Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Preservasi Jalan-Trotoar Soetta-Pangsud Kota Probolinggo Baru 10 Persen, Kenyamanan Warga Pasti Berkurang

Arif Mashudi • Minggu, 2 November 2025 | 17:10 WIB
Pekerja menggarap proyek preservasi trotoar di Jalan Soekarno-Hatta Kota Probolinggo. Foto diambil pertengahan Oktober lalu.
Pekerja menggarap proyek preservasi trotoar di Jalan Soekarno-Hatta Kota Probolinggo. Foto diambil pertengahan Oktober lalu.

PARA pengendara yang melintas di Jalan Soekarno Hatta (Soetta) dan Jalan Panglima Sudirman (Pangsud) Kota Probolinggo, belakangan ini harus bersabar. Kondisi ini diperkirakan akan berlangsung hingga akhir Desember 2025. Karena, proyek Preservasi Jalan Soetta-Pangsud yang masih berlangsung.

Proyek preservasi jalan ini digarap sejak akhir September 2025. Dampaknya bagi pengguna jalan maupun pemilik rumah atau bangunan di sepanjang jalan Soetta-Pangsud, mulai dirasakan.

Arus lalu lintas terganggu. Terlebih di titik digunakannya alat berat atau eskavator untuk pengerjaan proyek. Ada juga tumpukan bahan material di tepi jalan. Meski dari ujung ke ujung titik pekerjaan proyek ini sudah terpasang rambu bahaya.

Kondisi itu semakin parah ketika jam-jam berangkat dan pulang kerja. Ketika hujan semakin berisiko. Sisa tanah galian membuat kondisi jalan aspal licin, sehingga pengendara, terutama pengendara motor harus lebih waspada.

“Harus sabar dan lebih hati-hati setiap pulang kerja lewat Jalan Soekarno Hatta. Kendaraan ramai dan jalan semakin sempit, karena ada pekerjaan proyek. Semoga saja cepet selesai dan jalan kembali lebar,” ujar salah satu ASN di lingkugan Pemkot Probolinggo, Eko, 37.

Karena adanya aktivias pekerja maupun menjadi tempat bahan material, sebagian tepi badan jalan tidak dapat dilintasi. Pengguna jalan menilai dalam proyek ini masih minim rambu-rambu dan petugas yang menjaga di titik rawan. Bahkan, ketika malam sangat minim penerangan.

Kondisi itu sangat membahayakan bagi pengguna jalan. Terutama di Jalan Soekarno-Hatta, mulai dari depan Yon Zipur ke barat sampai Simpang Empat Pilang. Kondisinya membahayakan. Terlebih, ruas jalan ini merupakan jalan dua arah dan lebih sempit dibanding ruas Jalan Panglima Sudirman.

“Rambunya masih minim. Penerangan juga. Jadi, kalau pengguna jalan yang tidak tahu dan kurang fokus, pasti membahayakan,” ujar warga Kecamatan Kademangan, Kota Probolinggo, Agus Purwoko, 49.

Kepala Dinas PUPR-PKP Kota Probolinggo Setiorini Sayekti mengatakan, pekerjaan Preservasi Jalan Soetta-Pangsud, tentunya akan mengganggu kenyamanan pengguna jalan dan masyarakat sekitar. Namun, kondisi itu tidak akan berlangsung lama. Setelah pekerjaan selesai, wajah Kota Probolinggo akan berbeda dan lebih bagus. Begitu juga kondisi Jalan Soetta-Pangsud, juga lebih bagus dan aman.

“Selama pelaksanaan pasti ada kenyamanan warga yang terkurangi. Karena selama pengerjaan jalan tidak ditutup total, sehingga perlu diberi rambu-rambu, penerangan, dan penempatan material yang aman. Kami rasa itu sudah ada di lokasi pekerjaan,” ujarnya.

Kota Probolinggo, menjadi salah satu kota di Indonesia, yang beruntung. Dalam Lomba Kinerja Bidang Bina Marga yang diadakan Kementerian Pekerjaan Umum (PU) pada 2024, berhasil meraih juara I. Atas capaian itu, Kementerian PU memberikan reward senilai Rp 40 miliar.

