KANIGARAN, Radar Bromo - Tingginya inflasi Kota Probolinggo pada Februari 2026, menjadi perhatian serius Forkopimda Probolinggo. Selasa (10/3), mereka turun melakukan inspeksi mendadak ke Pasar Baru, Kota Probolinggo.
Bulan kemarin, inflasi Kota Probolinggo tercatat sebesar 1,21 persen secara bulanan. Lebih tinggi dibandingkan Jawa Timur, yang berada di angka 0,9 persen. Ternyata ada beberapa komoditas bahan pangan yang harganya masih tinggi. Namun ketersediaan bahan pangan kebutuhan masih terbilang aman.
Sidak juga diikuti oleh Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) Kota Probolinggo. Diketahui, harga cabai rawit masih tinggi, mencapai Rp 100 ribu per kilogram. Sedangkan, cabai kecil hijau Rp 45 ribu hingga Rp 50 ribu per kilogram. Cabai besar merah lebih murah, Rp 40 ribu per kilogram.
Harga daging juga tinggi. Daging sapi Rp 120 ribu per kilogram dan daging ayam Rp 40 ribu per kilogram. Sedangkan, harga telur ayam ras Rp 30 ribu per kilogram. Beras premium dijual dengan harga Rp 73 ribu hingga Rp 78 ribu per 5 kilogram.
Berbeda dengan minyak goreng. Meski sudah ada aturan tentang harga eceran tertinggi (HET) Rp 15.700 per liter, ternyata masih ada pedagang yang berani menjual di atas HET.
Wali Kota Probolinggo dr. Aminuddin mengatakan, menindaklanjuti rapat terkait inflasi di Kota Probolinggo, yang tercatat tinggi, pihaknya melakukan sidak. Berusaha mencegah inflasi lebih tinggi lagi, khususnya mendekati Lebaran. Sebab, di Jawa Timur, angka inflasi tergolong cukup tinggi.
“Kami harus melihat pasokan, HET, dan telah dipantau. Stok tidak ada masalah. Hanya saja beberapa yang mempengaruhi inflasi, harga cabai yang sampai Rp 100 ribu, naik Rp 20 ribu,” katanya.
Aminuddin mengaku, akan meneruskan laporan hasil sidak melalui Mendagri RI. Dengan harapan, nanti bisa koordinasi antarwilayah atau daerah di Jawa Timur, untuk memecahkan masalah tersebut.
Wakil Pemimpin Cabang Perum Bulog Kantor Cabang Probolinggo Muzakki Makmun memastikan, stok beras di Bulog aman dan sangat cukup untuk setahun ke depan.
Untuk menekan laju inflasi dan menjaga stabilitas harga di pasaran, setiap hari pihaknya menggelar gerakan pangan murah (GPM). “Kami setiap hari gelar GPM untuk menjaga stabilitas harga dan inflasi,” katanya.
Harga Cabai Tembus Rp 130 Ribu
Harga cabai rawit di sejumlah pasar daerah di Kabupaten Probolinggo selama Ramadan 1447 Hijriah meroket. Di beberapa pasar komoditas berasa pedas ini menembus Rp 130.000 per kilogram. Jauh lebih tinggi dibandingkan harga sebelum puasa.
Kenaikan harga ini membuat banyak masyarakat mengeluh karena cabai menjadi salah satu bahan pokok yang hampir selalu digunakan untuk memasak. Terutama saat menyiapkan menu berbuka dan sahur. “Biasanya saya beli cabai sekitar Rp 70 ribu sampai Rp 80 ribu per kilogram, sekarang sudah Rp 120 ribu sampai Rp 130 ribu,” ujar salah satu warga, Siti Rahma, 38.
Hal serupa disampaikan pedagang sayur di Pasar Semampir, Kecamatan Kraksaan, Ahmad, 45. Ia mengatakan, harga cabai naik sejak awal Ramadan. Pasokan dari petani juga berkurang. “Sekarang sudah sekitar Rp 120 ribu sampai Rp 130 ribu per kilogram. Sebelumnya masih di kisaran Rp 90 ribu sampai Rp 100 ribu,” katanya.
Menurutnya, tingginya harga cabai disebabkan pasokannya terbatas. Dipicu cuaca serta meningkatnya permintaan masyarakat selama bulan puasa.
Kepala DKUPP Kabupaten Probolinggo Sugeng Wiyanto menyebutkan, pemerintah terus memantau harga bahan pokok di pasar tradisional. Tujuannya, untuk menjaga stabilitas harga serta memastikan ketersediaan pasokan tetap aman.
“Kami terus memonitor perkembangan harga di pasar. Jika terjadi kenaikan signifikan, akan dilakukan koordinasi dengan distributor dan daerah pemasok untuk menjaga pasokan tetap tersedia,” ujarnya.
Pihaknya berharap harga cabai dapat kembali stabil dalam beberapa minggu ke depan. Terutama bila distribusi dari petani kembali normal dan kondisi cuaca membaik. (mas/mu/rud)
Editor : Fahreza Nuraga