JUMADI sudah tidak muda lagi. Usianya mencapai 72 tahun. Namun tetap semangat menjaga keamanan Masjid An-Nur Kelurahan Jati, Kecamatan Mayangan, Kota Probolinggo. Dengan harapan, pengabdian menjadi bekal amal ibadah di akhirat kelak.
Jumadi tinggal di RT 7/RW III Kelurahan Jati, Kecamatan Mayangan. Tidak jauh dari Masjid An-Nur. Setiap menjelang waktu salat maktubah, ia istiqamah hadir di masjid. Ia dipastikan hadir lebih awal dibanding jemaah lainnya.
Bertahun-tahun, kakek kelahiran 21 Agustus 1954 ini mempunyai tugas “berat” di masjid. Menjaga keamanan ketika jemaah melaksanakan salat berjemaah di Masjid Jiduran.
Ia mengaku sejak masih bujangan atau belum menikah, sudah aktif dan mengabdi di Masjid An-Nur. Namun awalnya tidak dapat full dalam lima waktu salat maktubah. Karena harus bekerja di sebuah perusahaan pengolah kayu di Kota Probolinggo.
Sejak pensiun pada 2008, Jumadi lebih aktif di masjid. Ia mengabdikan diri menjaga keamanan di Masjid An-Nur. “Saya jaga masjid ini mulai bujang tahun 1960-an. Waktu itu masih belum masjid, tapi langgar (musala) wakaf,” ujar kakek dua anak dengan empat cucu ini.
Tugasnya menjaga keamanan dan merapikan kendaraan jemaah yang datang untuk melaksanakan salat berjemaah. Ia mengaku bersyukur, selama dirinya bertugas, tidak pernah sampai ada kejadian pencurian kendaran bermotor milik jemaah.
Karena bertugas menjaga keamanan saat jemaah tengah salat, jelas Jumadi tak bisa salat berjemaah. Ia harus memastikan barang-barang, terutama kendaraan jemaah aman. Ia baru melaksanakan salat ketika sebagian besar jemaah sudah pulang.
“Pernah beberapa kali kejadian, ada dua orang yang mencurigakan. Tapi saya tetap waspada dan terus pantau. Karena dijaga, dua pria itu sempat bertanya kenapa tidak salat dan menyuruhnya untuk salat saja. Tapi saya tegaskan, saya jaga keamanan di sini,” ungkapnya.
Jumadi mengaku tidak pernah mengharapkan honor selama mengabdikan menjaga keamanan di masjid. Termasuk dari jemaah yang memarkirkan kendaraannya. Namun kadang ada jemaah yang memaksa memberi uang dan langsung dimasukkan ke kantongnya. Mendapati itu, Jumadi memilih dimasukkan ke kotak amal masjid.
“Saya yakin, Allah SWT akan catat ibadah menjaga keamanan dan ketenangan jemaah yang sedang salat di sini. Biar ini jadi bekal amal ibadah saya di akhirat nanti,” ungkapnya.
Di luar kegiatan di masjid, di usianya yang sudah tidak muda lagi, Jumadi masih tetap berusaha mencari nafkah untuk keluarganya. Ia bekerja sebagai pedagang pisang di Pasar Kronong. Selepas salat subuh berjemaah, dirinya berjualan di Pasar Kronong. Sekitar pukul 10.00, pulang dan langsung bersiap ke masjid. “Alhamdulillah, Allah SWT berikan cukup untuk saya dan keluarga,” syukurnya. (arif mashudi/rud)
Editor : Fahreza Nuraga