Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Warga Nekat Turuni Tebing Jembatan Duren Lumbang yang Ambruk, Saling Bantu Pakai Tangga Bambu

Inneke Agustin • Senin, 30 Maret 2026 | 18:08 WIB

 Baca Juga: Jembatan Duren Lumbang Ambruk Total, Ini Rencana Pembangunan Darurat dan Jalur AlternatifnyaSEMANGAT: Siswi kelas 1 SDN 2 Lumbang Nadira dibantu warga sekitar menuruni tebing Jembatan Duren, Desa Negororejo, Kecamatan Lumbang, Kabupaten Probolinggo, yang sudah ambruk untuk menuju sekolah Senin (30/3) pagi. (Mokhamad Zubaidillah/ Radar Bromo)

SEMANGAT: Siswi kelas 1 SDN 2 Lumbang Nadira dibantu warga sekitar menuruni tebing Jembatan Duren, Desa Negororejo, Kecamatan Lumbang, Kabupaten Probolinggo, yang sudah ambruk untuk menuju sekolah Senin (30/3) pagi. (Mokhamad Zubaidillah/ Radar Bromo)

LUMBANG, Radar Bromo–Jembatan Duren di Desa Negororejo, Kecamatan Lumbang, Kabupaten Probolinggo, memang sudah ditutup total demi keselamatan pengguna jalan.

Namun warga nekat melewati jembatan yang ambruk dengan cara menuruni atau menaiki sisi curam jembatan.

Warga setempat mengistilahkan sisi curam jembatan itu sebagai tebing. Posisinya di sebelah barat. Sementara di sebelah timur, kondisi jembatan yang putus posisinya landai.

Yang miris, warga menaiki atau menuruni sisi curam jembatan itu dengan menggunakan tangga sederhana dari bambu. Satu demi satu warga bergantian memanfaatkan tangga bambu itu.

Mulai siswa, guru, warga yang mengantar susu, petani, dan masih banyak yang lain. Terutama siswa dan guru, seolah enggan melewatkan hari pertama masuk sekolah Senin (30/3) pagi setelah libur panjang Lebaran.

Pantauan Jawa Pos Radar Bromo, sejumlah murid dan guru berupaya melintasi tebing jembatan yang sudah longsor dengan dibantu masyarakat sekitar.

 

Jalan ini dipilih, sebab jalur alternatif yang tergolong dekat masih belum sepenuhnya dilewati pagi itu.

Umriani, warga Dusun Krajan, Desa Negorerejo adalah salah satunya. Kemarin, dia mengantarkan sang anak, Nadira, yang hendak pergi ke sekolah. Siswi kelas 1 SDN 2 Lumbang tersebut rela menuruni tebing jembatan untuk tiba di sekolah.

“Karena memang belum ada kebijakan daring, maka sekolah tetap berjalan seperti biasa,” katanya.

Umriani mengakui, untuk berangkat ke sekolah mereka memilih lewat jalur rawan tersebut. Bukan tanpa alasan. Sebab, jalur memutar yang disiapkan jaraknya lebih jauh.

“Bila harus memutar lewat Pamatan, jauh jaraknya. Jadinya ya lewat sini saja. Nanti dijemput dan dibantu warga,” ujarnya.

Hal senada disampaikan Kepala SDN Negororejo 2 Dima Vini Fitri Romadhona. Menurutnya, pembelajaran di sekolah dilakukan seperti biasa yaitu dengan cara tatap muka.

Dari total 98 murid di sekolahnya, ada dua anak saja yang diberi dispensasi tidak hadir. Sebab, rumah mereka ada di timur jembatan. Sehingga untuk sampai ke sekolah harus melewati jembatan yang ambruk.

“Sementara yang lain tetap masuk seperti biasa. Kemudian hari ini para guru yang domisilinya di timur juga akan mencoba track dan berkoordinasi dengan ojek menuju sekolah,” tuturnya.

Korwil Dikdaya Kecamatan Lumbang Melas Hariasih berharap jalur dan jembatan alternatif yang dibuat oleh pemerintah bersama warga dapat segera dilalui. Sebab, beberapa murid dan guru memang biasanya lewat jembatan yang ambruk itu.

“Kalaupun nekat menerobos, maka kami batasi jangan sampai di atas jam 11.00, karena biasanya cuaca mulai hujan di atas jam tersebut. Kami juga mempertimbangkan keselamatan mereka. Ya semoga jalan alternatif cepat selesai,” harapnya. (gus/hn)

Editor : Muhammad Fahmi
#tebing #lumbang #jalur alternatif #probolinggo #jembatan ambruk