TONGAS, Radar Bromo–Usai diguyur hujan deras, atap ruang kelas di SDN Pamatan II di Kecamatan Tongas, Kabupaten Probolinggo ambrol. Bukan satu ruangan, tapi tiga ruang kelas sekaligus. Yaitu, kelas 1, 2 dan 3.
Tiga atap ruang kelas itu ambrol, Sabtu (14/2) dini hari sekitar pukul 01.00.
Diduga, rangka atap bangunan tidak mampu menahan beban genting yang semakin berat setelah terus-menerus diguyur hujan.
Kepala SDN Pamatan II, Fatah Yasin menjelaskan, kejadian itu pertama kali diketahui oleh penjaga sekolah yang saat itu berada di lokasi. Tanpa tanda-tanda sebelumnya, atap langsung runtuh.
“Langsung terdengar suara bruak. Penjaga sekolah kami langsung menelepon saya untuk menginformasikan kejadian tersebut,” ujar Fatah.
Berdasarkan pantauan di lokasi, kerusakan meliputi genting, rangka atap yang terbuat dari galvalum, hingga plafon.
Genting berserakan di lantai ruangan, juga ada rangka yang patah.
Beruntung, struktur dinding bangunan tidak mengalami rusak. Namun, material atap yang jatuh mengenai sejumlah fasilitas belajar, seperti meja dan kursi siswa.
Meski demikian, tidak ada korban jiwa dalam kejadian tersebut. Sebab, peristiwa itu terjadi di luar jam kegiatan belajar mengajar.
Sabtu (14/2) pagi, aktivitas pembelajaran tetap dilakukan seperti biasa. Untuk sementara, siswa kelas 1, 2, dan 3 dipindahkan ke aula sekolah dengan sistem sekat agar proses belajar tetap kondusif.
“Kelas 1 ada 24 murid, kelas 2 ada 18 murid, dan kelas 3 ada 16 murid. Semuanya kami pindahkan ke aula dengan sistem sekat di dalam ruangan,” jelas Fatah.
Pemkab Probolinggo bergerak cepat menindaklanjuti kejadian tersebut.
Sekda Kabupaten Probolinggo, Ugas Irwanto mengatakan, pihaknya telah melakukan asesmen ke lokasi guna mempercepat proses perbaikan.
“Kami langsung ke lokasi agar segera bisa diproses perbaikannya. Sebab, ini mendesak untuk kepentingan belajar mengajar. Kami lakukan percepatan,” tegasnya.
Pengawas proyek perbaikan, Subianto, 45, menyampaikan, pada tahap awal yang dilakukan adalah membersihkan seluruh material atap yang runtuh. Mulai dari genting, rangka atap, hingga plafon.
“Setelah itu, baru dilakukan perbaikan. Untuk rangka atap tetap menggunakan baja ringan, tetapi penutup atap diganti dengan metal roof pasir atau onduline supaya tidak terlalu berat. Tidak lagi pakai genting,” jelas warga Kecamatan Kademangan, Kota Probolinggo tersebut. (gus/hn)
Editor : Muhammad Fahmi