SUKAPURA, Radar Bromo – Jalur turunan ekstrem wisata Gunung Bromo kini memiliki rest area aman bagi pengendara, terutama motor matik.
Rest area baru itu ada di Ngadisari, Kecamatan Sukapura, Kabupaten Probolinggo.
Fasilitas ini disiapkan sebagai titik berhenti resmi untuk mengurangi risiko kecelakaan akibat rem panas maupun kondisi jalan curam.
Wabup Probolinggo RA Fahmi AHZ meresmikan fasilitas keselamatan bernama Bromo Safety Initiative (BSI) itu Sabtu (13/6).
Peresmian dihadiri sejumlah pihak. Termasuk inisiator pembentukan BSI, Ida Nyoman Heru Siswoyo dan Pemdes Ngadisari.
Nyoman (panggilannya) mengatakan, pendirian rest area aman tersebut dilatarbelakangi masih banyaknya kecelakaan di jalur Bromo. Serta rendahnya pemahaman sebagian wisatawan mengenai risiko penggunaan motor matik di jalur pegunungan.
“Kami juga melihat perlunya dukungan terhadap upaya keselamatan di kawasan wisata Bromo yang berada di wilayah kerja Balai Besar TNBTS,” terang lelaki yang juga koordinator penertiban pos masuk Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS).
Baca Juga: Penyekatan Motor Matik yang Mau ke Bromo Tetap Dilakukan Akhir Pekan
Karena itu, dibukalah BSI sebagai upaya meningkatkan keselamatan wisatawan yang melintasi jalur menurun dari kawasan Gunung Bromo.
Fasilitas utamanya berupa rest area yang dapat digunakan pengendara untuk beristirahat sejenak. Sekaligus mendinginkan sistem pengereman kendaraan setelah melewati medan ekstrem.
“Kontur jalan di kawasan Bromo cukup ekstrem. Karena itu, rest area ini kami hadirkan sebagai layanan keselamatan agar pengunjung memiliki tempat beristirahat sebelum melanjutkan perjalanan,” ujarnya.
Ke depan, BSI akan terus dikembangkan dengan penambahan berbagai fasilitas pendukung. Di antaranya penerangan, toilet, hingga program edukasi keselamatan berkendara bagi wisatawan.
“Kami juga akan melakukan kampanye keselamatan berkendara secara langsung kepada pengunjung. Selain itu, akan ada rekrutmen dan pelatihan relawan BSI agar pelayanan kepada wisatawan semakin optimal,” kata Nyoman.
Kepala Desa Ngadisari Sunaryono menjelaskan, konsep pemberhentian sementara bagi pengguna motor matik sebenarnya telah lama diterapkan di kawasan Curah Tengking, Desa Ngadisari.
Namun sebelumnya, para pengendara hanya berhenti di bahu jalan. Sehingga berisiko terkena kendaraan lain yang melintas.
“Kalau sebelumnya motor berhenti di tepi jalan, sekarang sudah lebih aman karena ada rest area khusus. Pengendara tidak perlu khawatir terkena mobil atau kendaraan lain saat berhenti. Mengingat kondisi jalan di sini cukup curam dan menurun,” ujarnya.
Menurut Sunaryono, area istirahat tersebut memiliki luas sekitar 20 x 20 meter dan mampu menampung hingga 100 sepeda motor.
Di lokasi itu telah tersedia area parkir, tempat duduk, serta tempat berteduh yang dapat dimanfaatkan wisatawan.
“Pengendara cukup berhenti sekitar 10 hingga 15 menit untuk memberikan waktu pendinginan pada rem kendaraan. Setelah itu bisa melanjutkan perjalanan kembali,” katanya.
Wabup Probolinggo RA Fahmi AHZ mengapresiasi lahirnya BSI sebagai bentuk kolaborasi berbagai pihak dalam meningkatkan keselamatan wisatawan di kawasan Bromo.
Menurutnya, keselamatan pengunjung harus menjadi prioritas utama dalam pengelolaan destinasi wisata unggulan tersebut.
“Pemkab Probolinggo mengapresiasi kolaborasi yang terjalin. Mulai dari penyediaan lahan oleh tokoh masyarakat, dukungan pemerintah desa, hingga komunitas yang menginisiasi program ini. Keselamatan wisatawan merupakan hal yang utama,” tegasnya.
Salah seorang wisatawan, Inyunita, 30, asal Kota Kediri menilai, keberadaan BSI sangat membantu pengendara motor matik yang baru turun dari kawasan Bromo.
Menurutnya, fasilitas tersebut dapat menjadi sarana pencegahan kecelakaan akibat rem blong yang kerap terjadi di jalur menurun.
“Sering sekali ada kasus rem blong saat turun dari Bromo. Dengan adanya rest area ini, pengendara bisa berhenti dulu sehingga lebih aman. Fasilitasnya juga cukup lengkap, ada tempat duduk, tempat istirahat, bahkan tersedia makanan dan minuman,” ungkapnya. (gus/hn)
Editor : Muhammad Fahmi