TONGAS, Radar Bromo - Direktorat Jenderal Perkeretaapian (DJKA) Kementerian Perhubungan bersama Balai Pengujian Perkeretaapian menggelar uji fungsi Jembatan Welded Through Truss (WTT) BH 374.
Uji fungsi dilakukan di jalur Bayeman–Probolinggo, Jumat (22/5), untuk memastikan keselamatan perjalanan kereta.
Pengujian dilakukan pukul 13.00–14.00 saat tidak ada kereta melintas. Tim penguji menggunakan dua lokomotif CC300 milik Balai Perawatan PT INKA dengan total bobot lebih dari 180 ton sebagai simulasi beban maksimal.
Kepala Balai Teknik Perkeretaapian Kelas I Surabaya Denny Michels Adlan menjelaskan, pengujian ini merupakan bagian dari pemantauan rutin pascaoperasi jembatan sejak 2022.
Yang diuji yaitu kekuatan struktur dan tingkat kelendutan jembatan saat menerima beban maksimal untuk memastikan sesuai standar.
“Pengujian berkala ini menjadi langkah penting dalam menjaga keselamatan perjalanan kereta api, khususnya jalur yang kini dilintasi KA Komuter dengan frekuensi semakin tinggi,” terang Denny.
Jembatan BH 374 dibangun menggantikan struktur lama peninggalan era Djawatan Kereta Api 1950-an yang rusak akibat banjir.
Jembatan dibangun ulang menggunakan rangka baja modern, lebih besar dan kokoh untuk mengantisipasi risiko banjir di masa depan.
“Harapannya, struktur jembatan tetap aman meski terjadi banjir besar atau arus deras, sehingga perjalanan kereta tidak terganggu,” jelas Denny.
Uji fungsi serupa, menurut Denny, telah dilaksanakan di Kediri dan Banyuwangi. Sementara bulan depan dijadwalkan untuk dua jembatan lain di Jember.
“Dari evaluasi sementara, performa jembatan yang diuji sejauh ini masih sangat baik,” pungkasnya.
Pengujian itu sendiri dilakukan dengan dua metode yaitu dinamis dan statis.
Pada uji dinamis, lokomotif melintas dengan kecepatan 60 km/jam untuk memantau respons jembatan terhadap getaran dan beban bergerak.
Sedangkan uji statis dilakukan dengan menghentikan lokomotif di empat titik berbeda. Yaitu 25 persen, 50 persen, 75 persen, dan 100 persen panjang bentang jembatan, untuk mengukur kelendutan maksimum.
“Alat prisma digunakan untuk mengukur kelendutan dan hasil sementara masih aman, tidak melebihi ambang batas,” kata Humas Balai Teknik Alfaviega Septian Pravangasta.
Menurutnya, jembatan BH 374 dirancang menahan beban hingga 200 ton dan diproyeksikan memiliki usia layanan hingga 50 tahun.
Dengan berat total pengujian 180 ton, kondisi ini jauh di atas beban kereta penumpang normal sekitar 50–60 ton. Sehingga representatif untuk beban maksimal. (gus/hn)
Editor : Muhammad Fahmi