Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Kota Probolinggo Catat Kesenjangan Ekonomi Terendah, Angka Gini Rasio Hanya 0,258

Arif Mashudi • Jumat, 15 Mei 2026 | 09:26 WIB
Ilustrasi (Istimewa)
Ilustrasi (Istimewa)

KANIGARAN, Radar Bromo- Tingkat kesenjangan ekonomi Kota Probolinggo menjadi yang terendah di antara kota-kota lain se-Jawa Timur. Angka Gini Ratio Kota Probolinggo hanya 0,258 atau menjadi kota terendah kedua dari 38 kabupaten/kota di Jawa Timur.

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Probolinggo Joko Santoso mengatakan, dalam pembangunan ekonomi dan pengentasan kesenjangan sosial, Kota Probolinggo menunjukkan capaian positif. Berdasarkan data BPS, angka Gini Ratio Kota Probolinggo tercatat 0,258 atau menjadi kota terendah kedua dari 38 kabupaten/kota di Jawa Timur.

Capaian ini menempatkan Kota Probolinggo sebagai daerah dengan tingkat kesenjangan ekonomi yang terendah di antara kota-kota lain di Jawa Timur.

Gini Ratio merupakan indikator untuk mengukur tingkat kesenjangan pendapatan masyarakat. Semakin kecil angka Gini Ratio, maka semakin merata distribusi pendapatan masyarakat di suatu daerah,” jelasnya.

Joko mengatakan, angka 0,258 tergolong sangat baik untuk ukuran wilayah perkotaan. Sebab, kota pada umumnya memiliki tingkat kesenjangan yang lebih tinggi dibanding wilayah kabupaten yang berbasis pertanian.

Secara umum, semakin kecil Gini Ratio, berarti tingkat kesenjangan pendapatan masyarakat semakin merata. Untuk ukuran kota, angka 0,258 ini termasuk bagus dan rendah,” jelasnya.

Capaian ini, kata Joko, tidak lepas dari berbagai upaya pemerintah daerah dalam menjaga daya beli masyarakat, mengendalikan inflasi, menurunkan angka kemiskinan, hingga mendorong pertumbuhan ekonomi yang inklusif.

Pihaknya melakukan pengukuran kemiskinan melalui pola pengeluaran masyarakat, bukan dari penghasilan yang disampaikan secara langsung. Tujuannya agar dapat memperoleh gambaran kondisi ekonomi masyarakat secara lebih riil dan objektif.

“Nilai ukurnya adalah pengeluarannya. Dari situ terlihat kemampuan masyarakat dalam memenuhi kebutuhan dasar. Ketika daya beli tetap terjaga dan masyarakat masih mampu berbelanja secara normal, berarti kondisi ekonomi relatif stabil,” ujar pria kelahiran Ngawi ini.

Wali Kota Probolinggo Aminuddin mengatakan, capaian Gini Ratio ini menjadi motivasi untuk terus memperkuat program pembangunan yang menyentuh langsung kebutuhan masyarakat. Namun ia tidak ingin hanya berfokus pada angka semata.

Menurutnya, yang paling penting adalah bagaimana masyarakat benar-benar merasakan manfaat pembangunan. Mulai dari akses kesehatan, pendidikan, kesempatan kerja, hingga peningkatan kesejahteraan keluarga.

Alhamdulillah, capaian Gini Ratio Kota Probolinggo sebesar 0,258 menjadi indikator bahwa pembangunan dan pertumbuhan ekonomi di Kota Probolinggo mulai bergerak lebih merata,” terangnya.

Terpisah, Ketua Komisi III DPRD Kota Probolinggo Muchlas Kurniawan mengatakan, angka Gini Ratio Kota Probolinggo sebesar 0,258, harus benar-benar dengan kondisi riil masyarakat. Ia berpesan, jangan sampai capaian tersebut hanya di sebuah catatan angka. Tetapi kondisi ekonomi di masyarakat masih sangat rendah.

“Semoga saja angka Gini Ratio benar-benar membuktikan kesenjangan ekonomi di masyarakat memang rendah,” harapnya. (mas/rud)

Editor : Fahreza Nuraga
#gini ratio #pertumbuhan #probolinggo #ekonomi