Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Proyek Preservasi Jalan Nasional di Kota Probolinggo Rp 38 Miliar Molor, Dapat Sejumlah Catatan Kawan Disabilitas

Arif Mashudi • Sabtu, 3 Januari 2026 | 22:09 WIB

 

 

Pekerja nampak masih menggarap pengerjaan trotoar di Jalan Pangsud. Inset, KDK Kota Probolinggo bersama dinas terkait saat melakukan pengecekan trotoar di sepanjang jalan
Pekerja nampak masih menggarap pengerjaan trotoar di Jalan Pangsud. Inset, KDK Kota Probolinggo bersama dinas terkait saat melakukan pengecekan trotoar di sepanjang jalan
 

KANIGARAN, Radar Bromo – Meski dikerjakan siang malam, proyek preservasi jalan nasional di Kota Probolinggo tak bisa selesai tepat waktu. Proyek senilai Rp 38 Miliar lebih itu molor.

Tri Jaya Cipta Makmur asal Lamongan, tidak dapat menyelesaikan proyek yang dikerjakan di Jalan Soekarno hatta (Soetta) hingga jalan Panglima Sudirman (Pangsud) itu. Hingga awal 2026, proyek itu belum tuntas.

Pantauan Jawa Pos Radar Bromo, pengaspalan proyek jalan itu sudah rampung seluruhnya. Sepanjang Jalan Soetta-Pangsud telah dihotmix dengan ketebalan 4 centimeter.

Namun, pekerjaan trotoar di sepanjang Jalan Pangsud, banyak yang belum rampung. Terutama, pemasangan granit.

Muchlas Kurniawan, Ketua Komisi III DPRD Kota Probolinggo mengatakan, sejak awal pihaknya memprediksi bahwa proyek itu tidak akan selesai tepat waktu.

Ternyata benar, hingga tahun berganti pekerjaan itu belum juga selesai alias molor. Padahal, seharusnya pekerjaan selesai pada 31 Desember 2025.

”Saya lihat di lapangan, pekerjaan preservasi Jalan Soekarno Hatta dan Panglima Sudirman belum selesai. Padahal sesuai kontrak, waktu terakhir pekerjaan 31 Desember 2025. Tapi ternyata, sampai Januari 2026 belum juga selesai,” katanya.

Muchlas menegaskan, pihaknya tidak menyoroti waktu pekerjaan yang molor. Namun, pihaknya menekankan pada konsultan pengawas dan pejabat pembuat komitmen (PPK) untuk mengawasi pekerjaan itu.

Tujuannya, memastikan hasil pekerjaan sesuai dengan perencanaan atau RAB. Supaya, hasil pekerjaan sesuai dengan yang diharapkan masyarakat dan pemerintah.

”Konsultan pengawas dan PPK harus memastikan hasil pekerjaan sesuai dengan perencanaan, jangan sampai kualitasnya tidak bagus,” tegasnya.  

Jawa Pos Radar Bromo juga mengonfirmasi PPK 1.1 Provinsi Jatim (Probolinggo - Paiton - Situbondo), Satker Pelaksanaan Jalan Nasional Wilayah I Provinsi Jatim, Wahyu Wibowo. Namun, yang bersangkutan belum dapat dikonfirmasi sampai berita ini ditulis.

Sementara itu, proyek preservasi jalan nasional itu juga mendapat sorotan dari Komunikas Difabel Kelurahan (KDK) Kota Probolinggo. Sebab, pita taktil di trotoar banyak yang posisinya tidak pas.

Senin (29/12), tim yang terdiri dari anggota KDK Kota Probolinggo bersama dinas terkait mengecek sarana trotoar di sepanjang Jalan Pangsud dan Soehat.

Di trotoar sepanjang jalan itu, memang dipasang pita taktil berwarna kuning.

“Kami bagi menjadi empat tim. Tim mengecek pita taktil dari SMA Negeri 1 sampai Terminal Lama. Kami menguji coba trotoar bagi penyandang disabilitas. Baik dari pita taktil dan sebagainya,” kata Sekretaris Pertuni Kota Probolinggo, Andi Purwanto.

Andi yang tuna netra menjajal pita taktil di trotoar sisi selatan dan utara yang ada di timur Makodim 0820.

Betapa kagetnya dia saat enak berjalan, tongkatnya menyentuh sebuah lemari es milik seorang pedagang.

“Ternyata ada freezer di depan saya, akhirnya saya menghindar. Padahal ini sudah mengikuti pita taktil. Lalu saya berjalan lagi, kepala saya mengenai makanan yang digantung di toko tersebut,” ujarnya.

Trio Fajar Kurniawan, salah satu anggota KDK Kanigaran mencatat kondisi trotoar yang terlalu tinggi. Padahal, seharusnya trotoar ramah terhadap pejalan kaki. utamanya disabilitas.

“Untuk penderita difabel seperti saya, kesulitan naiknya. Apalagi misalnya menggunakan kursi roda. Ini terlalu tinggi, harusnya lebih landai,” katanya.

Kemudian, pemasangan pita taktil juga ada beberapa bagian yang terputus. Seperti di depan SPBU Kasbah.

“Seharusnya tidak langsung terputus seperti itu, jadi masih ada bagian landai lalu diteruskan taktilnya,” kata Trio.

Penempatan pita taktil juga dinilai terlalu mepet dengan bangunan sekitar trotoar.

Bahkan ada yang pas di depan pintu sebuah toko, sehingga dikhawatirkan bila ada orang yang baru keluar dari toko bisa saja tertabrak pengguna jalan.

“Jadi harusnya ada space yang cukup lebar untuk jarak dari bangunan tersebut,” katanya.

Trio mengatakan, sejumlah temuan itu lantas disampaikan sebagai rekomendasi pada pemerintah kota.

“Kami berharapnya bisa diperbaiki. Tapi kalau sudah tidak bisa, ya mungkin untuk pembangunan ke depan bisa melibatkan kami,” ungkapnya.

Terpisah, Kepala Dinas PUPR PKP, Setyorini Sayekti menyampaikan, masukan-masukan tersebut diupayakan akan diakomodir di masa pemeliharaan.

“Masa pemeliharaan masih sampai satu tahun ke depan. Jadi bertahap perbaikan sesuai masukan,” pungkasnya.

Sementara Kabid Trantibum Satpol PP Kota Probolinggo, Angga Budi Pramudya menyampaikan, pihaknya sudah seringkali mengingatkan pedagang untuk tidak meletakkan barang dagangan di atas trotoar.

“Tapi memang seringkali tambeng. Ya nanti kami datangi dan peringati lagi pedangannya,” katanya. (mas/gus/hn)

Editor : Muhammad Fahmi
#preservasi jalan #proyek #pita #jalan panglima sudirman #disabilitas #jalan soekarno hatta #probolinggo #Pangsud #trotoar