Proyek ini ditargetkan rampung pada Oktober 2026 dengan alokasi anggaran sekitar Rp 11 miliar.
Kepala BB TNBTS Rudijanta Tjahja Nugraha menjelaskan, rencana pembangunan JLKT itu sebenarnya telah dibahas sejak tiga tahun lalu. Hal ini merupakan bagian dari revitalisasi wisata alam bertajuk “New Bromo”.
Namun realisasinya baru dapat dilakukan tahun ini setelah melalui berbagai kajian. Terutama kajian terkait kondisi terkini kawasan kaldera Gunung Bromo.
Penataan jalur, menurutnya, jadi kebutuhan mendesak. Sebab, selama ini aktivitas wisata di Gunung Bromo belum tertata. Sehingga berdampak pada lanskap dan lingkungan.
Salah satunya, jalur kendaraan jip yang digunakan wisatawan saat ini tidak teratur. Membentuk pola menyerupai jaring laba-laba di area kaldera.
“Selain itu, terjadi degradasi lingkungan. Padahal, di kawasan TNBTS terdapat tiga spesies kunci yang harus dijaga. Tidak hanya aspek ekologi, nilai kebudayaan masyarakat Tengger juga harus dilestarikan,” ujar Rudi.
Di sisi lain, jumlah kunjungan wisatawan ke Gunung Bromo terus meningkat setiap tahun.
Tanpa adanya infrastruktur pengendali, kondisi tersebut berisiko memicu bencana ekologi yang berdampak luas. Termasuk memicu bencana pada sektor pariwisata itu sendiri.
“JLKT ini diharapkan menjadi solusi untuk menata pengelolaan kawasan, sekaligus menjaga kelestarian lingkungan. Kami juga akan terus melakukan sosialisasi kepada masyarakat, termasuk melibatkan masyarakat adat dalam prosesnya,” imbuhnya.
Pengerjaan JLKT itu sendiri telah dimulai sejak Maret 2026. Targetnya, pengerjaan selesai dalam waktu 210 hari atau sekitar tujuh bulan.
Jalur ini akan membentang melingkar sepanjang kurang lebih 13 kilometer. Mulai dari kawasan Watu Gedhe dan Cemoro Lawang di Kabupaten Probolinggo hingga Bongkah Dingklik di Kabupaten Pasuruan.
Rudi memastikan, pengerjaan tidak melibatkan pemadatan jalur secara besar-besaran. Fokus utama proyek adalah pemasangan patok jalur serta pembangunan tiga rest area.
“Kami optimistis waktu pengerjaan cukup karena tidak ada pekerjaan pemadatan. Senin (13/4) mendatang, direncanakan akan dilakukan ground breaking oleh Gubernur Jawa Timur,” jelasnya.
Proyek ini dikerjakan oleh PT Tata Bangun Asia dengan nilai kontrak sebesar Rp 11.160.245.031.
Pendanaan berasal dari kerja sama Indonesia dengan Norwegia melalui program Indonesia’s FOLU Net Sink 2030 yang dikelola Kementerian Kehutanan RI.
Anggaran tersebut khusus digunakan untuk pembangunan JLKT dan satu rest area di kawasan Cemoro Lawang.
Sementara dua rest area lainnya, yakni di Dingklik dan Watu Gedhe, akan didanai melalui PNBP APBN dengan nilai sekitar Rp 5 miliar.
“Harapannya, dengan penataan ini, kawasan Bromo bisa tetap lestari sekaligus memberikan pengalaman wisata yang lebih tertata dan berkelanjutan,” pungkasnya. (gus/hn)
Editor : Muhammad Fahmi