LUMBANG, Radar Bromo–Akses vital warga Desa Negororejo, Kecamatan Lumbang, Kabupaten Probolinggo, akhirnya kembali terbuka setelah sebulan terputus akibat jembatan utama alami longsor.
Jembatan bailey yang dibangun sebagai pengganti sementara Jembatan Duren yang ambrol, rampung dipasang pada Selasa (5/5).
Pantauan Jawa Pos Radar Bromo pada Rabu (6/5) pagi, struktur jembatan darurat tersebut telah terhubung di kedua sisi dan dilengkapi pemasangan lantai.
Sejumlah pengendara motor bahkan mulai melintasi jembatan itu. Meski masih menunggu uji kelayakan.
Rampungnya jembatan bailey ini menjadi kabar penting bagi warga Negororejo dan sekitarnya.
Sebab, ambrolnya Jembatan Duren membuat warga menghadapi keterbatasan akses jalan. Terutama karena Jembatan Duren merupakan jalur penghubung antarwilayah.
Namun demikian, jembatan masih harus melalui tahapan pengujian. Sebelum kemudian dinyatakan sepenuhnya aman digunakan.
Komandan Yon Zipur 5/ABW Kepanjen Malang Letkol Czi Wahyu Wuhono Widhi Nugroho menjelaskan, proses perakitan jembatan dilakukan melalui kolaborasi lintas satuan. Pihaknya bekerja sama dengan Yonif TP 836/Brahma Yodha di Krucil, Kodim 0820, serta Koramil setempat.
Baca Juga: Jembatan Duren Lumbang Ambruk Total, Ini Rencana Pembangunan Darurat dan Jalur Alternatifnya
“Perakitan ini hasil kolaborasi kami bersama Yonif TP 836/Brahma Yodha, Kodim 0820, dan Koramil. Selain itu, ini juga menjadi momen pembelajaran bagi personel Yonif karena kami sekaligus melakukan transfer of knowledge,” ujarnya.
Ia menambahkan, jembatan yang dipasang merupakan model terbaru. Bahkan, baru tiba sekitar sepekan di Yonif TP 836/Brahma Yodha sebelum longsor terjadi di Lumbang.
Meski secara fisik telah selesai, jembatan tersebut wajib menjalani uji defleksi dan uji beban sesuai standar operasional prosedur (SOP).
Proses ini dilakukan untuk memastikan kekuatan struktur dan kesesuaian dengan desain teknis.
Lelaki yang biasa dipanggil Widhi itu menyebut, jembatan bailey tipe 1-1 tersebut memiliki kapasitas maksimal hingga 12 ton. Namun demi keamanan, kendaraan yang melintas direkomendasikan hanya berbobot 5 hingga 6 ton.
“Secara kemampuan bisa sampai 12 ton. Tetapi untuk keamanan kami sarankan di kisaran 5 sampai 6 ton. Kami mengimbau masyarakat agar tidak melintas dengan kendaraan over tonase,” tegasnya.
Proses pengujian sendiri, menurutnya, diperkirakan berlangsung sekitar dua jam. Melibatkan personel khusus dari Yon Zipur 5/ABW sebagai quality control (QC). Setelah itu, pengecekan berkala akan dilakukan setiap tiga bulan.
“Nanti akan dicek secara rutin. Jika ditemukan baut atau pasak yang longgar, akan segera diperbaiki,” imbuhnya.
Selain pengawasan teknis, pihaknya juga akan memberikan edukasi kepada masyarakat sekitar, terkait penanganan kondisi darurat pada jembatan. Khususnya edukasi pada Babinsa.
“Kami akan memberikan pelatihan terkait langkah yang harus dilakukan jika terjadi hal tak terduga. Ini penting agar masyarakat memiliki kesiapsiagaan,” jelasnya.
Komandan Korem 083/Baladhika Jaya Kolonel Inf Wahyu Ramadhanus Suryawan menambahkan, jembatan yang dipasang merupakan jenis modular terbaru buatan China. Jembatan ini bersifat sementara dan dapat dibongkar pasang.
Menurutnya, pembangunan jembatan ini merupakan respons cepat TNI AD dalam membantu pemulihan infrastruktur pascabencana melalui kolaborasi dengan pemerintah daerah dan masyarakat.
“Jembatan ini menjadi solusi darurat untuk mempercepat pemulihan akses warga,” ujarnya.
Ia berharap, dengan kembali terhubungnya jalur tersebut, aktivitas masyarakat bisa segera normal. Termasuk distribusi hasil pertanian dan kegiatan ekonomi lainnya.
“Dengan konektivitas yang kembali terbangun, diharapkan aktivitas masyarakat meningkat dan berdampak pada kesejahteraan serta penghasilan daerah,” pungkasnya.
Diketahui, sebelumnya hujan deras yang mengguyur wilayah Kecamatan Lumbang menyebabkan Jembatan Duren, Desa Negororejo terputus pada Sabtu (28/3) dini hari.
Peristiwa itu sempat melumpuhkan akses transportasi antarwilayah dan membahayakan pengguna jalan. (gus/hn)
Editor : Muhammad Fahmi