PROBOLINGGO, Radar Bromo - Suasana duka menyelimuti kediaman Misto alias Pak Dhe Kumis, 45, di Dusun Jawaan, Desa Jorongan, Kecamatan Leces, Kabupaten Probolinggo, Kamis (18/9) malam.
Misto meninggal dunia usai diduga ditembak Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) di Papua.
Kasun Jawaan, Topo, 55, mengatakan, Misto telah lama bekerja sebagai tukang ojek di Papua.
Hampir 10 tahun ia bekerja di sana dan tinggal di Kampung Usir, Distrik Mulia. “Paling terakhir dia pulang ke sini sekitar setahun lalu,” ujarnya.
Di Papua, ia tinggal bersama dua orang sahabatnya yang berasal dari Desa Kramat Agung, Kecamatan Bantaran, Kabupaten Probolinggo.
Berdasarkan keterangan teman korban, kata Topo, saat itu Misto menerima orderan ojek dari seorang perempuan pada Rabu (17/9).
Saat itu, waktu sudah menunjukkan pukul 16.30. Oleh temannya, Misto sebenarnya sudah dilarang agar tidak berangkat.
Karena sudah hampir malam, sehingga rawan bepergian. “Kan, di sana pukul 17.00 sudah tidak boleh ngojek. Tapi dia hanya membalasnya dengan senyuman,” imbuhnya.
Misto lantas mengantarkan perempaun tersebut ke tujuannya yang berjarak 10 kilometer mengendarai Jupiter MX King miliknya.
Namun, perjalanan tersebut terhenti karena Misto tiba-tiba diserang oleh kelompok yang diduga KKB di Kampung Wundhu, Distrik Dokome.
“Setelah ditembak itu, jenazah tidak bisa langsung diambil karena menunggu lokasi kondusif. Untuk mengambilnya pun, harus melibatkan tokoh masyarakat di sana,” terang Topo.
Setelah dapat dievakuasi, jenazah lantas dikirim menuju RSUD Mulia sekitar pukul 08.30 WIT dan tiba sekitar pukul 09.30 WIT.
Diketahui, korban mengalami luka tembak pada bagian leher belakang dan tembus ke rahang kanan.
Dari lokasi kejadian, sejumlah barang milik korban juga berhasil diamankan.
Seperti motor, ponsel, uang tunai sebesar Rp 1,7 juta, helm, tas kecil berisi tasbih, serta rompi ojek Mulia bernomor 217.
Jenazah lantas diterbangkan dari Papua menuju Sentani menggunakan pesawat Alda Air, kemudian dilanjutkan menuju Surabaya.
“Sampai di Surabaya sekitar pukul 19.00 dan dari bandara diantar menggunakan ambulans. Sampai sini (Desa Jorongan, Kecamatan Leces, Red) sekitar pukul 22.00,” beber Topo.
Tangis pun pecah saat jenazah tiba di rumah duka. Istri dan ketiga anaknya menangis saat kedatangan jenazah Misto.
Jenazah lantas dimakamkan di pemakaman umum di Desa Jorongan. Tepat di samping sang ibu mertua.
“Jadi sampai di sini, dibuka dari peti kemudian dialihkan langsung ke kerenda. Baru kemudian dimakamkan,” kata Sekretaris Desa Jorongan, Susilo.
Hal senada juga disampaikan oleh Kapolsek Leces, AKP Marudji. Ia mengatakan bahwa korban sebelumnya bekerja di Papua dan baru sekitar setahun setengah yang lalu pulang ke Desa Jorongan.
“Info yang kami terima, dia diserang saat sedang aktivitas di luar batas kota,” ulasnya. (gus/one)
Editor : Jawanto Arifin