KADEMANGAN, Radar Bromo - Pengerjaan rehab tugu batas kota di Triwung Kidul, Kecamatan Kademangan, membuat DPRD Kota Probolinggo berang. Komisi III menilai, keselamatan pekerja tidak diperhatikan dalam pengerjaan proyek itu.
Saat sidak ke lokasi proyek Rabu (19/11), Komisi III mendapati pengerjaan tugu batas kota setinggi 11,40 meter itu tidak menggunakan scaffolding. Pekerja hanya memanfaatkan bambu sebagai tangga selama pengerjaan dilakukan.
Selain itu, tidak ada rambu di lokasi proyek senilai Rp 394 juta itu. Padahal, standarnya harus ada rambu yang menginformasikan proyek sedang berlangsung.
Ketua Komisi III DPRD Kota Probolinggo Muchlas Kurniawan mengatakan, sebenarnya pekerjaan rehab tugu batas kota itu tidak ada masalah. Progresnya juga sesuai perencanaan.
Yang menjadi catatan, menurutnya, keselamatan pekerja atau K3 selama proyek itu berlangsung. Di lokasi, tidak ada rambu proyek. Peralatan yang digunakan juga kurang memperhatikan keselamatan pekerja.
”Untuk keselamatan pekerja atau K3, tidak ada. Konsultan pengawas harusnya lebih memperhatikan masalah ini,” katanya pada Jawa Pos Radar Bromo kemarin.
Proyek itu sendiri tidak membongkar tugu yang lama dan membangun kembali. Namun, proyek rehab. Pekerja sebatas melapisi atau membungkus tugu lama dengan ornamen alminium dan aklrilik yang dilengkapi dengan lampu-lampu.
”Kami minta pada pelaksana agar bahan yang digunakan bagus dan sesuai dengan spek. Mulai dari kualitas sampai ketebalan pemasangan. Jangan sampai, dipasang satu tahun sudah retak dan copot semua,” tegasnya.
Yoyok Budianto, pelaksana lapangan dari CV Jala Rizki mengatakan, progres pekerjaan rehab tugu batas kota sudah mencapai 20 persen. Proyek ini harus rampung sesuai kontrak pada 23 Desember. Pihaknya berharap kendala di lapangan seperti tiang listrik dan tiang provider yang ada di lokasi bisa segera dipindah.
Dia pun memastikan, keselamatan pekerja akan lebih diperhatikan selama rehab berlangsung. Sehingga, pekerja juga lebih terjamin keselamatannya.
”Untuk tugu batas kota, dibangun dengan bahan full aluminium AJB atau panel dan ukiran batik. Dengan ketinggian 11,40 meter dari nol jalan,” terangnya.
Kepala Dinas PUPR-PKP Kota Probolinggo Setiorini Sayekti mengatakan, rehab tugu batas kota sudah sesuai target perencanaan. Terkait keselamatan pekerja atau K3, pihaknya akan meminta pada pelaksana dan konsultan pengawas agar lebih perhatian.
”Untuk keselamatan pekerja atau K3, nanti akan kami ingatkan kembali penyedianya,” ujarnya.
Rekom Banggar Tak Dilakukan
Tidak hanya itu. Komisi III DPRD menemukan rehab tugu batas kota ternyata dilakukan menggunakan dana APBD. Padahal, sebelumnya Banggar merekomendasikan agar rehab menggunakan dana CSR.
Ketua Komisi III DPRD Kota Probolinggo Muchlas Kurniawan mengingatkan, efisiensi anggaran masih berlangsung. Karena itu, Banggar DPRD merekomendasikan agar rehab tugu batas kota tidak menggunakan dana APBD.
Saat itu, Banggar merekomendasikan agar realisasi rehab tugu menggunakan anggaran program CSR. Sayangnya, rekomendasi Banggar tersebut tidak dihiraukan.
”Saya ingat betul, dalam pembahasan Perubahan APBD 2025 kemarin, Banggar meminta agar tugu batas kota tidak direhab menggunakan anggaran APBD. Tapi memaksimalkan program CSR. Ternyata, tetap dialokasikan dan direalisasikan tahun ini dengan anggaran APBD,” katanya.
Seharusnya, menurut Muchlas, rehab tugu batas kota menggunakan dana CSR. Mengingat, rehab tugu batas kota tidak merusak bangunan tugu yang sudah ada. Hanya, memperbaiki dan membuat tampilan baru pada tugu batas kota.
Pihak CSR menurutnya, umumnya sangat berminat menyalurkan program CSR melalui rehab tugu batas kota. Sebab, sangat strategis bagi perusahaan untuk branding atau promosi.
”Toh, bangun tugu batas kota hanya bentuk hiasan saja. Pastinya melalui program CSR bisa membuat wajah tugu batas kota lebih bagus tampilannya. Jadi anggaran lebih efisien,” katanya.
Kepala Dinas PUPR-PKP Kota Probolinggo Setiorini Sayekti mengatakan, rencana rehab tugu batas kota ada tiga lokasi yang menjadi program prioritas Wali Kota – Wakil Wali Kota Probolinggo. Dari tiga lokasi yang ada, saat ini hanya direalisasikan satu titik. Sedangkan dua titik lainnya, nantinya akan diajukan melalui program CSR.
”Tugu Batas kota itu masuk program prioritas bapak wali kota. Kami realiasikan tahun ini, supaya tampilan pintu masuk ke Kota Probolinggo terlihat Bersolek,” ungkapnya. (mas/hn)
Editor : Muhammad Fahmi