Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Moch. Sholeh Merasa Mendapatkan Nikmat Besar Ketika Bisa Menjaga Salat Lima Waktu dengan Berjemaah di Masjid

Arif Mashudi • Rabu, 25 Februari 2026 | 07:55 WIB

TETAP ISTIQAMAH: Moch. Sholeh, Muazin Masjid Karimul Ikhsan, Kelurahan Ketapang.
TETAP ISTIQAMAH: Moch. Sholeh, Muazin Masjid Karimul Ikhsan, Kelurahan Ketapang.

SALAH satu orang penjaga waktu salat lima waktu di masjid adalah muazin. Penyeru panggilan salat ini menjadi pengingat bagi setiap muslim terhadap waktu salat. Di Kota Probolinggo, ada Moch. Sholeh, 72. Ia puluhan tahun menjadi muazin di Masjid Karimul Ikhsan Kelurahan/Kecamatan Ketapang.

Usianya sudah 72 tahun. Suara tak selantang ketika masih muda. Namun Sholeh tetap berusaha untuk menjaga tanggung jawab dan amanah sebagai muazin. Terlebih, amanah ini disampaikan langsung oleh mertuanya, K.H. Mawardi yang merupakan putra pendiri Masjid Karimul Hasan.

Amanah itu diterima sejak sekitar tahun 1970-an. “Saya asli Jember. Kebetulan saya sebagai mantu almarhum Kiai Mawardi, yang mengelola masjid ini,” ujar Sholeh, ketika ditemui di depan rumahnya yang bersebelahan dengan masjid tempatnya mengabdi di RT 2/ RW II, Kelurahan Ketapang.

Sejak mendapatkan amanah, dirinya selalu berusaha tidak meninggalkan tugasnya. Saban hari, mulai pukul 02.30, sudah di masjid untuk membuka pintu-pintu masjid. Kemudian, menyalakan pengeras suara dengan lantuan ayat-ayat Alquran. Begitu juga ketika masuk waktu salat duhur, asar, magrib, dan isya, dirinya selalu hadir lebih awal, sebelum waktu azan. Karena harus mengumandangkan azan.

“Kalau tidak ada imamnya, saya yang maju jadi imam. Tapi kalau ada imamnya, saya hanya jadi muazin,” ujar kakek dengan tiga anak, delapan cucu, dan seorang cicit ini.

Sholeh mengaku, dengan menjadi muazin banyak manfaat yang didapatkan. Nikmat terbesar adalah bisa menjaga salat lima waktu dengan berjemaah di masjid. Namun karena amanah yang harus dijaga, dirinya tidak mudah untuk bepergian terlalu jauh. Jika terpaksa, seperti ziarah wali lima dan umrah, Sholeh mengaku tak lupa mencari pengganti sementara.

Pria kelahiran 1954 ini mengaku akan terus kepikiran jika sampai tidak ada yang mengundangkan azan di masjidnya. “Saya kadang titip ke orang untuk azan dan beri uang rokok. Saya kadang juga titip ke anak dan keluarga, supaya tetap azan lima waktu berkumandang,” ujarnya.

Selain menjadi muazin, ketika masih muda, Sholeh bekerja di sawah sebagai petani. Kemudian, membuka usaha toko kelontong kecil-kecilan. Dengan menjadi muazin, menjaga salat lima waktu berjemaah dan memakmurkan masjid, Sholeh yakin, Allah SWT akan mencukupkan kebutuhannya.

“Saya awalnya tidak pernah ada honor sebagai muazin. Karena bagi saya, itu amanah. Jadi saya tidak mengharap honor,” ujarnya. Namun sejak sekitar 2 tahun lalu, pengurus takmir memaksanya untuk meneriman “honor.” Karena terus dipaksa, ia pun menerimanya.

Sholeh mengatakan, orang-orang yang memakmurkan masjid akan Allah SWT jaga dan diberi rezeki tanpa disangka-sangka. Seperti dirinya. Sekitar 3 tahun lalu, seorang pengusaha tiba-tiba mengajaknya umrah. Banyak orang yang tidak percaya, terlebih hanya seorang muazin dan usaha utamanya kecil. Tapi Allah SWT memberikan rezeki lewat tangan hamba-Nya tanpa disangka.

“Saya diajak Pak Haji Didik berangkat umrah. Terus diantar ke Pak Agung travel umrahnya, yang kebetulan juga membantu. Ya Allah, siapa sangka saya bisa berangkat umrah bareng istri. Kebetulan, anak punya rezeki, jadi istri juga didaftarkan umrah bareng saya,” ungkapnya.

Sekitar 3 bulan lalu, Sholeh mengaku sempat masuk ke rumah sakit dan harus menjalani rawat inap selama 5 hari. Saat itu, dirinya sudah terbaring kaku dan diagnosis terserang gejala stroke. Syukur Allah SWT masih memberikan kesembuhan dan kesehatan.

“Sekarang saya tetap datang ke masjid saat waktu salat. Jika tidak ada yang azan, saya tetap yang azan. Terutama duhur dan asar, itu saya tetap azan. Alhamdulillah, jemaah salat lima waktu tetap banyak,” ujarnya. (arif mashudi/rud)

 

Editor : Fahreza Nuraga
#salat lima waktu #muazin #masjid