KANIGARAN, Radar Bromo - Tidak sekadar bangunan cagar budaya. Perumdam Bayuangga Kota Probolinggo bakal menjadikan Menara Air (water toren) Randu Pangger sebagai wisata edukasi cagar budaya dan air.
Direktur Perumdam Bayuangga Indra Sovia Jalal mengatakan, menara air tersebut sangat layak menjadi wisata edukasi. Sebab, merupakan salah satu bangunan cagar budaya di kota.
Pembangunannya dilakukan pada 1928 oleh pemerintah Hindia Belanda sebagai tempat menyimpan dan mendistribusikan air pada pelanggan.
Tinggi menara mencapai 30 meter dengan luas lahan 50 x 30 meter.
“Sekarang menara air ini memang tidak difungsikan karena sudah ketinggalan zaman. Sebagai gantinya, kami membangun tandon untuk menampung air dari Sumber Air Ronggojalu, Kabupaten Probolinggo,” terang Indra.
Namun menilik fungsi dan keberadaannya, menara air itu memiliki nilai sejarah yang tinggi. Karena itu, menurut Indra, objek tersebut harus dijaga agar tidak terlupakan.
“Kami menilai, menara air ini layak dijadikan wisata edukasi sejarah. Kami ingin menunjukkan kembali sejarahnya, khususnya kepada pelajar. Nantinya ada beberapa spot yang bisa dikunjungi. Seperti menara air, rumah dinas, hingga rumah pompa,” terangnya.
Namun tidak hanya kunjungan semata. Pengunjung, menurut Indra, bisa mempelajari sejarah pengelolaan air bersih di Kota Probolinggo. Sejak zaman pemerintah Hindia Belanda hingga saat ini.
“Secara aturan, cagar budaya tidak masalah dijadikan tempat wisata. Jadi nanti Kota Probolinggo punya wisata sejarah,” terangnya.
Kepala Dispopar Kota Probolinggo M. Abbas menjelaskan, Menara Air Randu Pangger merupakan salah satu cagar budaya yang wajib dilestarikan dan dikenalkan kepada masyarakat luas.
Karena itu, wisata edukasi cagar budaya dan air yang direncanakan Perumdam Bayuangga memiliki potensi besar untuk mengenalkan lebih luas objek tersebut.
Bahkan, bisa meningkatkan pengetahuan pelajar terhadap sejarah di kota. Khususnya sejarak pengelolaan air sejak zaman pemerintah Hindia Belanda.
“Perumdam Bayuangga berinisiatif menjadikan menara air ini sebagai wisata sejarah, khususnya edukasi tentang pengelolaan air. Kami dari Dispopar sangat mendukung karena ini penting dikenali masyarakat,” jelas Abbas.
Hal serupa diungkapkan Kepala Disdikbud Kota Probolinggo Siti Romlah. Romlah menegaskan, Disdikbud mendukung rencana Perumdam Bayuangga menjadikan menara air sebagai wisata edukasi cagar budaya.
Menurutnya, memfungsikan bangunan cagar budaya menjadi destinasi wisata edukasi cagar budaya dan air sangat menarik. Bahkan, bisa menjadi wisata sejarah unggulan di kota.
Objek tersebut menurutnya, bisa menjadi media pembelajaran kontekstual dan pengenalan situs bersejarah di kota.
Sehingga, dapat memperkuat pemahaman siswa terhadap perkembangan kota.
"Tempat ini dapat dimanfaatkan sebagai media pembelajaran sejarah bagi peserta didik. Selain fungsi pendidikan, pemanfaatan kawasan juga dikaji untuk mendukung pengembangan wisata berbasis sejarah. Perlu adanya koordinasi dengan berbagai pihak lebih lanjut,” terangnya. (mas/hn)
Editor : Muhammad Fahmi