Hanya saja, reward ini tidak dalam bentuk gelondongan anggaran atau dana yang diberikan atau dihibah ke Pemkot Probolinggo. Tetapi, hanya bisa direaliasikan dalam bentuk kegiatan fisik Bidang Bina Marga melalui Kementerian PU. Berupa pemeliharaan jalan perkotaan.

Pemkot melalui Dinas PUPR-PKP Kota Probolinggo, mengajukan sejumlah titik ruas jalan untuk didapat dibangun melalui reward ini. Mulai dari Jalan Soekarno Hatta, Panglima Sudirman, Jalan Suroyo, hingga Jalan Brantas. Sejumlah jalan ini diajukan untuk diperbaiki sebagai bentuk reward dari Kementerian PU.

Setelah disurvei, reward puluhan miliar itu hanya dapat digunakan untuk preservasi Jalan Soekarno-Hatta dan Jalan Panglima Sudirman. Jalan Soekarno-Hatta dimulai dari Simpang Pilang ke arah timur hingga Simpang brak. Sedangkan, Jalan Panglima Sudirman dari Simpang Brak hingga persimpangan Randupangger.

“Jalan Soekarno-Hatta dari Ketapang hingga Pilang, tidak masuk paket preservasi, karena ruas jalan itu masuk jalan nasional. Sedangkan, program reward ini bentuknya hibah. Jadi, ruas jalan yang dibangun harus jalan kota, sehingga setelah pembangunan preservasi selesai, hasil pekerjaannya dihibahkan ke Kota Probolinggo,” jelas Kepala Dinas PUPR-PKP Kota Probolinggo, Setiorini Sayekti.

Rini mengungkapkan, proyek ini usulan perencanaan awal tetap dari Dinas PUPR-PKP Kota Probolinggo. Hanya saja, DED yang diajukan tetap dievaluasi kembali oleh Balai Besar Pelaksanaan Jalan Nasional (BBPJN) Provinsi Jawa Timur. Karena pembangunannya harus disesuaikan pekerjaan jalan nasional. Karena itu pula ada beberapa kali perubahan DED.

Akhirnya, DED terakhir yang ditetapkan untuk dikerjakan dalam preservasi jalan dengan nilai kontrak sekitar Rp 38.854.911.101 dari pagu reward Rp 40 miliar. Proses tender penentuan rekanan proyek dilaksanakan dengan e-purchasing dengan metode mini kompetisi. Semua proses dan tahapan itu dikerjakan oleh BBPJN Provinsi Jawa Timur. “Pelaksana yang memenangkan tender dan mengerjakan PT Trijaya Cipta Makmur dari Lamongan,” jelasnya.

Terpisah, PPK 1.1 BBPJN Provinsi Jawa Timur Wahyu Wibowo mengatakan, waktu pengerjaan proyek Preservasi Jalan Soetta-Pangsud, selama 99 hari kerja. Harus rampung pada 31 Desember 2025. Sejauh ini progress pengerjaannya masih 10 persen.

Karena nilai progress pekerjaan besar itu pada pengaspalan atau overlay yang biasanya dikerjakan terakhir saat pekerjaan lainnya sudah selesai. “Kami tetap mendorong pelaksana untuk menyelesaikan pekerjaannya tepat waktu, 31 Desember. Jika tidak selesai dan lewat tahun, maka tetap harus diselesaikan dengan sanksi denda,” tegasnya.

 

Jalan hingga Trotoar Diperbarui 

Dengan adanya proyek preservasi ini, dipastikan Jalan Soetta-Pangsud akan lebih baik. Semua sisi yang berkaitan dengan jalan ini akan diperbaiki. Mulai dari overlay jalan, trotoar, dan drainase, semua akan diperbaiki.

Kepala Dinas PUPR-PKP Kota Probolinggo Setiorini Sayekti menerangkan, ada beberapa pekerjaan dalam proyek senilai Rp 38,8 miliar ini. Mulai dari overlay Jalan Soetta dan Jalan Pangsud dengan ketebalan 4 sentimeter. Jalan Jalan Soetta sepanjang 1,93 kilometer dalan Jalan Pangsud sepanjang 2,171 kilometer, akan di-overlay. Lebarnya menyesuaikan existing jalan.

