DRINGU, Radar Bromo - Wilayah Kabupaten Probolinggo masih berpotensi terjadi bencana hidrometeorologi. Sejauh ini Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) memantau 6 wilayah zona kuning. Pasalnya sering terjadi bencana sehingga perlu diwaspadai.
Pemetaan potensi bencana dilakukan secara berkala oleh BPBD Kabupaten Probolinggo. Zonasi tersebut dilakukan berdasarkan jumlah insiden bencana yang pernah terjadi.
Zona tersebut nantinya akan ditindaklanjuti dengan mitigasi risiko bencana. Harapannya dapat meminimalisir dampak yang ditimbulkan.
“Wilayah rawan bencana kami petakan. Saat terjadi bencana, koordinasi dan asesmen bisa dilakukan dengan cepat,” ujar Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Probolinggo Oemar Sjarief.
Sampai awal Maret terdapat 6 wilayah yang masuk zona kuning atau kawasan hati-hati bencana. Sebab telah terjadi 4 sampai 6 kali insiden bencana.
Kondisi lingkungan patut dipantau terlebih lagi saat hujan deras dengan durasi yang lama berpotensi terjadi bencana hidrometeorologi.
Wilayah tersebut meliputi Kecamatan Pajarakan dengan 6 insiden bencana, Lumbang dan Tiris masing-masing 5 insiden bencana. Serta Kecamatan Dringu, Gending, dan Kotaanyar masing-masing 4 insiden bencana.
Sementara pada akhir tahun 2025 terdapat 8 wilayah masuk zona kuning. Diantaranya adalah Kecamatan Banyuanyar, Pajarakan, Kraksaan, dan Pakuniran masing-masing pernah terjadi 6 insiden bencana.
Lalu Kecamatan Wonomerto, Tegalsiwalan dan Paiton masing-masing pernah terjadi 5 insiden bencana. Sementara Kecamatan Kotaanyar pernah terjadi 4 insiden bencana.
“Musim hujan seperti saat ini bencana yang patut diwaspadai adalah bencana hidrometeorologi,” terangnya.
Potensi bencana hidrometeorologi masih perlu diwaspadai. Bencana tersebut bisa terjadi namun menyesuaikan dengan letak dan kondisi geografis.
Seperti di dataran tinggi patut diwaspadai tanah longsor dan dataran rendah waspada potensi banjir.
Sementara untuk bencana hidrometeorologi seperti cuaca ekstrim dan pohon tumbang berpotensi terjadi di dataran tinggi maupun rendah.
“Koordinasi lintas sektor dan kepedulian masyarakat terhadap potensi bencana sangat diperlukan. Bukan hanya sekadar percepatan penanganan dan asesmen yang dilakukan. Tetapi bagaimana cara untuk meminimalisir potensi dan dampak bencana yang bisa ditimbulkan,” pungkasnya. (ar/fun)
Editor : Abdul Wahid