Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Umat Hindu Tengger Probolinggo Rayakan Pagerwesi, Begini Harapannya

Inneke Agustin • Kamis, 9 April 2026 | 09:37 WIB
MERIAH: Suasana perayaan Hari Suci Pagerwesi di Pura Giri Mukti, Desa Sapikerep, Kecamatan Sukapura pada Rabu (8/4). (RUJIYANTO FOR JAWA POS RADAR BROMO)
MERIAH: Suasana perayaan Hari Suci Pagerwesi di Pura Giri Mukti, Desa Sapikerep, Kecamatan Sukapura pada Rabu (8/4). (Rujiyanto for Radar Bromo)

SUKAPURA, Radar Bromo - Ratusan umat Hindu Tengger Kabupaten Probolinggo merayakan Hari Suci Pagerwesi. Berlangsung khidmat di Pura Giri Mukti, Desa Sapikerep, Kecamatan Sukapura serta di Pura Amerta Jati Loji Titi Luhur, Desa Ledokombo, Kecamatan Sumber, Rabu (8/4).

Ketua Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Desa Sapikerep Rujiyanto mengatakan, Hari Pagerwesi merupakan hari suci dalam ajaran Hindu.

Dirayakan setiap 210 hari sekali. Tepatnya pada Rabu Kliwon wuku Sinta dalam kalender Bali (Pawukon).

Secara filosofis, Pagerwesi dimaknai sebagai simbol kekuatan dalam melindungi diri. Khususnya perlindungan batin dari berbagai pengaruh negatif.

Momentum ini juga menjadi sarana untuk memperkuat iman dan keyakinan kepada Tuhan.

“Pagerwesi merupakan peneguhan diri dalam menjalankan Dharma. Di dalamnya juga mengajarkan pengendalian diri serta menjaga keseimbangan hidup,” ujar Ruji.

Menurutnya, Hari Pagerwesi menjadi pengingat bahwa ilmu pengetahuan harus diimbangi dengan moral dan kebijaksanaan.

Hal ini berkaitan dengan rangkaian Hari Saraswati, yang sebelumnya diperingati sebagai turunnya ilmu pengetahuan.

“Setelah Hari Saraswati, Pagerwesi menekankan bahwa ilmu tanpa moral bisa menyesatkan. Maka, ilmu harus disertai etika dan kebijaksanaan dalam penggunaannya,” jelasnya.

Ketua Kelompok Kerja Guru Pendidikan Agama Hindu (KKG PAH) Kecamatan Sumber Wido Mahendra mengatakan, perayaan di Desa Ledokombo diikuti sekitar 150 umat Hindu Tengger.

Katanya, Pagerwesi menjadi momen penting untuk mendekatkan diri kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa, sekaligus memohon perlindungan lahir dan batin.

“Pagerwesi mengajarkan keseimbangan antara Sekala yaitu dunia nyata dan Niskala, dunia spiritual. Artinya, manusia harus mampu menjaga harmoni antara aktivitas duniawi dan kehidupan spiritual,” jelasnya. (gus/rud)

Editor : Fahreza Nuraga
#hindu #tengger #umat #bromo #Probolinggo Banyuwangi