Kasus perkawinan anak masih menjadi persoalan serius yang berdampak luas terhadap kehidupan sosial masyarakat. Berpotensi memicu masalah di berbagai sendi kehidupan. Juga berkorelasi dengan meningkatnya risiko stunting, kematian ibu, dan bayi.
=================================
BERANGKAT dari masalah itu, Pengadilan Agama (PA) Probolinggo menghadirkan inovasi AMIN SIGAPP (Asesmen Psikologis dan Konseling Sinergi Cegah Perkawinan Anak dan Pemberdayaan Perempuan) pada tahun 2025.
Ketua PA Probolinggo Achmad Fausi, S.H.I., M.H. menjelaskan, program ini lahir dari keprihatinan atas tingginya permohonan dispensasi kawin yang masuk ke Kantor PA. Berdasarkan berbagai temuan, sebagian besar permohonan dipengaruhi oleh faktor kemiskinan, rendahnya tingkat pendidikan, tekanan sosial, kehamilan yang tidak direncanakan, hingga kurangnya pemahaman orang tua mengenai dampak perkawinan anak.
Memang Kantor PA memiliki kewenangan memberikan dispensasi kawin. Namun proses tersebut, menurut Fausi, tidak dapat dilakukan serta merta. Setiap perkara harus melalui pemeriksaan mendalam untuk memastikan kesiapan calon mempelai dan kondisi keluarganya. “Harus benar-benar dicek kondisi kedua mempelai dan keluarganya,” ujarnya.
Sebelum adanya program ini, pemohon dispensasi kawin harus mendatangi sejumlah instansi untuk memperoleh asesmen psikologis dan konseling. Proses itu dinilai kurang efektif karena memerlukan waktu lebih lama, biaya transportasi tambahan, serta berpotensi membuat masyarakat enggan mengikuti pendampingan yang sebenarnya sangat dibutuhkan.
Melalui AMIN SIGAPP, PA Probolinggo berkolaborasi dengan Pemerintah Kota Probolinggo, khususnya Dinas Sosial, Pemberdayaan Perempuan, dan Perlindungan Anak (Dinsos PPPA). Psikolog dan konselor kini ditempatkan di lingkungan pengadilan. Sehingga masyarakat dapat memperoleh layanan secara terpadu dalam satu lokasi.
“Dengan sistem ini, birokrasi yang sebelumnya berbelit dapat dipangkas menjadi konsep one stop service,” kata Fausi. (gus/hn/*)
Berikan Solusi Sosial untuk Selamatkan Generasi Masa Depan
AMIN SIGAPP juga dirancang sebagai instrumen pencegahan berbagai persoalan sosial yang kerap muncul akibat perkawinan anak. Program ini sekaligus mendukung agenda pembangunan nasional dalam peningkatan kualitas sumber daya manusia.
Pendekatan yang dilakukan melalui AMIN SIGAPP tidak hanya berfokus pada aspek hukum. Namun juga menyentuh dimensi sosial, kesehatan, dan pemberdayaan keluarga.
Melalui asesmen psikologis, konseling keluarga, edukasi kesehatan reproduksi, perlindungan perempuan, serta penguatan kesiapan mental calon pasangan, program ini diharapkan mampu menekan angka perkawinan anak. Sekaligus mengurangi berbagai dampak turunannya.
“Di antaranya, risiko perceraian usia muda, kekerasan dalam rumah tangga (KDRT), hingga kemiskinan yang muncul akibat ketidaksiapan membangun keluarga,” jelas Ketua Pengadilan Agama (PA) Probolinggo Achmad Fausi, S.H.I., M.H.
Komitmen itu bahkan tidak berhenti pada tahap asesmen dan konseling. PA Probolinggo juga menghadirkan program lanjutan TOP CERDIK. Program ini ditujukan bagi pasangan usia muda yang belum memiliki pekerjaan.
“Program ini dilaksanakan melalui kerja sama dengan Dinas Perindustrian dan Tenaga Kerja (Disperinaker) Kota Probolinggo untuk memberikan pelatihan keterampilan dan peningkatan kapasitas kerja,” sebutnya.
Harapannya, pendampingan yang diberikan tidak hanya membantu calon pasangan memahami konsekuensi perkawinan. Namun juga membekali mereka dengan kemampuan untuk membangun kehidupan yang lebih mandiri dan sejahtera.
Fausi menegaskan, AMIN SIGAPP menjadi langkah nyata menghadirkan pengadilan yang lebih humanis dan responsif terhadap persoalan sosial masyarakat. Program ini juga membantu hakim memperoleh gambaran yang lebih komprehensif mengenai kesiapan fisik, mental, dan psikologis para pihak dalam perkara dispensasi kawin.
“Pengadilan Agama tidak hanya mengadili perkara, tetapi juga memberikan solusi sosial bagi masyarakat. Melalui upaya bersama ini, kami berharap dapat menyelamatkan masa depan anak-anak. Sekaligus mendukung terwujudnya Indonesia Emas dengan generasi yang sehat, berkualitas, dan berdaya saing,” pungkasnya. (gus/hn/*)
Editor : Muhammad Fahmi