SUMBER, Radar Bromo-Meski Tawur Agung dilakukan sehari, namun warga Hindu Tengger mempersiapkan kegiatan ini dalam waktu tidak sebentar.
Butuh waktu sebulan lebih untuk membuat ogoh-ogoh dengan anggaran hingga jutaan rupiah.
Seperti yang disampaikan Dian Bayu, 19, warga Desa Wonokerso, Kecamatan Sumber, Kabupaten Probolinggo. Bayu–panggilannya–mengaku, kelompoknya membuat ogoh-ogoh Kala Bendu dalam waktu 40 hari.
“Biasanya kami lembur mulai jam satu siang sampai jam tujuh malam. Itu dikerjakan tiga sampai empat orang,” katanya.
Menurutnya, tidak ada referensi khusus untuk membuat ogoh-ogoh itu. Murni berasal dari imajinasi dia dan teman-temannya.
Bahan-bahan yang digunakan relatif sederhana. Terdiri atas tanah liat, styrofoam, tisu, matras untuk aksesori, dan sabut kelapa untuk bagian rambut.
“Bahannya sederhana, tapi pembuatannya cukup sulit. Tapi kami sudah terbiasa tiap tahun seperti ini,” lanjutnya.
Untuk menyelesaikan satu ogoh-ogoh tersebut, Bayu dan kelompoknya menghabiskan dana hingga Rp 3 juta. Biaya pembuatannya ditopang dari swadaya masyarakat.
“Harapan kami pada pemerintah, barang kali acara ini bisa dapat perhatian, termasuk dibantu pembiayaannya. Ini juga bisa menjadi daya tarik Kabupaten Probolinggo dan menjadi event tahunan,” tuturnya.
Hal senada disampaikan Kerta, 22, warga Desa Wonokerso. Ia dan kelompoknya membuat ogoh-ogoh Lutung Duglig dalam waktu 50 hari. Sekitar 10 orang terlibat dalam pembuatannya.
“Ini dikerjakan sepuluh orang. Tapi karena kami mayoritas kerja, jadi biasanya dikerjakan malam. Sekitar jam tujuh malam sampai jam dua belas malam,” tuturnya.
Bagian tersulit dari ogoh-ogohnya adalah membuat kepala. Sebab, kepala itu bisa menoleh ke kanan dan ke kiri.
Baca Juga: Khidmatnya Perayaan Tawur Agung dan Pawai Ogoh-ogoh di Sumber Probolinggo
“Biar bisa noleh itu, kami pakai mesin wiper dari mobil. Ini yang cukup mahal. Satu ogoh-ogoh bisa menelan biaya Rp 2,5 juta,” ungkapnya.
Setelah acara puja, ogoh-ogoh ini akan dibakar dan dibuang ke Jurang Kendil.
“Ya memang tradisinya seperti itu. Ini untuk menghilangkan unsur negatif, dibakar digantikan dengan unsur positif,” pungkas Kerta. (gus/hn)
Editor : Muhammad Fahmi