PAWAI Budaya Kota Probolinggo benar-benar menyedot perhatian warga. Sabtu (27/9), warga tumplek-blek di rute yang akan dilalui kontingen pawai dalam rangka Hari Jadi ke-666 Kota Probolinggo, itu.
Mereka begitu antusias memadati sepanjang rute, mulai titik start di depan kantor Pemkot Probolinggo, di Jalan Panglima Sudirman hingga Alun-Alun Kota Probolinggo. Dengan mengusung tema “Semangat Bersatu Mewujudkan Kreativitas, Kearifan Lokal, dan kemandirian untuk Kota Probolinggo yang Bersolek,” kegiatan ini diikuti 38 kontingen.
Mereka berasal dari instansi di lingkungan pemkot, komunitas seni, budaya, hingga kelompok masyarakat. Tak terkecuali, Dinas Pemuda, Olahraga, dan Pariwisata Kota Probolinggo. Kontingen nomor 10 ini menampilkan kesenian bertajuk “Kidung Swara Bhinneka.”
Kata “Kidung” memiliki arti padanan dengan “tembang” atau “sekar” yang berarti nyanyian. Sedangkan, “Swara” berarti suara. Mewakili sebuah ekspresi, pendapat, atau partisipasi aktif seseorang.
Kata “Bhinneka” merupakan gabungan dari kata “bhinna” (berbeda-beda) dan “ika” (satu), yang secara keseluruhan dalam frasa Bhinneka Tunggal Ika berarti “berbeda-beda tetapi tetap satu.” Filosofi dari kesenian ini mengandung makna “Kidung Swara Bhinneka,” yang artinya suara nyanyian seluruh wilayah Indonesia, yang memiliki kekayaan keanekaragaman budaya Indonesia.
“Atas wujud rasa syukur dan kekaguman budaya Indonesia, kami mempersembahkan sebuah pertunjukkan yang berupa tarian dengan frasa berbeda-beda, tetapi tetap satu. Dengan harapan, agar kekayaan keanekaragaman budaya Indonesia dapat selalu bergema dan selalu mengalun indah di nusantara tercinta,” ujar Kepala Dispopar Kota Probolinggo Drs. Rachma Deta Antariksa, M.Si.
Menurutnya, pawai budaya merupakan bagian dari perwujudkan untuk melestarikan budaya dan kesenian daerah. Keragaman warna-warni kostum setiap penari melambangkan betapa kayanya budaya daerah-daerah nusantara dengan ciri khas di dalamnya.
Warna-warna yang berpadu harmonis, menciptakan simbol kebersamaan dalam keberagaman. Sementara itu, gerak dinamis menggambarkan perjalanan kehidupan masyarakat Indonesia dari kerja keras, kebersamaan, hingga kegembiraan yang tercipta dalam semangat gotong.
“Kami berharap, apa yang kami tampilkan bisa memberikan hiburan bagi masyarakat Kota Probolinggo dan sekitarnya,” ujarnya. (el/adv)
Editor : Ronald Fernando