DINAS Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kota Probolinggo terus berupaya agar Museum Probolinggo semakin dikenal luas. Salah satunya dengan melibatkan dunia pendidikan di bawah naungannya.
Untuk kali pertama, Disdikbud menggelar 500 Anak Belajar Bersama di Museum. Kegiatan ini berlangung di Museum Probolinggo selama 3 hari. Mulai Selasa-Kamis (29-31/7). Selama 3 hari itu, 500 pelajar berkesempatan berkunjung ke Museum Probolinggo. Mereka para siswa-siswi dari jenjang SD dan MI di sekitar Museum Probolinggo.
Kunjungan pada hari pertama dimulai dari SDN Mayangan 1, SDN Tisnonegaran 1, dan SD IT Permata. Pada hari kedua, ada SDN Kebonsari Kulon 1, SDN Jati 1, dan SDK Mater Dei. Selanjutnya, pada hari ketiga ada MI Muhammadiyah 1, SDN Sukabumi 4, dan SDN Mangunharjo 7.
Berbekal alat tulis yang sudah disiapkan Disdikbud, mereka begitu antusias mencatat apa yang dijelaskan oleh pemandu museum. Bukan saja mengenal apa saja koleksi-koleksi di museum, berkunjung ke Museum Probolinggo bisa mengenal sejarah Kota Probolinggo dari masa ke masa.
Bahkan, di museum juga dipamerkan salah satu kekayaan budaya Kota Probolinggo yang sudah diakui secara nasional. Yakni, penetapan Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) Jaran Bodhag. Puncaknya, usai diajak berkeliling Museum, sejumlah siswa-siswi yang bisa menjawab pertanyaan seputar museum langsung diberikan door prize.
Kepala Disdikbud Kota Probolinggo Dr. Siti Romlah, S.Si., M.Pd., menegaskan, belajar itu bisa di mana saja, tidak harus duduk di kelas. Belajar tentang Museum Probolinggo dengan datang langsung. Anak-anak mencermati satu persatu beragam koleksi museum. Justru belajar yang seperti ini yang lebih mengena ke anak-anak.
“Tidak semua kota memiliki museum. Iya apa tidak? Maka siapa lagi yang bisa memajukan Kota Probolinggo kalau bukan generasi muda. Itulah mengapa, kita patut berbangga, Kota Probolinggo memiliki museum. Dengan museum kita bisa mengetahui sejarah, mengetahui apa saja yang dimiliki Kota Probolinggo. Belajar bersama seperti ini tentu memberikan pengalaman tersendiri bagi anak-anak, sehingga tumbuh rasa bangga dan meningkatkan kecintaan terhadap Kota Probolinggo,” ujar Dr. Siti Romlah. (adv/el)
Editor : Ronald Fernando