Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Kunjungan Wisatawan ke Bromo Melonjak selama Libur Lebaran, Jalur Probolinggo Kalah Ramai

Inneke Agustin • Jumat, 3 April 2026 | 19:12 WIB

 

Jalur bromo via Cemorolawang, Kabupaten Probolinggo. (Fahreza Nuraga/ Radar Bromo)
Jalur bromo via Cemorolawang, Kabupaten Probolinggo. (Fahreza Nuraga/ Radar Bromo)

 SUKAPURA, Radar Bromo- Kunjungan wisata ke Gunung Bromo melonjak signifikan selama libur Lebaran. Potensi pendapatan negara dari tiket masuk bahkan diperkirakan mencapai lebih dari Rp 2,1 miliar.

Namun jumlah wisatawan yang masuk melalui jalur Kabupaten Probolinggo kalah ramai dibanding pintu lainnya.

Data Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (BB TNBTS) mencatat, total wisatawan yang masuk melalui pintu Cemorolawang, Kecamatan Sukapura mencapai 6.502 orang selama Sabtu-Selasa (21–24/3). Baik itu wisaawan nusantara maupun mancanegara.

Rinciannya, 398 pengunjung pada Sabtu (21/3). Lalu 1.718 orang pada Minggu (22/3). Kemudian, 2.139 wisatawan pada Senin (23/3) dan ada 2.247 orang pada Selasa (24/3).

Menurut Kepala BB TNBTS Rudijanta Tjahja Nugraha, jumlah tersebut lebih tinggi dibanding pintu Senduro, Kabupaten Lumajang. Di sini, hanya ada 27 wisatawan yang masuk.

Namun masih berada di bawah pintu Jemplang atau Coban Trisula di Kabupaten Malang sebanyak 9.592 pengunjung.

Juga di bawah Wonokitri atau Pananjakan di Kabupaten Pasuruan yang mencapai 8.550 wisatawan.

“Jadi tahun ini jumlah pengunjung dari arah Kabupaten Probolinggo malah lebih rendah dibanding dari Kabupaten Malang dan Kabupaten Pasuruan. Padahal biasanya paling banyak,” lanjut Rudi, panggilannya.

Kepala Balai Besar TNBTS Rudijanta Tjahja Nugraha menyebut, pergeseran jalur kunjungan diduga dipengaruhi beberapa faktor.

Termasuk adanya tambahan biaya bagi wisatawan yang masuk melalui wilayah Kabupaten Probolinggo.

“Beberapa orang menyampaikan ini karena ada tambahan pungutan tarif dari pemerintah setempat. Kemungkinan itu juga menjadi faktor, sehingga para tour travel memindahkan tamunya lewat pintu lain,” duganya.

Kepala Dinas Kepemudaan, Olahraga, dan Pariwisata Kabupaten Probolinggo (Disporapar) Heri Mulyadi mengatakan, memang ada dua lapis tiket yang diberlakukan.

Selain tiket masuk kawasan yang dipesan secara daring, wisatawan juga dikenakan retribusi daerah di Desa Wonotoro.

Retribusi tersebut telah diberlakukan sejak 2015, dengan tarif Rp 25 ribu untuk wisatawan domestik dan Rp 35 ribu bagi wisatawan mancanegara.

Pungutan itu menurutnya, sebanding dengan fasilitas lengkap yang disediakan. Seperti Seruni Point, Jembatan Kaca, dan rest area.

“Jadi menurut kami, bukan ini yang menjadi faktor penyebab turunnya jumlah kunjungan. Nanti kami cek lagi jumlah pastinya berapa. Sebab, tiap tahun biasanya jalur dari Kabupten Probolinggo yang paling ramai,” terang Heri.

Heri sendiri menilai, penurunan jumlah pengunjung dari jalur Probolinggo tidak semata disebabkan kebijakan tarif.

Melainkan kemungkinan perubahan pola wisatawan yang kini lebih sering bepergian dalam kelompok kecil.

Pemerintah daerah, lanjutnya, terus berupaya meningkatkan kualitas layanan dan fasilitas. Juga memperkuat promosi wisata guna menarik kembali minat wisatawan melalui jalur tersebut. (gus/hn)

Editor : Muhammad Fahmi
#melonjak #wisatawa #lebaran #bromo #tnbts