
PASURUAN, Radar Bromo – Angin kencang yang bertiup dari utara dan timur dalam tiga hari terakhir memaksa nelayan di pesisir Kabupaten Pasuruan menghentikan aktivitas melaut. Selain ombak yang semakin tinggi, angin kencang membuat hasil tangkapan ikan menurun.
Pantauan di Desa Kemlaten, Kecamatan Nguling, Senin (3/8), deretan perahu nelayan berjajar di sepanjang pesisir. Aktivitas pelelangan ikan nyaris tak terlihat. Sebagian besar nelayan memanfaatkan waktu dengan memperbaiki jaring dan perahu untuk melaut.
Sama'i, 40, nelayan rajungan asal Desa Kemlaten mengaku sudah tiga hari terakhir tidak melaut. Biasanya ia mencari rajungan hingga perairan Waru, Kabupaten Sidoarjo.
"Sudah tiga hari ini anginnya sangat kencang dari arah utara. Kalau dipaksakan berangkat, risikonya besar sekali," ujarnya saat memperbaiki jaring rajungan di tepi pantai.
Solihin, 50, nelayan ikan kembung asal Kemlaten menegaskan hal serupa. Menurutnya, gelombang tinggi sudah mulai terasa ketika perahu baru berjarak sekitar dua kilometer dari bibir pantai.
"Ombak di tengah bisa lebih dari dua meter. Radius dua kilometer dari pantai saja sudah terasa gelombangnya. Apalagi kalau makin ke tengah," katanya.
Selain faktor keselamatan, kondisi tersebut juga berdampak pada pendapatan nelayan. Angin yang kencang membuat gerombolan ikan berpencar, sehingga hasil tangkapan jauh berkurang.
"Ikannya sepi. Kalaupun nekat berangkat, seringnya melaut sebentar lalu balik karena kondisi tidak memungkinkan. Hasil tangkapan tidak sebanding dengan biaya solar dan perbekalan," imbuhnya.
Kewaspadaan nelayan semakin meningkat setelah kecelakaan laut yang menewaskan seorang nelayan asal Desa Penunggul, Kecamatan Nguling, Sabtu (1/8) malam. Perahu korban dihantam ombak saat melaut di tengah cuaca buruk.



