SIAPA yang tak mengenal Desa Gili Ketapang? Pulau cantik di Kecamatan Sumberasih, Kabupaten Probolinggo ini dikenal memiliki pesona bahari yang menawan, terutama panorama bawah lautnya yang eksotis.
Dihuni sekitar sepuluh ribu penduduk yang tersebar di delapan dusun (Pesisir, Mujahidin, Krajan, Baiturrohman, Mardian, Gozali, Suro, dan Marwa), sebagian besar warga bekerja sebagai nelayan. Tak sedikit pula yang berwirausaha.
Guna meningkatkan kesejahteraan masyarakat, Pemerintah Desa (Pemdes) Gili Ketapang terus menggulirkan berbagai program pembangunan.
Salah satu prioritas utama adalah peningkatan infrastruktur jalan desa. Jalan-jalan yang sebelumnya masih berupa tanah kini telah dipaving, sehingga akses antardusun maupun menuju area perairan menjadi lebih nyaman dan aman dilalui.
Di tahap pertama penggunaan Dana Desa (DD), pemdes melakukan pavingisasi di Dusun Pesisir, Baiturrohman, dan Gozali. Sementara pada DD tahap kedua, pembangunan dilanjutkan di Dusun Suro, Krajan, dan Marwa.
“Dana Desa kami fokuskan pada pembangunan jalan karena semua akses di sini merupakan jalan desa dan sangat dibutuhkan masyarakat. Alhamdulillah kini warga bisa menikmati jalan yang lebih layak,” ujar Kepala Desa Gili Ketapang, Munir.
Selain perbaikan jalan, tahun ini pemdes juga membangun tiga unit Rumah Tidak Layak Huni (RTLH). Para penerima dipilih berdasarkan kondisi rumah yang paling membutuhkan penanganan. “Harapan kami, warga dapat tinggal di hunian yang lebih layak dan aman,” tambah Munir.
Salah satu penerima bantuan, Sutiyam, 70, mengaku sangat terbantu. Sebelum dibangun, rumahnya yang berdinding papan sering bocor saat hujan, hingga membuatnya sulit tidur. “Sekarang alhamdulillah sudah nyaman. Tidak takut lagi kalau hujan,” tuturnya.
Tak berhenti di situ, Desa Gili Ketapang juga menerima bantuan pabrik es dan dermaga apung dari salah satu universitas di Inggris melalui kerja sama dengan Institut
Teknologi Sepuluh Nopember (ITS). Pabrik tersebut terletak di Dusun Mardiyan. Pemdes pun turut mendukung penuh program pengabdian tersebut, salah satunya dengan menyediakan suplai air PDAM.
“Jika pabrik es ini beroperasi, nelayan akan sangat terbantu. Selama ini mereka membutuhkan banyak es untuk pengiriman ikan ke luar daerah seperti Surabaya dan Jakarta. Dengan adanya pabrik di desa, mereka tak perlu lagi mencari es jauh-jauh,” jelas Munir.
Serius Tekuni Budi Daya Ikan Kerapu
Upaya meningkatkan kesejahteraan masyarakat terus dilakukan Pemerintah Desa (Pemdes) Gili Ketapang. Salah satu program yang kini memberikan dampak signifikan adalah penguatan ketahanan pangan melalui budi daya ikan kerapu.
Bibit kerapu berukuran 3–5 sentimeter dibesarkan di hatchery darat selama kurang lebih tiga bulan, hingga mencapai ukuran 13–15 sentimeter dan siap dipasarkan.
Kepala Desa Gili Ketapang, Munir menjelaskan bahwa keberadaan hatchery ini memberikan manfaat besar bagi warga, terutama nelayan dan pembudidaya ikan.
“Setelah mencapai ukuran ideal, kerapu bisa memenuhi kebutuhan masyarakat di sini. Bahkan, beberapa sudah diekspor ke Amerika dan Malaysia,” jelasnya.
Sebelum adanya hatchery, masyarakat harus mendatangkan bibit kerapu dari Bali atau Situbondo. Kini, kebutuhan bibit dapat dipenuhi langsung di desa, sehingga mengurangi biaya transportasi dan mempercepat proses budidaya.
“Ini sangat membantu perekonomian masyarakat. Ke depan akan terus kami kembangkan, karena kebutuhannya cukup tinggi,” tambah Munir.
Di hatchery tersebut, Pemdes melalui BUMDes membudidayakan dua jenis kerapu, yakni Kerapu Cantang—hasil persilangan Kerapu Macan dan Kerapu Kertang—serta Kerapu Cantik, yang merupakan persilangan Kerapu Macan dan Kerapu Batik. “Namun, mayoritas masyarakat lebih memilih Kerapu Cantang karena pertumbuhannya lebih cepat dan berukuran lebih besar,” ungkap Munir.
Selain program budidaya ikan, Pemdes Gili Ketapang juga secara rutin menyalurkan Bantuan Langsung Tunai Dana Desa (BLT DD). Pada Rabu (10/12), sebanyak 30 penerima manfaat yang terdiri dari janda dan duda yang belum tercover bantuan lain mendapatkan BLT senilai Rp 900 ribu per penyaluran. “Tahun ini sudah empat kali penyaluran kami lakukan,” tutur Munir.
Terpisah dalam sektor pariwisata, BUMDes juga berperan menjaga kebersihan kawasan wisata bahari Gili Ketapang. Mereka bertanggung jawab mengelola sampah di area pantai, darat, hingga laut. “Pembersihan dilakukan dua kali seminggu, yaitu sebelum dan sesudah akhir pekan,” pungkas Munir.
Melalui program budi daya kerapu, penyaluran BLT, hingga pengelolaan wisata yang berkelanjutan, Pemdes Gili Ketapang terus menunjukkan komitmennya untuk meningkatkan kesejahteraan dan kualitas hidup masyarakat. (gus/fun)
APBDES PEMERINTAH DESA GILI KETAPANG TAHUN ANGGARAN 2025
PENDAPATAN
Dana Desa: Rp 1.716.628.000,00
Bagi Hasil Pajak dan Retribusi: Rp 66.127.177,00
Alokasi Dana Desa: Rp 453.871.690,00
JUMLAH PENDAPATAN: Rp 2.236.626.867,00
BELANJA
Belanja Pegawai: Rp 391.479.120,00
Belanja Barang dan Jasa: Rp 648.478.707,00
Belanja Modal: Rp 667.174.000,00
Belanja Tidak Terduga: Rp 210.435.400,00
JUMLAH BELANJA: Rp 1.917.567.267,00
SURPLUS/DEFISIT: Rp 319.059.600,00
PEMBIAYAAN
Penerimaan Pembiayaan: Rp 24.266.400,00
Pengeluaran Pembiayaan: Rp 343.326.000,00
PEMBIAYAAN NETTO: (Rp 319.059.600,00)