Selain overlay jalan, pekerjaan juga pada bagian trotoar. Trotoar sepanjang Jalan Soetta dan Pangsud, dibongkar. Begitu juga dengan utilitasnya, semuanya akan dibangun dengan wajah baru. Panjanganya sama dengan panjang Jalan Soetta dan Jalan Pangsud. Nantinya, lantai trotoar akan dipasang granit yang tidak licin dan dilengkapi jalur difabel.

“Drinase di bawah trotoar tidak semua dibangun u-ditch. Ada beberapa titik yang dibangun, ada juga bagian yang tetap. Jalan Soekarno Hatta pembangunan u-ditch sisi selatan sepanjang 350 meter dan sisi utara 1,58 meter. Kemudian, Jalan Pangsud, u-ditch sisi utara sepanjang 2,171 kilometer dan sisi selatan hanya 1,485 kilometer. Melihat kondisi hasil survei di lapangan,” terangnya.

Rini menerangkan, dua ruas jalan yang tengah dilakukan preservasi statusnya jalan kota yang menjadi tanggung jawab daerah untuk melakukan pemeliharaan, perbaikan, ataupun pembangunan. Tanpa adanya reward Rp 40 miliar yang diterima dari hasil lomba, sangat sulit rasanya Kementerian PU akan menggelontorkan anggaran untuk membangun dua ruas jalan tersebut.

“Jika tidak ada reward dari Kementerian, sulit rasanya ruas jalan kota akan dibangun oleh Kementerian. Kecuali, Kota Probolinggo mendapatkan program Inpres Jalan Daerah (IJD) yang disetujui Kementerian PU. Sehingga, sangat beruntung dan berharga, Kota Probolinggo mendapatkan reward Rp 40 miliar, meski diberikan dalam bentuk pembangunan langsung oleh pusat,” ujarnya.

Meksi Jalan Soetta dan Pangsud, bukan jalan nasional, kata Rini, dua ruas jalan ini sangat mendukung poros utama ekomoni Kota Probolinggo. Sebab, merupakan jalur arteri utama lalu lintas manusia, perdagangan, dan jasa. “Secara tidak langsung, pembangunan preservasi jalan ini juga mendukung perekonomian dan pertumbungan perdagangan di Kota Probolinggo,” jelasnya.

 

Dampak Proyek Harus Tertangani

Dalam pengerjaan proyek preservasi Jalan Soetta-Pangsud Kota Probolinggo, tidak hanya pengguna jalan yang terdampak. Taman-taman di tepi Jalan Soetta, juga rusak. Belum lagi dampak yang dirasakan pemilik rumah atau bangunan di tepi Jalan Soetta-Pangsud. Aktivitas perkantoran dan pertokoan terganggu.

Warga Jalan Soekarno Hatta RT 01/RW 01, Kelurahan Tisnonegaran Rahmat Hidayat, 45, mengatakan, pagar rumahnya roboh terdampak proyek ini. Saat proses pembongkaran trotoar dan penggalian untuk pemasangan u-ditch, hujan deras. Air hujan menggerus bagian bawah pagar rumahnya dan membuatnya roboh. “Sudah kami laporkan. Semoga ada penanganan. Janjinya akan diperbaiki. Semoga saja tidak lari pelaksananya,” harapnya.

Kondisi ini menjadi perhatian serius DPRD dan Pemkot Probolinggo. Karena itu, mereka berupaya agar selisih pagu reward Rp 40 miliar dengan nilai proyek Rp 38,8 miliar, untuk tetap diberikan kepada Kota Probolinggo. Dengan harapan, anggaran ini dapat dialokasikan untuk pemeliharaan taman-taman yang terdampak proyek preservasi.

Ketua Komisi III DPRD Kota Probolinggo Muchlas Kurniawan mengatakan, dalam paket preservasi Jalan Soetta-Pangsud, ternyata tidak ada pekerjaan perbaikan taman. Sedangkan, di lapangan banyak taman terdampak.

“Jangan sampai inginnya mendapatkan reward Rp 40 miliar, malah masih harus menanggung keruaskan taman dan harus alokasikan anggarannya. Kalau taman rusak dan tidak masuk paket pekerjaan, paling tidak harus ada komitmen dari pelaksana untuk memperbaiki. Minimal mengembalikan kondisi taman seperti semula,” jelasnya.

