Giliran Menko PMK Kunjungi Bromo Lihat Kebakaran, Pemadaman Ditargetkan Tuntas Jumat

Agus Faiz Musleh • Dipublikasikan Rabu, 12 Agustus 2026 | 07:20 WIB
PANTAU: Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Pratikno  (tengah) saat berada  Pos Pantau Cemoro Lawang, Sukapura, Selasa (11/8). (Foto: Yono for Jawa pos radar Bromo)
PANTAU: Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Pratikno  (tengah) saat berada  Pos Pantau Cemoro Lawang, Sukapura, Selasa (11/8). (Foto: Yono for Jawa pos radar Bromo)

 

SUKAPURA, Radar Bromo - Kebakaran di kawasan Gunung Bromo memasuki fase akhir pemadaman. Dari sebelumnya 34 titik api, kini masih tersisa dua titik. Pemerintah menargetkan dua titik tersebut dapat dipadamkan Jumat (14/8).

Namun, upaya pemadaman masih menghadapi kendala medan, keterbatasan sumber air, dan cuaca. Ketiga faktor itu membuat operasi pemadaman yang telah berlangsung sekitar 10 hari belum sepenuhnya menuntaskan kebakaran.

Ini diungkapkan Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Letjen TNI Suharyanto saat menemani Menko PMK Pratikno di Bromo. Dia mengatakan, dua titik api yang tersisa berada di medan terjal dengan kemiringan hingga sekitar 80 derajat. Kondisi itu membatasi kemampuan personel darat untuk menjangkau sumber api.

"Kalau kami lihat, apinya ada di ketinggian, sudutnya sampai 80 derajat. Pasukan darat tidak bisa naik sampai ke atas. Ini juga menyangkut keselamatan jiwa," kata Suharyanto saat meninjau penanganan kebakaran Bromo di Pos Pantau Cemoro Lawang, Selasa (11/8).

Kendala kedua adalah sumber air yang terbatas. Untuk operasi pemadaman dari udara, air antara lain diambil dari Ranu Pane. Jarak antara lokasi pengambilan air dan titik kebakaran menjadi persoalan ketika helikopter harus berulang kali kembali untuk mengisi air dan bahan bakar.

Sekretaris Daerah Provinsi Jawa Timur Adhy Karyono mengatakan, pola operasi udara kemudian diubah dengan menambah dukungan helikopter dan menempatkan fasilitas pengisian bahan bakar lebih dekat dengan kawasan operasi.

"Kami melihat dua helikopter ini kurang, apalagi dengan base off-nya ada di Lanud. Ada kendala perjalanan. Karena itu kami menambahkan satu dari Pemprov dan menyewa satu lagi," ujar Adhy.

Dua helikopter kecil tersebut, lanjut Adhy, disiagakan dengan pengisian bahan bakar di Ranu Pane. Dengan cara itu, helikopter tidak perlu berulang kali kembali ke pangkalan utama setelah beberapa kali melakukan water bombing.

"Refueling-nya ada di Ranu Pane sehingga lebih efektif. Tidak perlu selesai empat rit, lima rit langsung ke Lanud lagi. Kalau kena kabut, berhenti," katanya.

Menurut Adhy, penggunaan water bombing tetap diperlukan meskipun titik api telah terlihat mengecil. Bara yang tersisa dapat kembali memicu api, terutama pada malam hari.

"Tidak akan selesai kalau tidak water bombing karena sifat merembetnya, terutama kalau malam. Walaupun sudah kering, ternyata percikan itu muncul lagi, bara api lagi," ujarnya.

Saat ini tersedia tiga helikopter untuk operasi water bombing. Suharyanto mengatakan, apabila dua titik api dapat dituntaskan sesuai target, dua unit helikopter akan dapat dialihkan ke daerah lain yang juga membutuhkan penanganan kebakaran.

"Target kami, dua titik ini Jumat sudah selesai. Artinya, kita bisa geser bombing itu. Dua bombing kita geser ke tempat lain karena tempat lain juga membutuhkan untuk pemadaman kebakaran," kata Suharyanto.

Selain operasi pemadaman, pemerintah mempertimbangkan operasi modifikasi cuaca apabila tersedia awan yang cukup untuk menghasilkan hujan. Suharyanto mengatakan, berdasarkan informasi yang diterima dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika, terdapat potensi awan hujan pada 14-16 Agustus atau sekitar 18 Agustus.

"Kalau memang betul-betul ada, nanti kita akan lakukan operasi modifikasi cuaca supaya datang hujan. Kalau hujan tentu saja lebih efektif dan lebih efisien," ujarnya.

Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Pratikno mengatakan, hujan atau pembasahan kawasan rawan diperlukan bukan hanya untuk membantu memadamkan api yang tersisa, tetapi juga mencegah munculnya titik api baru.

"Kita bukan hanya memadamkan api, tetapi juga membuat yang sudah rawan-rawan itu untuk dibasahi," kata Pratikno.

Risiko munculnya kebakaran baru menjadi perhatian karena kondisi kering diperkirakan masih berlangsung. Pratikno meminta pemerintah daerah tidak hanya berkonsentrasi pada lokasi kebakaran Bromo, tetapi juga melakukan pencegahan di kawasan lain yang memiliki risiko serupa.

"Kalau sekarang saja sudah kering ditambah kekeringan berlanjut satu setengah bulan lagi, bagaimana kondisinya? Risikonya pasti lebih besar lagi," ujarnya.

Pratikno juga mengingatkan pentingnya keterlibatan masyarakat dan wisatawan untuk mencegah sumber api baru. Aktivitas manusia di kawasan wisata yang rawan kebakaran dinilai perlu diawasi lebih ketat.

"Ini penting, Pak Bupati, terutama untuk mengajak peran serta masyarakat. Hati-hati termasuk wisatawan, hati-hati dengan api, jangan sampai kemudian memicu kebakaran yang lebih luas," katanya.

Bagi pemerintah pusat, penyelesaian kebakaran Bromo juga berkaitan dengan keterbatasan sumber daya penanggulangan bencana secara nasional. Kebakaran terjadi di sejumlah wilayah lain, sementara banjir masih berlangsung di beberapa daerah.

"Energi nasional kita sudah tersebar ke mana-mana untuk mengurusi bencana ini. Karena itu, peran daerah menjadi penting," kata Pratikno. (mu)

 

Editor : Abdul Wahid
pasuruan kebakaran bromo bromo tnbts sukapura