PROBOLINGGO, Radar Bromo- Sejumlah pedagang sayur di lantai 2 Pasar Gotong Royong, Kota Probolinggo, mengeluh. Beberapa bulan terakhir, omzet mereka terjun bebas.
Penyebabnya, diduga kuat karena maraknya pedagang sayur yang berjualan di pinggir jalan.
Pantauan Jawa Pos Radar Bromo pada Minggu (8/2) malam, mereka ini berjualan di sepanjang Jalan Letjen Suprapto. Tidak jauh dari Pasar Gotong Royong.
Rata-rata mereka membuka lapak menggunakan pikap di ruas jalan tersebut. Berbagai jenis sayuran seperti kubis, wortel, hingga aneka sayuran hijau dijual di pikap. Sehingga, menarik minat pembeli karena aksesnya yang lebih mudah.
Keberadaan pedagang sayur di luar pasar ini dinilai memicu persaingan yang tidak sehat.
Sebab, sejumlah pedagang sayur di lantai 2 Pasar Gotong Royong jadi kehilangan pembeli. Omzet mereka bahkan turun drastis.
Sahid, 60, pedagang timun di Pasar Gotong Royong mengaku, omsetnya menurun hampir satu tahun terakhir. Pembeli yang datang makin sepi.
“Biasanya sehari bisa menjual sekitar 180 buah timun. Sekarang paling banyak hanya 30 buah,” ujarnya.
Karena sepinya pembeli, timun dagangannya kerap tidak habis terjual hingga menguning dan akhirnya rusak.
Penyebabnya menurut dia, karena banyak pembeli yang belanja di pinggir jalan.
“Sejak banyak yang belanja di bawah, jarang ada yang naik ke lantai dua. Akhirnya kami yang di dalam pasar rugi terus,” tutur warga Kelurahan Jati, Mayangan tersebut.
Keluhan serupa disampaikan Nuri Wildan, 40, pedagang sayur lainnya di Pasar Gotong Royong. Sejak banyaknya pedagang sayur di pinggir jalan, pembeli hanya menbeli dalam jumlah kecil.
“Sekarang pembeli yang datang hanya membeli sedikit, paling seperempat kilogram. Karena yang belanja dalam jumlah besar sudah borong di bawah,” jelasnya.
Padahal menurut Nuri, perbedaan harga antara pedagang di dalam pasar dan di luar pasar sebenarnya tidak terlalu jauh. Selisihnya hanya ratusan rupiah per kilogram.
“Di bawah memang dijual grosir, tapi kadang kondisinya belum bersih. Sementara kalau beli di atas ini, sayuran sudah kami bersihkan,” katanya.
Selain harus bersaing dengan pedagang di luar pasar, pedagang di dalam pasar juga dibebani biaya parkir sebesar Rp 70 ribu per bulan. Kondisi ini semakin menambah beban di tengah penurunan pendapatan.
“Pendapatan turun, tapi kami tetap harus bayar parkir. Sementara pedagang di bawah tidak ditarik biaya. Wajar kalau pembeli lebih memilih ke bawah karena aksesnya mudah dan harganya sedikit lebih murah,” ungkap Nuri.
Menurutnya, para pedagang pasar telah menyampaikan keluhan tersebut kepada pengelola pasar. Namun hingga kini belum ada solusi konkret yang dirasakan.
“Kami sama-sama mencari rezeki. Tapi kami berharap ada keadilan dan kebijakan dari pemerintah agar ada pemerataan pedagang,” tegasnya.
Kepala UPT Pasar Kota Probolinggo, Edi Sekar menjelaskan, pihaknya telah berupaya menertibkan pedagang sayur yang berjualan di sepanjang Jalan Letjen Suprapto.
Salah satu caranya, meminta mereka untuk pindah ke Pasar Mangunharjo. Namun, imbauan tersebut sejauh ini tidak digubris.
Ke depan menurut Edi, pihaknya akan berkoordinasi dengan Dinas Perhubungan serta Satpol PP Kota Probolinggo untuk melakukan penindakan sesuai aturan yang berlaku.
“Kami akan segera berkoordinasi lintas OPD agar persoalan ini bisa ditangani,” pungkasnya. (gus/hn)
Editor : Muhammad Fahmi