PROBOLINGGO–SMA Negeri 3 Kota Probolinggo punya cara unik untuk menumbuhkan rasa cinta tanah air memperingati HUT ke-80 RI. Yaitu, dengan lebih peduli terhadap lingkungan.
Jumat pagi (15/8), ratusan peserta didik SMA Negeri 3 Kota Probolinggo pawai dengan menampilkan gaun daur ulang sebagai maskotnya.
Gaun-gaun itu hasil kreativitas dan kekompakan masing-masing kelas. Total ada 24 maskot yang ditampilkan mewakili rombongan belajar mulai dari kelas X hingga XII.
Tepat pukul 7.30, pemotongan pita menandai dilepasnya pawai pagi itu. Peserta berkeliling menelusuri rute kurang lebih 2 km. Pawai ini membangkitkan minat masyarakat untuk lebih perduli terhadap pelestarian lingkungan.
Seperti namanya, gaun sengaja dibuat dari bahan-bahan bekas. Mulai kardus, koran bekas, kantong plastik, botol plastik, gelas plastic, dan sebagainya.
Meski menggunakan barang-barang bekas, namun gaun yang dihasilkan begitu unik dan estetik, layaknya gaun festival.
Kepala SMA Negeri 3 Kota Probolinggo Khairul Anam, S.Si , S.Pd, melalui Wakil Kepala (Waka) Humas Muhammad Zaiful Bahri mengaku, pawai gaun berbahan daur ulang sudah menjadi agenda tahunan bagi SMA Negeri 3 Kota Probolinggo. Bahkan, tiap tahun kegiatan itu dilombakan.
“Jadi setiap tahun, peserta didik kami menghasilkan karya. Kami nilai mulai dari proses pembuatannya, bahan yang digunakan apakah benar-benar dari barang bekas, konsep desain gaun, kekompakan kelas membuat gaun tersebut, hingga hasil akhir. Jadi kreativitasnya memang tergantung masing-masing kelas.” ungkap Bahri.
Menurut Bahri, kegiatan tersebut menumbuhkan gotong royong, tanggung jawab, dan kemandirian peserta didik.
Sebab, tak hanya lomba gaun berbahan daur ulang, ada pula lomba yel-yel dan lomba kebersihan kelas yang semua panitianya adalah peserta didik senior kelas XII. Sementara, guru bertindak sebagai jurinya.
Usai pawai, semua ikon kelas pun perform. Bak model profesional, mereka berlenggak lenggok ala red carpet. Riuh suporter yang tak lain teman kelas menjadi penyemangat tersendiri di tengah terik yang semakin menyengat. Mereka semua begitu antusias.
Melalui lomba gaun daur ulang ini, peserta didik SMA Negeri 3 bukan hanya menjadi pelopor perubahan bagi sekolah.
Namun, juga menginspirasi kesadaran lingkungan di kalangan masyarakat. Sebab, semua gaun merupakan daur ulang, menujukkan bahwa barang-barang bekas di sekitar masih dapat digunakan kembali dengan cara kreatif dan estetik.
“Kami berharap upaya ini bisa membangkitkan minat masyarakat untuk lebih perduli terhadap pelestarian lingkungan. Ini juga cara peserta didik untuk membuka kesadaran masyarakat agar lebih memperhatikan dampak atas sampah yang dihasilkan. Sekaligus mencari cara-cara baru untuk mengurangi sampah,” ungkap Bahri. (el/adv)
Editor : Muhammad Fahmi