BERDIRI kokoh selama lebih dari delapan dekade di tepian Jalur Pantura, Rumah Makan Rawon Nguling sukses merawat cita rasa legendarisnya lintas generasi.
Kuliner khas daerah ini, bahkan telah dinobatkan sebagai Warisan Budaya Takbenda sejak tahun 2018.
Perjalanan warung legendaris ini, bermula pada tahun 1942 di masa pendudukan Jepang.
Sepasang suami istri, Mbah Karyoredjo dan Mbah Marni, merintis usaha kuliner ini dengan nama awal Warung Lumayan di Desa Tambakrejo, Kecamatan Tongas, Kabupaten Probolinggo.
Pada dekade 1960-an, pengelolaan beralih ke generasi kedua di bawah kendali M. Dahlan dan Siti Fatimah Dahlan.


Pada masa inilah, nama warung resmi berganti menjadi Rawon Nguling, demi menyesuaikan dengan sebutan kawasan yang sudah melekat di ingatan para pelintas jalan.
Kini, tongkat estafet bisnis keluarga tersebut dipegang oleh generasi ketiga, Ir. Ar. H. Rofiq Ali Pribadi, S.T., M.T., IPM., IAI.
Selaku pengelola sekaligus Ketua PHRI Kabupaten Probolinggo, Rofiq tetap disiplin menerapkan resep asli para pendahulu, tanpa mengubah pakem sedikit pun.
"Kami belajar langsung di dapur. Tidak hanya memahami resep, tetapi juga membangun insting memasak yang diwariskan secara turun-temurun," ujar Rofiq.
Keaslian rasa Rawon Nguling terletak pada proses pengolahan bumbu, yang masih digongso menggunakan kayu bakar.
Bahan bakunya pun dipilih secara selektif, mulai dari kluwek kualitas prima, hingga sayuran segar yang didatangkan langsung dari lereng Gunung Tengger.
Untuk urusan daging, rumah makan ini konsisten menggunakan paha belakang sapi pekerja jantan karena teksturnya yang empuk dan optimal dalam menyerap bumbu.
Pengaturan api selama memasak juga dijaga ketat, agar bumbu meresap sempurna hingga ke serat terdalam daging.
Konsistensi rasa ini membuat Rawon Nguling, menjadi jujukan favorit para tokoh bangsa.
Mulai dari Presiden ke-4 RI Abdurrahman Wahid (Gus Dur), Presiden ke-6 RI Susilo Bambang Yudhoyono, Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa, hingga pakar kuliner legendaris Bondan Winarno.
Saat ini, ekspansi Rawon Nguling telah menjangkau berbagai wilayah di luar Probolinggo.
Rumah makan ini, telah memiliki tujuh cabang resmi yang tersebar di Jakarta Selatan, Surabaya, Sidoarjo, Malang, Mojokerto, dan Gempol.
Seluruh cabang dipastikan menerapkan standar rasa yang seragam, serta telah mengantongi sertifikat halal resmi demi menjamin kenyamanan konsumen.
Bagi Rofiq, perkembangan usaha bukan semata tentang memperluas jaringan bisnis.
Ada pesan yang jauh lebih penting untuk dijaga, yakni amanah keluarga yang diwariskan dari generasi ke generasi.
“Saya selalu ingat nasihat orang tua untuk tetap rendah hati, bersyukur, dan bekerja dengan penuh ketekunan. Nilai-nilai itulah yang menjadi fondasi utama, dalam menjalankan usaha hingga saat ini,” kata anggota Kadin Kabupaten Probolinggo ini.
Di tengah derasnya perubahan zaman dan menjamurnya berbagai tren kuliner baru, Rawon Nguling memilih tetap setia pada akar yang telah membesarkannya.
Menjaga rasa, menjaga kepercayaan, dan menjaga nilai-nilai yang diwariskan para pendahulu. (gus/one/*)
Rawon Nguling, Legenda Kuliner 8 Dekade
Sejarah Singkat
· 1942: Berdiri saat masa Jepang dengan nama awal Warung Lumayan.
· 1960-an: Berganti nama menjadi Rawon Nguling di bawah generasi kedua.
· 2018: Resmi dinobatkan sebagai Warisan Budaya Takbenda.
Rahasia Rasa Legendaris
· Kayu Bakar: Bumbu tetap digongso secara tradisional agar aroma khas.
· Bahan Terbaik: Sayur segar dari lereng Tengger & kluwek pilihan.
· Daging Khusus: Memakai paha belakang sapi pekerja jantan yang empuk.
Favorit Para Tokoh
· Gus Dur (Presiden ke-4 RI)
· SBY (Presiden ke-6 RI)
· Khofifah Indar Parawansa (Gubernur Jatim)
· Bondan Winarno (Pakar Kuliner)
7 Cabang Resmi
· Probolinggo (Pusat)
· Pasuruan (Gempol)
· Surabaya
· Sidoarjo
· Malang
· Mojokerto
· Jakarta Selatan
Editor : Jawanto Arifin