KANIGARAN, Radar Bromo- Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi jenis Pertamax Sejak Rabu (10/6), dikeluhkan sejumlah warga di Kota Probolinggo.
Mereka mengaku harus menyiapkan uang lebih besar untuk memenuhi kebutuhan BBM kendaraan sehari-hari.
Salah seorang pengguna Pertamax, Sandi Prasetyo, 30, warga Kota Probolinggo mengatakan, selama ini ia bekerja di Kraksaan dengan naik mobil pribadi.
Agar stamina mesin kendaraannya terjaga, Sandi selalu menggunakan Pertamax. Namun kini harga Pertamax naik drastis. Sehingga, pengeluarannya pasti akan membengkak.
”Biasanya saya ke Kraksaan naik mobil isi Pertamax Rp 100 ribu bisa buat tiga hari. Kalau harga Pertamax naik begini, bisa-bisa tiap hari minimal Rp 50 ribu untuk BBM. Makin berat pengeluaran,” katanya.
Harga Pertamax awalnya Rp 12.300 per liter, kini menjadi Rp 16.250 per liter. Artinya, ada kenaikan Rp 3.950 per liter.
Dengan kenaikan harga itu, menurutnya, pengeluaran bulanannya akan bertambah. Belum lagi sepeda motornya, yang biasanya juga menggunakan BBM Pertamax.
”Saya kaget naiknya bisa setinggi itu. Dari Rp 12.300 langsung jadi Rp 16.250. Kayaknya ke depan saya memilih isi Pertalite daripada pengeluaran membengkak di BBM,” ungkapnya.
Keluhan serupa disampaikan salah satu ASN Pemkot Probolinggo yang tidak mau namanya disebut. Menurutnya, kenaikan harga Pertamax akan membuat biaya operasional makin tinggi.
Sebab, kendaraan dinas dilarang memakai Pertalite. Karena itu, mau tidak mau harus tetap pakai Pertamax.
”Yang berat itu mobil dinas. Karena kenaikan harga BBM nonsubsidi ini tidak diimbangi dengan kenaikan nilai BBM untuk perjalanan dinas. Bisa bengkak di BBM nanti perjalanan dinas,” ungkapnya.
Area Manager Comm, Rel. & CSR Jatimbalinus PT Pertamina Patra Niaga Ahad Rahedi enggan memberikan keterangan terkait keluhan masyarakat.
Menurutnya, Pertamina Patra Niaga melakukan penyesuaian harga jual BBM nonsubsidi untuk produk Pertamax dan Pertamax Green.
Penyesuaian harga ini diputuskan setelah dikoordinasikan dengan pemerintah sebagai regulator. Juga dilakukan sesuai mekanisme evaluasi berkala yang mempertimbangkan perkembangan harga minyak dunia serta harga pasar keekonomian.
“Penyesuaian harga Pertamax dan Pertamax Green dilakukan setelah melalui proses evaluasi sesuai formula harga yang ditetapkan pemerintah,” katanya
Meski demikian, menurutnya, harga Pertalite dan Biosolar tidak berubah alias tetap. Itu bentuk komitmennya melaksanakan tugas pendistribusian BBM bersubsidi. Baik BBM jenis gasolin yaitu Pertalite dan BBM jenis gasoil yaitu Biosolar.
Harga jual kedua produk BBM bersubsidi tersebut tetap dilayani dengan harga jual Pertalite Rp. 10.000/liter dan Biosolar Rp. 6.800/liter. ”Maka harga BBM bersubsidi tidak mengalami perubahan,” terangnya. (mas/mie)
Editor : Muhammad Fahmi