Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Dua Bulan, Temukan 17 Kasus Suspek Campak di Kota Probolinggo, Kenali Gejala dan Penanganannya

Arif Mashudi • Minggu, 1 Maret 2026 | 08:55 WIB

Ilustrasi
Ilustrasi

KANIGARAN, Radar Bromo - Kasus penyakit campak menjadi perhatian serius Pemkot Probolinggo. Pasalnya, Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI mencatat terjadi 8.224 kasus suspek campak dengan 4 kasus kematian. Di Kota Probolinggo, belum genap dua bulan, sudah ditemukan 17 kasus suspek campak.

Penyakit campak merupakan penyakit infeksi saluran pernapasan menular yang disebabkan virus. Ditandai dengan demam tinggi, batuk, pilek, mata merah, dan ruam kulit khas yang menyebar dari kepala ke seluruh tubuh.

Umumnya terjadi pada anak-anak. Campak sangat menular dan dapat menyebabkan komplikasi fatal.

Kabid Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan dan P2KB Kota Probolinggo drg. Asri Wahyuningsih mengatakan, kasus campak terus menjadi perhatian serius. Pada 2025, tercatat ada 22 kasus. Kini, dalam dua bulan awal 2026, ditemukan 17 suspek campak. 

“Di Kota Probolinggo, hingga pekan keempat Februari ini, terdapat sekitar 17 suspek campak. Jumlah kasus ini terbilang tinggi dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Bahkan, jumlahnya diprediksi bertambah mengingat penularannya relatif cepat,” katanya, Sabtu (28/2).

Asri menambahkan, untuk temuan 17 kasus masih disebut suspek campak. Sebab, pihaknya masih menunggu hasil pemeriksaan laboratorium, guna memastikan virus atau penyakit yang diderita positif campak atau bukan. ”Status masih suspek mas, karena masih menunggu hasil pemeriksaan laboratorium,” ujarnya.

Asri menambahkan, penderita yang suspek campak memiliki gejala berupa demam tinggi, batuk kering atau pilek, sakit tenggorokan dan mata merah.

Selain itu, ada gejala lain, seperti bercak merah gatal yang dimulai dari bagian belakang telinga hingga wajah dan menjalar ke seruluh tubuh. “Penularan campak sendiri bisa melalui droplet atau percikan air liur, bersin hingga batuk,” jelasnya.

Selama ini, kata Asri, pihaknya terus berupaya mencegah terjadinya kasus campak. Mulai memberikan penyuluhan terkait campak dan Pola Hidup Bersih dan Sehat (PHBS), hingga optimalkan imunisasi campak pada balita, sehingga balita tidak sampai terkena campak dan tidak menular.

“Imunisasi campak itu diberikan pada bayi umur 9 bulan, kemudian umur 18 bulan dan SD kelas I. Jika ditemukan gejala campak, segera melakukan pemeriksaan baik di puskesmas ataupun rumah sakit dan selalu gunakan alat pelindung diri seperti masker,” ujarnya. (mas/rud)

Editor : Fahreza Nuraga
#kemenkes #campak #kesehatan #probolinggo