkaitan dengan besarnya alokasi. Tetapi juga realisasi kebutuhan dan distribusi di masing-masing wilayah.

Jenis pupuk NPK, realisasinya relatif lebih tinggi. Dari alokasi 30.172.000 kilogram, penyaluran hingga Juli mencapai 22.784.390 kilogram atau 76 persen. Dengan tambahan alokasi 32.747.000 kilogram, capaian tercatat 70 persen.

Namun capaian NPK juga tidak seragam. Sejumlah kecamatan bahkan mencatat realisasi di atas alokasi awal. Kecamatan Besuk mencapai 109 persen; Kecamatan Krejengan, 102 persen; sedangkan Kecamatan Gending dan Kecamatan Dringu, masing-masing 93 persen.

Di sisi lain, Kecamatan Tiris hanya mencatat 42 persen dari alokasi awal. Kecamatan Tegalsiwalan, 56 persen dan Kecamatan Krucil, 55 persen. “Perbedaan serapan antarkecamatan perlu dilihat berdasarkan kondisi dan kebutuhan masing-masing wilayah. Kami terus memantau agar penyaluran pupuk subsidi bisa sesuai dengan kebutuhan petani," ujar Arief.

Data juga mencatat penyaluran pupuk organik yang jauh lebih kecil dibandingkan urea dan NPK. Hingga Juli, realisasi pupuk organik tercatat 57.211 kilogram atau 45 persen dari alokasi 128.000 kilogram.

Pupuk organik, serapan tertinggi tercatat di Kecamatan Gending, 99 persen. Kecamatan Banyuanyar, 82 persen dan Kecamatan Tiris, 95 persen. Sejumlah kecamatan tercatat belum memiliki realisasi penyaluran.

Arief mengatakan, pemantauan terhadap penyaluran akan terus dilakukan, sehingga pupuk subsidi yang telah dialokasikan dapat dimanfaatkan sesuai kebutuhan petani. “Capaian serapan di setiap wilayah terus kami pantau,” ujarnya. (mu/rud)

Editor : Fahreza Nuraga
pupuk subsidi urea npk probolinggo