MENJELANG magrib pada bulan Ramadan, ada satu suara yang paling dinanti warga di sekitar Masjid Ar-Royyan, Kecamatan Tongas. Tabuhan beduk. Gemanya menjadi penanda tibanya waktu berbuka. Di balik tabuhan yang menggema itu, ada sosok yang setia datang lebih awal, memastikan tak ada satu detik pun yang terlewat. Dialah Hari Suhartono.
Hari Suhartono tinggal di Desa Tongas Wetan, Kecamatan Tongas, Kabupaten Probolinggo. Jarak rumahnya sekitar satu kilometer dari Masjid Ar-Royyan, Kecamatan Tongas. Namun sejak diamani menjadi penabuh beduk di masjid tersebut, pria yang akrab disapa Arik ini selalu berusaha datang lebih awal.
Sehari-hari, Arik berjualan pentol untuk mencukupi kebutuhan keluarganya. Namun ketika waktu salat mendekat, terutama selama Ramadan, ia sudah bersiap lebih awal. Dengan motor kesayanganya, Arik bergerak menuju masjid.
“Sebelum masuk waktu salat, saya sudah harus berangkat ke masjid. Karena saya punya tugas menabuh beduk. Kalau datangnya mepet, nanti khawatir terlambat,” ujarnya, dengan nada tenang.
Selama berada di masjid, lapak dagangannya dititipkan kepada sang istri. Lima waktu salat berjemaah tak pernah ditinggalkan. Setiap azan akan berkumandang, terlebih dahulu dentuman beduklah dihadirkan. Menjadi pertanda bagi warga sekitar.
Arik menjelaskan, setiap waktu salat memiliki pola tabuhan berbeda. Ketika duhur dan subuh, bedug ditabuh sepuluh kali. Asar empat kali, magrib tiga kali, dan isya empat kali. Pola ini bukan sembarangan, melainkan tradisi turun-temurun dari penabuh sebelumnya.
“Ini sudah sesuai tradisi dan disampaikan turun-temurun dari petugas sebelumnya,” tuturnya.
Beduk di Masjid Ar-Royyan bukanlah beduk biasa. Usianya telah lebih dari tiga dekade. Dibuat pada sekitar tahun 1991, menggunakan kulit sapi sebagai membran dan kayu jati sebagai rangkanya. Usia yang tak lagi muda, membuatnya harus dirawat ekstra hati-hati.
“Ini yang membuat beduk itu istimewa dan harus dijaga baik-baik. Biasanya kami bersihkan setiap seminggu sekali,” ungkap Arik.
Perjalanannya menjadi penabuh bedug bermula saat usianya masuk 44 tahun. Kala itu, Arik dikenal rajin salat berjemaah di masjid. Penabuh beduk sebelumnya kemudian mengajaknya untuk ikut membantu.
“Awalnya saya tidak tahu apa-apa. Sambil belajar, lama-lama bisa. Soalnya tabuhan beduk itu tidak bisa sembarangan, ada irama dan jumlahnya juga,” kenangnya.
Tugas ini menuntut kedisiplinan tinggi. Terlebih ketika Ramadan. Ketika beduk magrib menjadi penanda berbuka puasa. Keterlambatan sekecil apa pun bisa berdampak pada banyak orang.
“Kalau telat sedikit saja, orang bisa terlambat berbuka,” katanya.
Tak hanya menabuh beduk, Arik juga kerap membantu menata takjil untuk jemaah. Masjid Ar-Royyan kerap menjadi tempat singgah para musafir yang melintas di Jalur Pantura Kecamatan Tongas. Karena itu, ia dan pengurus masjid berusaha memberikan pelayanan terbaik. Termasuk menjaga kenyamanan dan keamanan.
Meski tak menerima bayaran sepeser pun, Arik mengaku bahagia menjalani tugas sukarela ini. Baginya, ini adalah jalan untuk mencari keberkahan. Bahkan, saat kondisi tubuh kurang fit, ia tetap berupaya datang ke masjid. Hanya jika sakitnya benar-benar tak memungkinkan, barulah digantikan oleh jemaah lain yang dengan senang hati bersedia.
“Di masjid ini banyak yang senang kalau ditugaskan menabuh beduk,” ujarnya, tersenyum.
Bagi Arik, tabuhan beduk bukan sekadar suara kayu yang menghantam kulit sapi. Ia adalah panggilan, pengingat, sekaligus amanah. Di setiap tabuhan yang menggema, terselip ketulusan seorang lelaki sederhana yang menjaga tradisi, menjaga waktu, dan menjaga hati banyak orang yang menanti suaranya. (inneke agustin/rud)
Editor : Moch Vikry Romadhoni