Paling memungkinkan, kata Muchlas, menggunakan selisih pagu reward Rp 40 miliar dengan nilai proyek Rp 38,8 miliar untuk perbaikan atau pemeliharaan taman terdampak. Karena itu, pihaknya mendorong Pemkot melalui Dinas PUPR-PKP, mengomunikasikan agar selisih anggaran tetap bisa untuk pembangunan di Kota Probolinggo. “Lumayan selisih anggarn reward Rp 1 miliar lebih itu, bisa digunakan untuk pemeliharan taman yang rusak,” ujar politisi Golkar ini.

Kepala Dinas PUPR-PKP Kota Probolinggo Setiorini Sayekti mengatakan, selisih anggaran dari pagu reward Rp 40 miliar dengan nilai proyek menjadi kewenangan Kementerian PU. Ia mengaku tetap akan berupaya mengajukan agar selisih anggaran itu tetap dapat dimanfaatkan untuk Kota Probolinggo.

“Pohon-pohon yang terdampak dan harus dipotong itu, nantinya akan diganti dengan pohon baru. Kalau kemarin pohon sono dan mahoni itu akarnya menjalar dan merusak trotoar hingga drainase, nanti akan diganti pohon bungur tinggi 2,5 meter dan diameter 20 sentimeter. Jenis pohon ini akar tunggal dan akarnya ke bawah, bukan menjalar ke samping,” jelasnya.

 

Pastikan Material Sesuai Standar

Material yang digunakan dalam proyek preservasi Jalan Soetta-Pangsud Kota Probolinggo, tak luput dari perhatian Komisi III DPRD Kota Probolinggo. Dewan menduga materialnya tidak standart. Kondisi ini dikhawatirkan akan menjadi beban bagi Pemkot Probolinggo.

Hal itu disampaikan Anggota Komisi III DPRD Kota Probolinggo, Saiful Iman. Menurutnya, saat inspeksi mendadak (sidak) pertama, pihaknya menemukan kanstin dengan kualitas tidak bagus. Kemudian, beberapa hari kemarin kembali mengecek ke lokasi untuk bahan material u-ditch drainase, seperti barang rijek. Kondisi itu harus diperhatiakn dengan memastikan bahan material uji laboratorium lebih dulu.

“Proyek ini memang hadiah dari (pemerintah) pusat. Hanya saja jangan sampai bahan dan pengerjaaannya tidak sesuai standart dan menjadi beban pemerintah kedepannya. Karena bahan dan pengerjaan yang berkwalitas, akhirnya pemerintah kota yang akan menanggung beban pemeliharaan,” ujarnya.

Kepala Dinas PUPR-PKP Kota Probolinggo Setiorini Sayekti mengatakan, pihaknya dalam waktu dekat akan menggelar rapat koordinasi (rakor) dengan PPK Balai Besar Pelaksanaan Jalan Nasonal (BBPJN) dan pelakana preservasi Jalan Soetta-Pangsud. Pihaknya juga akan mengundang Komisi III. “Nanti kami akan libatkan Komisi III DPRD Kota, dalam rakor untuk disampaikan secara langsung temuan dari Komisi III dan mengetahui perkembangannya,” terangnya.

Terpisah, PPK 1.1 BBPJN Provinsi Jatim Wahyu Wibowo menegaskan, bahan material proyek preservasi Jalan Soetta-Pangsud, sudah dilakukan uji lab dulu. Bahan-bahan yang digunakan diuji lab di tempat produksi. Semua dipastikan sudah memenuhi standar. Begitu juga saat material tiba di lokasi, dilakukan pengecekan, apakah barang sesuai tempat produksi yang telah penuhi syarat uji lab.

“Jika dalam pelaksanaan di lapangan terjadi kerusakan atau gumpil bagian ujung atau tepi, itu tidak masalah. Terpenting tidak mengurangi kekuatan dari bahan material itu sendiri,” jelasnya. (mas/rud)

Editor : Ronald Fernando
#Soetta #infrastruktur #Pangsud