Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Jelang Lebaran, Tak Hanya Baru, di Probolinggo Pakaian Bekas Juga Diburu

Inneke Agustin • Senin, 16 Maret 2026 | 11:07 WIB
RAMAI: Sejumlah warga mencari pakaian di salah satu stan pakaian di Kota Probolinggo. (INNEKE AGUSTIN/JAWA POS RADAR BROMO)
RAMAI: Sejumlah warga mencari pakaian di salah satu stan pakaian di Kota Probolinggo. (INNEKE AGUSTIN/JAWA POS RADAR BROMO)

PROBOLINGGO, Radar Bromo- Menjelang Hari Raya Idul Fitri 1447 Hijriah, pusat-pusat pertokoan di Kota Probolinggo, mulai dipadati masyarakat yang berburu pakaian. Namun, di tengah ramainya toko-toko pakaian baru, sebagian warga justru memiliki alternatif lain. Membeli pakaian dari lapak thrifting.

Salah satunya Heri Kuswanto, 53, warga Kecamatan Dringu, Kabupaten Probolinggo. Ia mengaku lebih memilih membeli pakaian bekas layak pakai atau thrifting dibandingkan pakaian baru di toko. Selain harganya lebih terjangkau, pilihan model pakaian juga cukup beragam.

“Ini lagi cari atasan dan bawahan. Mungkin kemeja sama celana. Kalau cocok ya langsung dibeli. Saya tidak melihat itu bermerek atau tidak, yang penting nyaman dipakai,” ujarnya ketika ditemui di salah satu stan thrifting di Kawasan CGV Kota Probolinggo.

Heri mengatakan, selisih harga menjadi pertimbangan utama. Pakaian yang dijual di lapak thrifting dinilai jauh lebih murah dibandingkan pakaian baru di pertokoan.

“Kalau soal harga, saya tidak terlalu mempermasalahkan. Tetapi, jelas di sini lebih murah daripada beli baru di toko,” katanya.

Penjaga salah satu stan thrifting di Kawasan CGV Kota Probolinggo, Mochamad Rizal Maulana, 21, mengatakan, momentum menjelang Lebaran menjadi salah satu masa penjualan terbaik bagi para pedagang thrifting. Berbagai jenis pakaian ditawarkan kepada pembeli. Mulai dari atasan, celana, hingga aksesori seperti topi dan sepatu.

“Harganya bervariasi, mulai Rp 35 ribu sampai Rp 500 ribu untuk yang branded,” jelasnya.

Menurutnya, tren thrifting kini semakin diminati berbagai kalangan. Jika sebelumnya lebih populer di kalangan anak muda, kini pembelinya juga datang dari kelompok usia yang lebih beragam.

“Tahun ini kemungkinan penjualannya meningkat dibanding tahun lalu. Soalnya tren thrifting sudah makin dikenal dan diminati semua kalangan, tidak hanya anak muda,” ujar pria asal Kota Malang ini.

Meski begitu, ia mengakui bahwa pembeli dari kalangan anak muda masih mendominasi. Jenis pakaian yang paling banyak dicari biasanya kemeja dan celana jins. “Biasanya satu orang belanja sekitar Rp 300 ribu sampai Rp 400 ribu untuk thrifting,” tambahnya.

Di sisi lain, sebagian masyarakat tetap memilih membeli pakaian baru. Salah satunya Rizky, 22, warga Desa Sumbersuko, Kecamatan Dringu, Kabupaten Probolinggo. Ia mengaku lebih nyaman membeli pakaian baru, karena bisa langsung mencoba dan memilih model yang sesuai.

 “Kalau tidak cocok bisa cari yang lain. Pokoknya kalau sudah cocok, ya langsung beli,” ujarnya.

Rizky bahkan telah menyiapkan anggaran khusus untuk membeli pakaian Lebaran. Ia berencana membeli sekitar tiga setel pakaian. Termasuk topi, sarung, serta baju yang akan digunakan untuk ke masjid.

“Saya sudah siapkan budget untuk itu. Kalau sampai habis jutaan rupiah, juga tidak masalah, karena momen Lebaran kan cuma setahun sekali,” ujarnya. (gus/rud)

Editor : Fahreza Nuraga
#idul fitri #hari raya #pertokoan ramai #probolinggo