KOMITMEN Pemerintah Desa Warujinggo, Kecamatan Leces, Kabupaten Probolinggo, dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat tidak hanya diwujudkan melalui pembangunan infrastruktur. Berbagai program pemberdayaan ekonomi dan perlindungan sosial juga terus digencarkan agar manfaat pembangunan dapat dirasakan langsung oleh warga.
Pengembangan peternakan ayam petelur sebagai program ketahanan pangan desa menjadi salah satu langkah nyata Pemerintah Desa Warujinggo, dalam upaya meningkatkan perekonomian warganya. Peternakan di Dusun Darungan, itu juga dicanangkan menjadi sumber pendapatan desa sekaligus membuka peluang kerja bagi masyarakat.
Kepala Desa Warujinggo Edi Suwarwi mengatakan, peternakan ayam petelur dipilih karena memiliki prospek yang baik serta perawatannya relatif mudah. Kini, ratusan ekor ayam petelur dipelihara secara rutin dengan pemberian pakan berupa sentrat, katul, dan jagung pagi dan sore.
Hasilnya, setiap hari peternakan ini mampu memproduksi empat krat telur. Kemudian, dipasarkan kepada masyarakat sekitar maupun toko-toko yang ada di wilayah desa dan sekitarnya.
“Penjualannya mudah. Biasanya kami jual ke masyarakat dan toko sekitar. Ketika musim hajatan seperti sekarang, permintaan meningkat sehingga terkadang stok yang tersedia kurang,” ujarnya.
Program ketahanan pangan ini diharapkan mampu memberikan kontribusi terhadap peningkatan pendapatan asli desa (PADes). Sekaligus menciptakan lapangan pekerjaan baru bagi warga.
“Harapannya tentu bisa menjadi sumber pendapatan desa dan menyerap tenaga kerja masyarakat,” ujar Edi.
Selain memperkuat sektor ekonomi melalui ketahanan pangan, Pemerintah Desa Warujinggo juga turut mendukung program perlindungan sosial pemerintah. Yakni, menyalurkan bantuan pangan kepada masyarakat yang membutuhkan.
Sebanyak 424 paket bantuan pangan dari Pemerintah Pusat disalurkan kepada warga di Balai Desa Warujinggo. Mayoritas penerima merupakan masyarakat kurang mampu yang membutuhkan dukungan untuk memenuhi kebutuhan pokok sehari-hari.
“Harapan kami, bantuan pangan ini dapat membantu meringankan beban kebutuhan masyarakat, terutama bagi keluarga yang membutuhkan,” kata Edi.
Melalui sinergi antara program pemberdayaan ekonomi dan bantuan sosial ini, Pemerintah Desa Warujinggo berharap ketahanan pangan masyarakat dapat semakin kuat. Serta, kesejahteraan warga terus meningkat dari waktu ke waktu. (gus/rud/*)
Genangan Teratasi, Pelayanan Makin Baik
PEMERINTAH Desa Warujinggo, juga terus membenahi sarana dan prasarana desa guna menciptakan lingkungan yang lebih nyaman dan mendukung aktivitas warga. Salah satu yang menjadi perhatian tahun ini adalah pembuatan drainase sepanjang 43 meter dengan lebar 60 sentimeter.
Pembangunan drainase dilakukan di lokasi yang sebelumnya belum memiliki saluran pembuangan air, sehingga kerap mengalami genangan saat hujan turun. Keberadaan drainase sangat dibutuhkan, karena jalan tersebut merupakan akses penting bagi warga menuju kawasan permukiman. Juga terdapat Taman Pendidikan Alquran (TPQ) dengan 90 orang santri.
“Dulu saat hujan, air sering menggenang karena tidak ada drainase. Padahal, jalan ini menjadi akses warga dan juga santri TPQ. Ketika hujan, mereka harus melewati genangan air yang tingginya bisa sampai betis orang dewasa,” ujar Kepala Desa Warujinggo, Edi Suwarwi.
Setelah drainase rampung dibangun, aliran air lebih lancar dan genangan yang selama ini dikeluhkan warga dapat diminimalkan. Keberadaannya memberikan manfaat langsung bagi masyarakat. Terutama bagi anak-anak yang setiap hari beraktivitas di lingkungan sekitar.
Pemerintah Desa Warujinggo, juga melakukan renovasi Pendapa Balai Desa yang selama bertahun-tahun belum tersentuh perbaikan. Menurut Edi, sejak 2000 pendapa balai desa belum pernah direnovasi besar. Kondisi atap yang bocor di berbagai bagian, membuat masyarakat saat mengikuti kegiatan desa menjadi berkurang nyaman.
“Karena sudah lama tidak direnovasi, banyak bagian yang bocor. Akhirnya, kami lakukan perbaikan agar pendopo kembali layak digunakan,” katanya.
Usai renovasi, kini pendapa lebih nyaman dan representatif. Berbagai kegiatan masyarakat maupun pelayanan desa dapat berlangsung dengan lebih baik tanpa terganggu kondisi bangunan.
“Pendapa ini sering digunakan untuk berbagai kegiatan masyarakat. Setelah direnovasi, warga merasa lebih nyaman dan senang saat memanfaatkannya,” katanya. (gus/rud/*)
Editor : Fahreza Nuraga